JAKARTA - Konflik di Timur Tengah tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga mengancam keberlangsungan warisan budaya. Dalam situasi perang, situs bersejarah hingga tradisi yang hidup di tengah masyarakat berada dalam risiko besar untuk rusak atau bahkan hilang.
Melihat hal itu, menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyampaikan bahwa eskalasi kekerasan di Timur Tengah membawa dampak luas, termasuk terhadap keberadaan warisan budaya.
"Situasi ini tidak hanya menempatkan warga sipil dalam risiko yang kian besar, tetapi juga mengancam warisan budaya, baik situs dan cagar budaya maupun warisan budaya takbenda di seluruh kawasan,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA, 1 April.
Ia menjelaskan bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga mengikis nilai-nilai dan identitas yang telah diwariskan secara turun-temurun.
BACA JUGA:
Menurutnya, pelindungan warisan budaya dalam kondisi konflik bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga kewajiban hukum internasional, sebagaimana diatur dalam berbagai konvensi global.
“Setiap penghancuran, perusakan, atau penyalahgunaan terhadap kekayaan budaya dalam konflik akan melemahkan sendi-sendi sosial masyarakat, memperdalam trauma, serta merusak peluang bagi perdamaian,” tegasnya.
Kementerian Kebudayaan RI pun mengimbau semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional serta menjaga keamanan personel penjaga perdamaian dan situs budaya dari berbagai ancaman, termasuk serangan, vandalisme, dan penjarahan.
Pemerintah Indonesia juga mendukung upaya internasional, termasuk yang dilakukan oleh UNESCO, dalam memperkuat langkah-langkah perlindungan terhadap situs budaya yang berada dalam kondisi rentan.
Selain itu, Menbud menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan, serta mendoakan kesembuhan bagi personel yang terluka.
Ia juga menegaskan kecaman atas serangan yang dinilai membahayakan personel penjaga perdamaian, warga sipil, dan infrastruktur penting, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap warisan budaya di kawasan tersebut.