JAKARTA - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenkebud RI) meluncurkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) sebagai upaya serius mendekatkan seni kepada generasi muda melalui interaksi langsung.
GSMS akan melibatkan 220 seniman lokal yang menyebar di 224 sekolah pada 27 daerah. Program ink berlangsung mulai 28 Jul hingga 28 November mendatang.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, para peserta didik untuk program ini meliputi siswa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Luar Biasa (SLB), di mana mereka akan mempelajari seni yang bukan hanya teori, melainkan praktik langsung.
“Seni bukan sekadar materi pelajaran. Ini soal pengalaman, nilai estetika, dan semangat kebersamaan,” kata Fadli seusai peresmian GSMS di Kompleks Kemendikbudristek, Jakarta Pusat pada Rabu, 9 Juli.
Fadli melanjutkan, program ini juga jadi salah satu cara Kemenkebud dalam memberdayakan para seniman lokal, sekaligus menjembatani mereka dengan para penerus seni budaya setempat.
“Ada juga kadang-kadang situasi dan kondisi para seniman kesulitan masuk ke sekolah, kalau tidak ada satu program yang memang terencana dengan baik seperti ini,” ujar Fadli.
“Jadi, ini kesempatan untuk menjembatani antara kebudayaan dengan senimannya—memberdayakan seniman-seniman lokal dengan sekolah-sekolah yang memang membutuhkan sentuhan-sentuhan dari seniman atau budayawan setempat,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Merambah seni budaya lewat sekolah menjadi penting. Pasalnya, kata Fadli, di sanalah terdapat bibit talenta seni yang berguna bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan.
“Tentu senimannya dipilih, dan ada guru-guru pendamping untuk para seniman itu, yang diharapkan ini bisa men-trigger dan menstimulasi hidupnya seni budaya—di sekolah itu paling tidak—yang merupakan sumber bibit-bibit talenta seni yang ada di situ,” tutur Fadli.
“Setelah itu tentu kita akan membuat para alumni itu sebagai jejaring—para peserta yang sudah mendapatkan keuntungan dari program ini—dan kita harapkan bisa ada satu keberlanjutan di dalam sebuah networking.”
Di samping itu, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa program ini juga ditujukan untuk membangun karakter para siswa.
“Tidak semua harus jadi seniman. Tapi mereka harus mengenal dan mencintai kebudayaan,” pungkas Restu.
Selain GSMS, Kemenkebud juga meluncurkan program Belajar Bersama Maestro (BBM), di mana 60 seniman muda mendapat kesempatan belajar langsung dari para ahli, meliputi Sundari Soekotjo (penyanyi keroncong), Didik Nini Thowok (penari dan koreografer), Ki Purbo Asmoro (dalang), Gus tf Sakai (penyair), Nasirun (pelukis), dan Iman Soleh (seniman teater).