JAKARTA - Figur publik yang saat ini menjabat Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Chandra, buka suara terkait penolakan dari organisasi masyarakat (ormas) Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Al Mumtaz) terhadap penampilan Hindia di wilayah mereka.
Seperti diketahui, Hindia jadi salah satu line up dalam gelaran Ruang Bermusik yang akan dilangsungkan di Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya pada 19 dan 20 Juli mendatang.
Penolakan terhadap proyek solo Baskara Putra itu dikarenakan citra Hindia yang dirasa memiliki keterkaitan dengan simbol dan ajaran satanisme.
Atas persoalan tersebut, Dicky berharap forum diskusi yang sudah digelar dapat mencapai kesepakatan yang menguntungkan dan menampung aspirasi dari seluruh pihak.
“Saya berharap ada keputusan yang menjadikan win win solution. Mudah-mudahan itu yang terbaik, dan dijadikan pelajaran, supaya kedepan bisa lebih menjaga imej Kota Tasik, bisa tetap berkreasi tapi tanpa harus melanggar norma atau aturan-aturan,” kata Dicky Chandra kepada awak media baru-baru ini.
Dicky melanjutkan, koordinasi dan komunikasi yang baik harus dilakukan agar citra Kota Tasikmalaya tidak menjadi rusak akibat peristiwa ini. Dia juga menyatakan tidak ada pihak yang punya niatan buruk di baliknya.
BACA JUGA:
“Saya tidak suudzon, dari ormas tidak anti terhadap konser, tapi mungkin lebih peduli kepada generasi bangsa supaya tidak rusak dari sisi apapun juga,” ujar Dicky.
“Di sisi lain, mereka (EO) juga tidak salah, karena memang tidak pernah ada salah apa-apa. Bahkan Hindia pernah (tampil) di sini, enggak ada masalah,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya itu berharap segala permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan kepala dingin.
“Mohon diselesaikan dengan kepala dingin, bahwasanya tidak ada niat buruk dari kedua belah pihak, tinggal menemukan solusi yang terbaik,” katanya.
“Ke depan memang harus sudah mulai diperbaiki lagi sistem pola komunikasinya, supaya tidak lagi ada hal seperti sekarang.”