JAKARTA - Ramadan selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kehangatan di rumah. Selain momen kebersamaan, suasana dapur juga ikut hidup, aroma kue kering, aktivitas memanggang, hingga tradisi berbagi dengan keluarga dan tetangga. Salah satu kue yang hampir selalu hadir di meja adalah nastar, dengan ciri khas teksturnya yang lembut, isian nanas yang manis, dan tampilan mengilap yang menggoda.
Di tengah tradisi ini, muncul sosok yang identik dengan gaya khas dan kepercayaan diri tinggi, yaitu Nassar Fahad Ahmad Sungkar. Ia dikenal luas sebagai entertainer yang ekspresif dan penuh karakter. Kali ini, Nassar hadir dalam peran berbeda, bukan di atas panggung, melainkan sebagai simbol dari hasil nastar yang dianggap sempurna.
Penunjukan ini menjadi bagian dari kampanye bertema “MITO Jagonya Nastar”, yang membawa pesan sederhana, yakni membuat nastar berkualitas tinggi di rumah bukan lagi hal yang sulit. Sosok King Nassar dihadirkan sebagai representasi hasil akhir yang diinginkan yaitu nastar tidak retak, tampak mengilap, dan memiliki tekstur lembut yang pas.
Dalam konteks gaya hidup modern, aktivitas baking kini tidak lagi sekadar rutinitas dapur, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi diri. Banyak orang mulai menikmati proses membuat kue sebagai kegiatan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Dari memilih bahan, mengolah adonan, hingga melihat hasil akhir yang matang sempurna, semuanya memberi kepuasan tersendiri.
MITO Oven Fantasy 2 telah menjadi salah satu best seller oven selama 7 tahun berturut-turut. Oven ini juga menjadi andalan Pengusaha Kue Kering karena stabilitas suhu dan kemudahan dalam penggunaannya.
“Melalui kampanye MITO Jagonya Nastar, kami ingin menegaskan komitmen MITO untuk menghadirkan kemudahan dalam proses membuat kue kering berkualitas di dapur Indonesia. Kehadiran King of Nastar dalam kampanye ini menjadi simbol standar kualitas dalam setiap proses memanggang," kata Lana Lie, Direktur MITO Electronics, dikutip dari keterangan resmi MITO.
Dalam proses membuat nastar, ada beberapa hal yang sering menjadi tantangan. Salah satunya adalah menjaga suhu pemanggangan agar tetap stabil. Panas yang tidak merata bisa membuat bagian tertentu terlalu matang, sementara bagian lain masih belum sempurna. Karena itu, banyak orang mulai memperhatikan peralatan yang digunakan di dapur sebagai faktor penting dalam menentukan hasil akhir.
Selain itu, proses mencampur adonan juga memegang peranan besar. Tekstur nastar yang lembut dan tidak mudah retak bergantung pada adonan yang tercampur secara merata. Kecepatan dan konsistensi dalam mengolah bahan menjadi kunci agar hasilnya sesuai harapan.
Menariknya tren baking di rumah juga semakin berkembang. Tidak hanya nastar, banyak orang mulai mencoba berbagai jenis kue lain, mulai dari kue kering klasik hingga roti dan dessert modern. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan menjelang hari raya, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan atau hobi harian.
BACA JUGA:
Di sinilah peralatan dapur mulai mengambil peran lebih dari sekadar alat bantu. Fungsinya berkembang menjadi pendukung gaya hidup, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan hasil maksimal tanpa harus melalui proses yang rumit.
Di tengah meningkatnya minat ini, berbagai inovasi pada peralatan baking pun terus berkembang. Mulai dari teknologi pemanas yang lebih merata hingga alat pencampur dengan performa stabil, semuanya dirancang untuk membantu menghasilkan kue dengan kualitas yang lebih konsisten.
Pada akhirnya, membuat nastar bukan hanya soal mengikuti resep. Ada sentuhan personal, pengalaman, dan juga pilihan alat yang digunakan. Semua itu berpadu menjadi satu proses yang menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar kue, melainkan bagian dari tradisi, kebahagiaan, dan cerita di setiap rumah selama bulan Ramadhan.