Bagikan:

JAKARTA - Tiada yang meragukan karisma Soekarno sebagai Presiden Indonesia pertama. Puja-puji kerap hadir selama kepemimpinannya. Retorikanya menggelegar. Bung Karno mampu membuat rakyat bangga dengan Keindonesiaannya.

Semuanya berubah kala Bung Karno mulai dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI dan kelompok asal bapak senang (ABS). Bung Karno mulai didorong jadi presiden seumur hidup. Kondisi itu membuat kecaman muncul di mana-mana. Iffet Veceha Sidharta atau yang lebih dikenal Bunda Iffet tak mau ketinggalan kritik Bung Karno.

Perjuangan Bung Karno membawa Indonesia merdeka tak mudah. Ia mengorban segalanya untuk perjuangan. Penjara dan pengasingan pernah dirasakannya. Perjuangan cukup berat yang dilaluinya baru terbalaskan kala Indonesia merdeka pada 1945.

Segenap rakyat Indonesia pun menjadikannya Presiden Indonesia yang pertama. Semuanya didasarkan oleh pandangan tiada yang mampu menyatukan rakyat Indonesia selain Bung Karno. Ia diyakini sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Kepemimpinannya lalu dibanggakan ke mana-mana. Karismanya memikat banyak orang. Ia dikenang luas sebagai pemimpin terbaik yang pernah memimpin Indonesia. Namun, bukan berarti kepemimpinan Bung Karno tanpa masalah.

Bunda Iffet memberikan keterangan menjelang sebuah konser Slank. (ANTARA)

Bung Karno selepas Belanda mengakui kedaultan Indonesia sedari 1949 mulai menjalankan misi besarnya: proyek mercusuar. Proyek itu digelorakan supaya Indonesia dikenal dunia sebagai bangsa besar.

Tiada yang berani menolak ambisi Bung Karno. Barang siapa yang menolak, niscaya akan disingkirkan dalam peta politik. Suatu narasi yang menggambarkan Bung Karno berubah jadi pemimpin otoriter.

Kondisi itu membuat kelompok ABS bertumbuh. Mereka hanya meyampaikan apa yang ingin didengar Bung Karno -- demi supaya dapat untung dan tempat dalam kekuasaan. Sedang suara ketidakadilan terkait kondisi rakyat yang miskin tak pernah jadi prioritas.

ABS pula yang membuat Bung Karno merasa percaya diri untuk terus memimpin Indonesia. Belakangan keinginan itu diwujudkan dengan hadirnya narasi presiden seumur hidup lewat Ketetapan MPRS No. III/MPRS tahun 1963.

“Saya tak heran jika kelak MPRS ambil keputusan mengangkat Presiden Soekarno jadi Presiden seumur hidup. Dalam segala-galanya Soekarno kini (dianggap) hebat. Kongres Petani ke VI di Semarang memberikan Bintang Bapak Tani Indonesia kepada Soekarno sebagai tanda pernyataan terima kasih yang sebesar-besarnya dari kaum tani. Soekarno telah membuat Tentara tidak berkutik lagi.”

“Hapuskan SOB (status keadaan perang), perintah Soekarno. Siap, kata Tentara. Potong anggaran, perintah Soekarno. Siap, kata Tentara. Sukarno kabarnya sedang berusaha menyusun kekuatan pengimbang yang baru terhadap PKI bilamana nanti Tentara dalam masa setelah dicabutnya SOB berkurang peranannya sebagai tenaga pengimbang,” ungkap Rosihan Anwar dalam buku Sukarno, tentara, PKI (2006).

Kritik Bung Karno

Kritik terhadap keinginan Bung Karno jadi presiden seumur hidup muncul di mana-mana. Kepemimpinan Bung Karno mulai dianggap tak menyejahterakan rakyat. Ada pula yang menganggap Bung Karno terlalu lama berkuasa.

Kondisi itu disuarakan banyak orang. Bunda Iffet jadi salah satu yang bernyali. Ibunda dari Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim Slank) yang merasakan manis pahitnya era Orde Lama merasa Bung Karno sudah berkuasa terlalu lama. Ia menganggap Bung Karno harusnya sudah berhenti dan beri ruang tokoh lain pimpin Indonesia.

Bung Karno diyakini hanya mengikuti kata pembisiknya saja. Mereka terus memberikan masukan jika rakyat masih menginginkan Bung Karno. Padahal, kondisi rakyat di bawah bendera Orde Lama sedang tidak baik-baik saja.

Kepemimpinan yang dipaksakan dianggap Bunda Iffet dekat dengan petaka. Suatu saat Sang Presiden bisa terperosok. Benar saja. Apa yang digambarkan Bunda Iffet kala itu kejadian. Bung Karno yang dijadikan presiden seumur hidup justru terperosok akibat dekat dengan partai Komunis Indonesia (PKI).

Belakangan kiprah Bung Karno pun berakhir seiring populernya Soeharto. Kondisi itu membuat pengaruh Bung Karno mulai perlahan-lahan menghilang. Akhirnya, Soeharto dan Orde Baru jadi penguasa Indonesia yang baru. Sekalipun hal sama diulang kembali Soeharto pada era 1998.

“Tapi, menurut Bunda kalau jadi presiden itu jangan terlalu lama. Kalau merasa berat untuk memimpin, kayaknya lebih baik satu periode aja. Tentu turunnya enak dan akan masuk sejarahnya juga dengan baik. Kita tidak usah terpengaruh oleh orang-orang yang ambisi dan ABS.”

“Akhirnya nama sendiri terperosok. Sebenarnya, belum tentu pemimpin yang dibujuk itu masih bersedia. Tapi, karena dikatakan rakyat masih menginginkan, dengan rayuan-rayuan, akhirnya gugurnya secara terpaksa. Sakit, kan?” ujar Bunda Iffet dalam bukunya Bundaku sayang: Keluarga, Slank, dan Bangsa Indonesia (2004).