Bagikan:

JAKARTA - Keberadaan sponsor dalam gelaran musik jadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Pemantiknya adalah penolakan beberapa musisi untuk tampil di Pestapora 2025 karena PT Freeport Indonesia menjadi salah satu sponsor yang mendukung acara.

Banyak penampil mundur karena merasa memiliki nilai-nilai yang bertolak belakang dengan Freeport. Sebagai respon, penyelenggara pun memutus kerja sama dengan perusahaan yang berbasis di Tanah Papua tersebut.

Meski Pestapora sudah selesai, dampak dan pembahasan mengenai keberadaan sponsor yang mendukung gelaran musik masih terus berlanjut. David Karto selaku Director of Festival Synchronize Fest bahkan menyebut beberapa manajemen yang mewakili penampil mengajukan pertanyaan spesifik mengenai siapa saja sponsor yang terlibat.

Menanggapi polemik sponsor dalam gelaran musik, David sendiri melihat permasalahan utama di Indonesia adalah sulitnya bagi para promotor untuk mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket. Hal tersebut berimbas pada kebutuhan akan dukungan sponsor.

“Kalau kita boleh sedikit jujur, ruang pertunjukan dengan nilai rupiah itu belum berbanding menjadi bisnis yang sustain,” kata David saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan baru-baru ini.

“Makanya kalau kita anggap (pemasukan dari) tiket 40 persen, berarti sponsor masih 60 persen,” lanjutnya. “Kita berharap tiket bisa 70 persen.”

Berkaca dari banyak gelaran musik besar di dunia, khususnya di dunia belahan barat, kata David, sponsor yang hadir tidak terlalu banyak. Namun, pemasukan yang didapat dari penjualan tiket termasuk besar.

“Bayangin Glastonbury penontonnya kalau enggak salah bisa sampai 1 juta. Gila ya,” ujar David.

“Ya kontekstualnya memang Indonesia masih terus bereskalasi dan belajar bagaimana membuat festival yang sehat lah atau lebih green,” sambungnya. “Tapi kerja sama dengan siapapun tetap terbuka, karena hal-hal yang menjadi support itu sudah pasti dibutuhkan.”

Pasalnya, kata David, festival musik besar juga membutuhkan dana besar dalam keproduksiannya.

“Meskipun festival di-support penonton seratus persen dari (penjualan) tiketnya, keyakinan saya belum tentu cukup untuk menutupi produksi. Karena pasti di luar itu ada irisan yang lain juga,” tandasnya.