Bagikan:

JAKARTA - Sammy Simorangkir mengungkap salah satu penyesalannya selama tergabung dalam Kerispatih, saat menjadi saksi dalam sidang uji materiil Undang-Undang Hak Cipta di Mahkamah Konstitusi pekan ini.

Penyanyi 42 tahun itu mengatakan, Kerispatih memutuskan untuk merekam dan merilis lagu-lagu ciptaan Badai karena sang kibordis jadi yang paling tua di antara personel lain.

“Waktu itu, keputusan kami pilih supaya tidak ada potensi untuk saling berdebat, kita pilih lagu yang dituakan di band itu, saudara Badai,” kata Sammy.

Sialnya, Sammy harus menerima kenyataan dikeluarkan dari band. Bahkan ia dilarang membawakan lagu-lagu Kerispatih setelah bersolo karier.

Namun saat ditanya mengenai posisi yang lebih menguntungkan antara penulis lagu dengan penyanyi, Sammy berkaca dari kasus Kerispatih dan menyebut penulis lagu lebih menguntungkan.

“Bahkan kalau saya tidak salah, waktu saya mendirikan band itu (Kerispatih), siapa yang menciptakan lagu paling banyak ya memang mendapatkan royalti yang paling banyak,” tuturnya.

Melihat posisi penulis lagu yang lebih diuntungkan, terlebih dengan sengkarut soal hak cipta dewasa ini, Sammy mengaku menyesal karena tidak memperjuangkan lagu ciptaannya untuk dirilis bersama Kerispatih.

“Tahu gitu dulu kita debat habis-habisan, siapa yang lagunya mau dipakai. Karena waktu itu kami masih baru, kami masih baru di dunia itu, ya kami hanya, ‘Sudahlah, lagu yang kita tuakan saja lah, biar kita tidak banyak berdebat, biar band ini juga langgeng, enggak ribut-ribut,” ujar penyanyi berdarah Batak itu.

“Tapi kalau tahunya begini, saya dulu mau berdebat, Yang Mulia. Karena saya juga mau lagu saya yang dipakai. Kalau saya tahu ternyata royaltinya jomplang sekali dengan yang hak terkait,” pungkasnya.