Bagikan:

JAKARTA – Honda Motor Co., Ltd. mencatat penurunan laba operasi sebesar 25 persen pada kuartal II (Juli–September) tahun fiskal 2025/2026. Laba operasi produsen mobil asal Jepang itu tercatat sebesar 194 miliar yen, turun dari 257,9 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Wakil Presiden Honda Noriya Kaihara, mengatakan penurunan tersebut terutama disebabkan oleh beban satu kali terkait kendaraan listrik (EV), penurunan penjualan di Asia termasuk China, serta gangguan pasokan semikonduktor dari pemasok utama.

Honda juga memangkas proyeksi laba operasi tahunan hingga Maret 2026 menjadi 550 miliar yen, turun sekitar 21 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 700 miliar yen. Seperti dilansir dari Reuters, Sabtu, 8 November.

Selain itu, Honda memperkirakan bahwa penjualan kendaraan listrik global pada tahun 2030 hanya akan mencapai sekitar 20 persen dari total penjualan, lebih rendah dari target awal 30 persen. Di kawasan Asia, termasuk China, target penjualan pun direvisi dari 1,09 juta unit menjadi 925.000 unit.

Kaihara mengakui bahwa persaingan yang semakin ketat dari produsen otomotif China di Asia Tenggara membuat para pembuat mobil harus memberikan lebih banyak insentif atau menurunkan harga jual kendaraan.

“Kami menyadari bahwa peninjauan mendasar diperlukan untuk Asia,” ucapnya sambil menekankan bahwa tidak ada peluncuran model baru yang signifikan dalam waktu dekat.

Dengan tantangan mulai dari beban biaya kendaraan listrik, persaingan ketat di pasar Asia, hingga kekurangan chip semikonduktor, Honda kini berupaya menata ulang strategi globalnya. Fokus utama perusahaan ke depan adalah menjaga efisiensi biaya, memperkuat rantai pasok, serta meninjau ulang strategi kendaraan listrik agar tetap kompetitif di tengah tekanan pasar yang meningkat.