Bagikan:

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru saja datang meninjau proses pembelajaran program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang berlangsung di Jaya Suprana Institute, Jakarta, Minggu, 3 Agustus. Ia menyapa peserta residensi musik keroncong yang belajar langsung dari legenda keroncong Tanah Air, Sundari Soekotjo.

“Musik keroncong adalah jiwa Indonesia. Ia lahir dari akulturasi, namun tumbuh dan berkembang sebagai milik bangsa ini. Saya sendiri mengoleksi piringan hitam lagu-lagu keroncong lawas, termasuk versi instrumental Indonesia Raya tahun 1928,” ujar Fadli Zon dalam siaran tertulisnya, 4 Agustus.

Program BBM membuka ruang dan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para maestro seni. Tahun ini, 60 seniman muda dari 189 perguruan tinggi di 31 provinsi terpilih dari 573 pendaftar. Mereka menjalani residensi penuh sejak 20 Juli hingga 18 Agustus 2025.

Di luar musik keroncong, program ini juga menghadirkan maestro lain seperti Gus TF Sakai (sastra), Ki Purbo Asmoro (pedalangan), Iman Soleh (teater), Didik Nini Thowok (tari), dan Nasirun (lukis). Para peserta tak hanya belajar teknik seni, tapi juga tinggal bersama maestro selama tiga minggu.

Regenerasi penikmat, terlebih pelaku seni jadi harapan yang coba dibangun melalui program ini. 

“Anak-anak muda ini adalah jembatan. Mereka akan mewarisi bukan hanya keterampilan, tapi juga semangat para maestro. Suatu saat nanti, keroncong bisa menjadi kontribusi Indonesia untuk peradaban dunia,” katanya.

Dalam kunjungan itu, hadir pula Dirjen Pelindungan Kebudayaan Restu Gunawan, Staf Ahli Ismunandar, serta tuan rumah Jaya Suprana.

BBM tak sekadar program pewarisan. Para peserta ditantang menghasilkan karya mandiri maupun kolaboratif, yang akan dipresentasikan dalam Panen Karya. Ini bukan hanya soal belajar, tapi menciptakan. Warisan tak berhenti diwariskan — ia harus dihidupkan kembali.