Bagikan:

JAKARTA - Setelah 69 hari lamanya, pada 13 Oktober 2010 evakuasi 33 orang penambang yang terjebak di tambang emas dan tembaga yang runtuh berhasil dilakukan. Tambang San Jose itu dimiliki oleh San Esteban Primera Mining Company, terletak di Gurun Atacama, Chile, sekitar 80 km barat laut kota Copiapó dan sekitar 800 km utara Santiago.

Melansir Britannica, tambang runtuh pada 5 Agustus 2010, sekitar pukul 14:00 waktu setempat. Sehari sebelumnya sudah ada peringatan adanya gangguan, namun aktivitas tetap dilakukan. Tambang yang dibuka sejak 1889 itu menjadi lokasi banyak kecelakaan sebelumnya, termasuk ledakan pada 2007 yang menewaskan tiga penambang.

Pihak pengelola tidak banyak melakukan hal yang berarti untuk memperbaiki kondisi sebelum tambang tersebut diizinkan untuk melanjutkan penggalian oleh Layanan Geologi dan Pertambangan Nasional Chile (Sernageomin) pada 2008. Di dalam reruntuhan itu, ada 33 pekerja yang tertimbun. Di antaranya, 32 orang Chile dan satu orang Bolivia.

Sebagian besar adalah penambang, meskipun beberapa pekerja subkontrak juga ada yang terjebak. Tambang, yang berputar ke kedalaman gunung, memiliki kedalaman sekitar 800 meter.

Sebuah regu darurat setempat berusaha menyelamatkan mereka malam itu juga tetapi tidak berhasil. Menyusul kegagalan awal ini, Pemerintah Chile memerintahkan Codelco, perusahaan pertambangan milik negara, untuk mengoordinasikan upaya penyelamatan.

Pada 7 Agustus, keruntuhan kedua terjadi, menghalangi akses lubang yang direncanakan sebagai titik keluar bagi para pekerja. Hari berikutnya petugas penyelamat mulai melakukan pengeboran untuk membuat terowongan. 

Namun pencarian titik para pekerja berada rumit karena peta struktur tambang yang ketinggalan zaman. Pada 22 Agustus, salah satu dari sekitar 30 alat pengujian mendeteksi adanya gerakan. Ketika ditarik ke permukaan, sebuah catatan bertuliskan "Kami semua baik-baik saja." Sebuah perekam lalu dimasukkan melalui lubang kecil untuk mengkonfirmasi keadaan para pekerja. Titik di mana orang-orang itu terjebak adalah sekitar 700 meter dari permukaan tanah.

Para pekerja tambang bersama Presiden Chile Sebastian Pinera dan Ibu Negara Cecilia Morel (Foto: Wikimedia Commons)

Kehidupan di bawah tanah

Selama 17 hari awal, para pekerja tidak melakukan kontak dengan orang-orang di luar. Mereka hidup dari sisa persediaan ransum darurat untuk 2 hari makan. Persediaan air mereka peroleh dari mata air dan dari radiator.

Parahnya, beberapa pria terkena infeksi jamur karena kelembaban tinggi dan panas 35 °C. Beberapa juga menderita masalah mata dan pernapasan, tetapi mereka tidak mengalami luka-luka.

Pada 23 Agustus 2010, gel nutrisi, air, dan perangkat komunikasi berhasil dimasukkan melalui lubang kecil. Untuk memastikan kelangsungan hidup para pekerja sampai mereka dapat dievakuasi, para ahli mulai dari spesialis kesehatan mental hingga ilmuwan NASA dibawa ke lokasi penambangan. Seiring berjalannya hari, makanan padat disalurkan melalui saluran tersebut, begitu pula persediaan P3K, alat-alat olahraga, dan perangkat penerangan.

Evakuasi baru mencapai titik terang pada 9 Oktober 2010. Pengeboran yang telah dilakukan begitu lama akhirnya menghasilkan terowongan yang dapat diakses.

Dua hari kemudian bagian atas terowongan dilapisi dengan pipa logam sebagai persiapan untuk pendakian para pekerja dalam kapsul logam yang dirancang khusus. Tepat 13 Oktober 2010 tengah malam, pekerja pertama berhasil dikeluarkan. Orang terakhir yang diselamatkan adalah seorang supervisor yang mengatur orang-orang selama waktu mereka di bawah tanah.

Evakuasi pekerja tambang (Sumber: Wikimedia Commons)

Trauma berkepanjangan

Penyelamatan para pekerja tambang dirayakan baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka memiliki jaminan enam bulan perawatan kesehatan dan diterbangkan ke tujuan internasional untuk penampilan media dan tur. Beberapa pekerja akhirnya menjadi pembicara motivasi.

Namun, ketika tawaran dan perhatian mereda, masalah para penambang terlihat jelas. Banyak yang mengalami kesulitan dalam mengatasi efek samping dari trauma.

Beberapa anggota keluarga korban mengungkapkan para pekerja tambang berubah secara permanen. Beberapa dari mereka menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan. Perawatan kesehatan mental yang disubsidi pemerintah dicabut setelah mereka melewatkan janji untuk bepergian.

Pada Maret 2011 sebuah komisi kongres menyalahkan insiden runtuh pada pemilik tambang dan Layanan Geologi dan Pertambangan Nasional Chile. Dua penambang mengajukan gugatan kolektif terhadap pemerintah pada Juli 2011, masing-masing meminta lebih dari setengah juta dolar. Pemilik perusahaan tambang lalu setuju untuk mengganti uang pemerintah sekitar seperempat dari biaya penyelamatan pada Maret 2012.

Pada Agustus 2013, jaksa memutuskan baik Layanan Geologi dan Pertambangan Nasional Chile maupun pemilik tambang tidak menanggung beban apapun. Tanggung jawab pidana atas kecelakaan tersebut, mengurangi jalur hukum penambang ke gugatan perdata. Perusahaan pertambangan tersebut akhirnya menjual tambang San Jose yang sekarang ditutup untuk membayar para penambang dan mengganti biaya upaya penyelamatan kepada pemerintah Chile. 

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

SEJARAH HARI INI Lainnya