JAKARTA – Industri film horor Tanah Air kembali bersiap menyambut kehadiran sosok legendaris dari jagat folklor, Buto Ijo. Namun, di balik penampilannya yang mengerikan dalam film Penunggu Rumah: Buto Ijo, tersimpan proses produksi yang ekstrem dan penuh risiko bagi para kru serta pemainnya.
Demi menghadirkan efek visual yang organik, tim produksi memutuskan untuk menggunakan live action dengan teknik practical effect yang masif. Kostum Buto Ijo dibuat full body dengan lapisan prostetik di hampir seluruh bagian tubuh aktor untuk memberikan kesan nyata dan hidup.
Dampak dari penggunaan prostetik total ini ternyata tidak main-main. Pratito Wibowo, aktor yang memerankan sosok Buto Ijo, harus berhadapan dengan kondisi fisik yang menguras energi. Kostum tersebut sangat berat, lengket, dan hampir tidak memiliki sirkulasi udara sama sekali.
Kondisi ini membuat Pratito kerap mengalami kesulitan bernapas saat proses pengambilan gambar berlangsung. Bahkan, meski syuting dilakukan di dalam studio ber-AC, panas yang terperangkap di dalam kostum membuat tubuh sang aktor tetap basah kuyup oleh keringat.
"Kami benar-benar harus ekstra hati-hati. Keselamatan aktor jadi prioritas. Kalau dipaksakan, apalagi di lokasi outdoor atau ruangan tanpa AC, risikonya terlalu besar," ungkap Gandhi Fernando, yang berperan sebagai aktor, produser, sekaligus penulis film ini dikutip VOI dari siaran media, Selasa, 13 Januari.
Demi menjaga kondisi kesehatan aktor, tim produksi membatasi durasi penggunaan kostum. Biasanya, kostum hanya boleh dipakai untuk satu hingga dua take saja sebelum akhirnya harus dilepas agar aktor bisa beristirahat dan mendinginkan suhu tubuh.
BACA JUGA:
Selain tantangan fisik, tim produksi juga menghadapi dilema dalam sisi desain. Buto Ijo selama ini sering kali divisualisasikan secara kartunis dalam berbagai cerita rakyat. Gandhi Fernando menjelaskan bahwa tantangan terbesarnya adalah mengubah citra tersebut menjadi sosok yang menyeramkan tanpa kehilangan identitas aslinya.
"Kita cari titik tengah. Harus tetap seram, tapi penonton masih merasa: ini Buto Ijo yang mereka kenal," jelas Gandhi.
Menariknya, film ini meminimalisir penggunaan CGI. Sentuhan efek digital hanya diberikan pada bagian mata untuk memberikan kesan merah yang hidup dan mengintimidasi, namun tetap terjaga agar tidak terlihat seperti karakter tokusatsu.
Dengan pendekatan yang serius dan desain yang berani, Penunggu Rumah: Buto Ijo diharapkan mampu memberikan pengalaman horor yang lebih membumi dan segar bagi pencinta film nasional.
Penunggu Rumah Buto Ijo dijadwalkan mulai meneror bioskop-bioskop pilihan di seluruh Indonesia mulai 15 Januari 2026.