JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pemerintah tengah mempercepat implementasi sistem pendidikan spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based). Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan jumlah dokter spesialis yang sangat minim, terutama di daerah Terluar, Terdepan, dan Terpencil (3T).
Poin Penting Kebijakan:
Akselerasi Produksi: Indonesia saat ini hanya mencetak 2.700 dokter spesialis per tahun, padahal butuh 32.000 dokter untuk mencapai angka ideal.
Prioritas Putra Daerah: Sistem ini memprioritaskan dokter umum dari daerah. Mereka dapat menempuh pendidikan spesialis tanpa biaya kuliah sepeser pun.
Fokus Penyakit Katastropik: Pemerataan dokter spesialis mendesak dilakukan untuk menangani penyakit kritis seperti kanker, jantung, stroke, dan gagal ginjal.
BACA JUGA:
Standar Internasional: Pendidikan akan mengadopsi model global, di mana calon spesialis mendapatkan pendampingan langsung dari konsulen di rumah sakit tanpa beban biaya tinggi.
"Kita bikin sistem ini agar putra-putri daerah bisa jadi spesialis dengan gratis. Jika tidak, kasihan masyarakat di daerah meninggal hanya karena tidak ada dokter spesialis," ujar Menkes pada peringatan Hari Kanker Sedunia, Rabu (4/2) dikutip dari ANTARA.