Bagikan:

YOGYKARTA - Sarkem Fest atau Festival Pasar Kembang menjadi event budaya dalam tradisi ruwahan yang digelar Kalurahan Sosromenduran, Yogyakarta, Jumat, 13 Februari 2026. Festival ditandai dengan kirab budaya berupa arak-arakan gunungan apem tetapi ada pula pentas musik jazz di depan Stasiun Tugu.

Festival budaya tradisional dan modern berpadu dalam Sarkem Fest menyambut bulan suci Ramadan yang menjadi perhatian tidak hanya turis lokal tetapi juga asing.

Apalagi festival digelar di sebuah kelurahan yang menjadi salah satu pusat penginapan para turis backpacker karena harganya yang relatif murah bagi kantong turis asing.

Bahkan di situ ada Jalan Sosrowijayan yang merupakan ikon turis karena menyediakan hotel atau tempat penginapan. Termasuk rumah-rumah yang disulap menjadi penginapan, resto dan bar serta coffee shop.

Sarkem Fest merupakan event budaya yang rutin digelar setiap tahun. Hanya tahun ini nyaris tak bisa dilaksanakan karena efisiensi anggaran. Namun Ipung Purwandari, tokoh masyarakat, yang juga menjadi Ketua Kampung Wisata Menduran, berupaya agar Sarkem Fest tetap digelar.

Upaya itu membuahkan hasil karena festival bisa digelar mulai pukul 06.00 WIB hingga 23.00 WIB atau 11 malam. Sarkem Fest merupakan kolaborasi antara Dinas Pariwisata, Kemantren Gedongtengen, Kelurahan Sosromenduran, industri perhotelan, Insan Pariwisata Indonesia (IPI), dan Kampung Wisata Sosromenduran.

Sarkem Fest yang sudah memasuki usia kedelapan ini mengangkat tradisi warga Sosromenduran setiap menjelang Ramadan, yakni tradisi Ruwahan yang identik dengan apeman.

Ruwahan merupakan budaya masyarakat Jawa untuk menyambut Ramadhan, dilaksanakan pada bulan Ruwah/Sya'ban dalam penanggalan Jawa/Hijriah. Tradisi ini melestarikan silaturahmi, sedekah, dan menjadi simbol pembersihan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Berbagai acara pun digelar, di antaranya pembuatan apem, kenduri ruwatan, jazztrian di kawasan Pasar Kembang, band & dance performance dan puncaknya kirab gunungan apem. Selama kirab ada 1.000 apem yang dibagikan ke masyarakat.

Festival dengan kegiatan pembuatan apem. Mengapa apem? Selain penganan tradisional, apem sesungguhnya berasal dari kata afwan yang berarti memata maaf. Selain apem, tersedia kolak dari kata khalik yaitu sang Pencipta.

Bahwa manusia harus mendekatkan diri dengan sang Pencipta yang tak lain Allah. Sedangkan ketan seperti bentuknya yang lengket atau rekat memiliki makna merekatkan atau menjadi momen silaturahmi keluarga dan masyarakat.

“Hasil dari pembuatan apem di pagi hari kemudian dijadikan gunungan apem. Selanjutnya dilaksanakan kirab gunungan apem. Selama kirab, apem dibagikan,” kata Ipung.

“Ini merupakan event budaya tahunan yang memang harus dipertahankan. Semula Sarkem Fest hendak ditiadakan karena ada efisiensi anggaran. Namun kami berupaya agar tetap dilaksanakan. Apalagi event ini menjadikan masyarakat kian guyup. Ini juga mgnjadi momen ucapan syukur kita kepada Tuhan. Kita juga membersihkan diri saat memasuki bulan Ramadan,” ujar perempuan yang juga anggota DPRD Kota Yogyakarta ini.

Sementara, Asisten Perekonomian dan PembangunanKota Yogyakarta Kadri Renggono menyambut terselenggaranya Sarkem Fest yang melibatkan komunitas dan pengusaha di Pasar Kembang.

“Kami juga berharap ada pembaruan dalam rangka kegiatan Sarkem Fest yang bisa meningkatkan pariwisata. Event ini juga menjadikan turis bisa lebih lama menetap di Yogyakarta. Kita berharap spending time wisatawan bila lebih lama karena itu bisa meningkatkan ekonomi,” kata Kadri Renggono.