JAKARTA - David Bayu sebagai penyanyi-penulis lagu mencoba melihat sisi positif dari perdebatan mengenai royalti musik yang menjadi sorotan di industri musik Indonesia beberapa waktu belakangan.
Menurut eks vokalis Naif, pro dan kontra yang muncul di kalangan insan musik Indonesia dapat menghasilkan suatu sistem yang lebih baik kedepan.
“Kalau nggak ada yang rame-rame ini ya gitu-gitu aja, nggak ada perubahannya juga. Harus ada yang rame-ramein. Jadi, bangsa Indonesia - orang-orangnya - jadi aware tentang betapa berharganya suatu karya cipta itu,” kata David Bayu di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Maret.
Menururnya, seluruh musisi - baik penyanyi maupun pencipta lagu - mempunyai haknya masing-masing. Permasalahan yang terjadi adalah akibat dari pemenuhan hak yang dirasa belum maksimal.
“Tapi mungkin yang lagi ramai adalah masalah hak cipta, yang memang selama ini para musisi dan pencipta juga merasa kayak belum maksimal hasil yang didapat dari sistem yang sudah berjalan,” ujarnya.
David sendiri tergabung ke dalam Vibrasi Suara Indonesia (VISI), yang baru-baru ini memohonkan uji materi Undang-Undang No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UUHC) ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Adapun, beberapa hal yang ingin dipastikan oleh VISI meliputi: keharusan penyanyi mendapat izin dari pencipta lagu; siapa yang berkewajiban membayar royalti performing rights; besaran tarif royalti performing rights yang di luar mekanisme Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan tarif yang ditentukan oleh Peraturan Menteri; serta masalah wanprestasi pembayaran royalti performing rights.
BACA JUGA:
“Bahasa gampangnya buat kita para performer ataupun pencipta, yang penting fairness, jadi kita sama-sama senang,” katanya. “Pencipta juga membutuhkan penyanyi, penyanyi membutuhkan ciptaan. Tapi itu semua satu kesatuan, yang mana kalau itu saja bertentangan atau kontradiktif mulu, ya jadi nggak seru aja.”
Perkara hukum yang dijalani Ari Bias dan Agnez Mo saat ini, kata David, dapat dijadikan momentum agar industri musik Indonesia mau berbenah diri.
“Ya ampun, kita masih kalah banget sama negara tetangga Malaysia. Ini musiknya Indonesia gila nih potensinya, bagus-bagus banget. Ini duitnya gede banget. Tapi kalau penciptanya miskin kan nggak fair juga. Jadi ya tolong sistemnya diperbaiki, untuk karya-karya Indonesia yang semakin lebih baik lagi,” pungkasnya.