JAKARTA – Rebecca Klopper kembali menunjukkan kebolehannya di dunia seni peran melalui film terbaru bertajuk AHLAN Singapore. Dalam proyek kali ini, aktris muda tersebut memerankan karakter Aisya, seorang perempuan dengan latar belakang emosional yang mendalam.
Bagi Rebecca, Aisya bukan sekadar peran biasa. Ada kedekatan personal, kemiripan nasib, hingga pelajaran hidup yang ia petik dari karakter tersebut. Secara eksklusif, Rebecca membedah bagaimana ia "menghidupkan" Aisya dan bagaimana karakter ini mencerminkan sebagian dari kehidupan nyatanya.
Mendeskripsikan karakter Aisya, Rebecca menyebutnya sebagai sosok yang penuh dengan lapisan (layers). Aisya digambarkan sebagai perempuan yang memiliki trauma masa kecil, namun tetap menjadi tulang punggung yang penuh kasih bagi keluarganya.

"Aisya itu kompleks. Dia sebenarnya sangat penyayang dan banyak berkorban untuk keluarga, tapi justru itu yang menghambat kebahagiaannya sendiri," ungkap Rebecca kepada VOI.
Meski kompleks, Rebecca mengaku sangat menyayangi karakter ini.
"Dia spesial karena jadi inspirasi aku untuk ambis di segala aspek. Dia pintar, dia provider buat keluarganya, dan ilmu agamanya pun mantap—jauh di atas aku. Aku merasa dia itu cuma sedikit misunderstood (di salah pahami) saja," tambahnya.
Menariknya, Rebecca merasa memiliki banyak titik temu dengan Aisya. Salah satu yang paling menonjol adalah peran mereka sebagai "provider" atau pencari nafkah bagi keluarga. Kalau Aisya harus merantau hingga ke Singapura untuk mengadu nasib, Rebecca merasakannya melalui padatnya jadwal pekerjaan di industri hiburan Jakarta.

"Yang relate adalah kami sama-sama sedikit banyak menjadi provider buat keluarga. Meski aku cuma di Jakarta, tapi karena tuntutan waktu, rasanya jadi jauh banget sama keluarga. Kayak seseorang yang lagi mengusahakan masa depan, tapi di saat yang sama pengen membahagiakan keluarga," tutur nya jujur.
Dalam naskah, Aisya diceritakan memiliki trauma masa kecil akibat sang ayah yang abusif. Rebecca tak menampik bahwa dirinya juga memiliki trauma masa kecil, namun ia menegaskan bahwa jenis trauma yang dialaminya berbeda dengan karakter Aisya.
Demi menjaga kesehatan mentalnya, Rebecca memilih untuk tidak mencampuradukkan trauma pribadinya dengan pekerjaan. Ia lebih memilih membangun narasi fiksi di kepalanya untuk mendalami emosi Aisya.
"Aku nggak punya orang tua yang abusif, jadi aku nggak terpicu (triggered). Menurutku, menyama-nyamakan trauma pribadi dengan karakter itu nggak sehat. Jadi, aku gali sendiri, aku karang background-nya, aku bikin 'film' sendiri di kepala aku soal masa kecil Aisya," jelas Rebecca mengenai metode aktingnya.
BACA JUGA:
Banyak yang mengenal Rebecca Klopper sebagai sosok yang ceria dan terbuka. Namun, siapa sangka bahwa dulunya ia adalah seorang yang sangat tertutup, mirip dengan sifat introvert Aisya.
"Dulu kalau nggak ada keperluan, aku syuting terus pulang. Judul ketiga sinetron baru aku punya teman. Sampai akhirnya diomelin mama, katanya nggak boleh kayak gitu. Sekarang malah keterusan jadi ekstrovert," kenangnya sambil tertawa.
Melalui perjalanan karakter Aisya, Rebecca Klopper mendapatkan sebuah pesan berharga yang juga ingin ia bagikan kepada para penggemarnya. Baginya, mencintai keluarga adalah keharusan, namun tidak boleh melupakan diri sendiri.
"Aku belajar kalau nggak apa-apa sekali-sekali memilih diri sendiri. Karena nggak selamanya pilihan orang yang sayang sama kita itu baik untuk kita. Kita yang paling tahu apa yang terbaik buat diri sendiri, jadi trust yourself," tutup Rebecca..
Melawan Overthinking dan 'Memaksa' Percaya Diri

Nama Rebecca Klopper sudah tidak asing lagi di telinga penikmat sinetron dan film layar lebar tanah air. Wajahnya telah wara-wiri di berbagai judul populer sejak usia belia.
Namun, di balik kesuksesannya saat ini, tersimpan cerita tentang pergulatan batin, rasa tidak percaya diri, hingga proses transformasi dari seorang gadis pemalu menjadi aktris yang haus akan tantangan.
Siapa sangka, ketertarikan Rebecca pada dunia akting awalnya bukan datang dari dirinya sendiri. Aktris kelahiran 2001 ini mengaku bahwa dorongan utama untuk terjun ke industri hiburan datang dari sang ibunda.
"Awal-awalnya sebenarnya aku nggak pengen syuting. Yang awalnya pengen aku syuting itu mama aku," kenang Rebecca.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menemukan "rumah" di lokasi syuting. Bukan hanya karena sorotan kamera, melainkan karena ekosistem kerja yang ia temui.
"Yang bikin aku bisa cinta banget dan nyaman ada di industri ini ya karena orang-orang di sekeliling aku. Aku merasa dikelilingi orang-orang yang passionate, itu memicu sesuatu di diri aku yang bikin aku merasa menyenangkan banget ada di sini," tambahnya.

Bagi Rebecca, kepuasan terbesar bukanlah popularitas, melainkan saat karyanya mampu menyentuh emosi penonton.
"Ternyata bisa ya aku menyentuh orang tanpa harus kenal secara langsung," ungkapnya.
Bicara soal Rebecca Klopper, sulit untuk tidak mengaitkannya dengan kesuksesan sinetron Mermaid In Love. Hingga saat ini, peran tersebut masih menjadi image yang paling melekat di benak penggemar. Alih-alih merasa terbebani dengan bayang-bayang peran lama, Rebecca justru merangkulnya dengan penuh rasa syukur.
"Aku embrace itu sampai sekarang. Wajar banget orang kenal aku dari situ, karena itu yang bikin aku bisa ada di sini hari ini," tuturnya. Baginya, proyek tersebut lebih dari sekadar pekerjaan; para pemainnya telah menjadi keluarga kedua yang rutin berkumpul setiap momen Lebaran.
Di balik penampilannya yang terlihat meyakinkan di depan layar, Rebecca mengakui bahwa ia sering terjebak dalam pusaran overthinking. Rasa takut tidak bisa memberikan performa maksimal (deliver) seringkali menghantuinya. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya.
"Mau nggak mau kepercayaan diri itu harus diada-adain meskipun nggak ada. Karena kalau nggak, jadinya aku nggak percaya sama karakter aku sendiri dan aku nggak bisa jujur dalam memerankannya," jelas Rebecca mengenai rahasia profesionalitasnya.

Saat ini, Rebecca tengah menjajal tantangan baru melalui film "AHLAN Singapore". Memerankan karakter Aisya yang berhijab diakuinya sebagai langkah besar untuk keluar dari zona nyaman. Sebelumnya, ia sempat merasa khawatir akan ekspektasi publik dan takut akan "dikotak-kotakkan" dalam satu jenis peran saja.
"Aku lumayan menghindari (peran berhijab) sebelumnya karena takut. Biasanya kalau sudah sekali berhijab, suka ditawarin berhijab terus. Tapi aku rasa makin ke sini harus belajar untuk get out of the box. Siapa tahu dari sini ilmu agama aku jadi lebih baik," katanya.
Setahun terakhir ini, Rebecca memang sengaja membuka diri untuk segala hal baru. Ia tak lagi mau membatasi potensinya hanya pada genre atau image tertentu.
Menatap masa depan, Rebecca Klopper tidak ingin berpuas diri. Ia sudah mengincar genre yang lebih menantang secara fisik dan mental. Genre thriller dan action menjadi daftar teratas dalam target kariernya.
"Aku pengen nyobain action beneran. Makanya di luar syuting aku berusaha mencoba semua hobi, barangkali nanti akan digunakan. Jadi aku berusaha tetap fit dan lihai dalam banyak hal, siapa tahu dapat karakter yang seru," pungkasnya dengan nada optimis.