JAKARTA - Memasuki periode Natal dan Tahun Baru (NATARU), pariwisata tidak lagi hanya dimaknai sebagai perjalanan rekreasi semata. Di banyak destinasi, pariwisata berkembang menjadi ruang belajar, ruang temu lintas generasi, serta media untuk memahami kembali identitas budaya. Pengalaman yang dihadirkan pun tidak lagi berbentuk benda, melainkan memori dan cerita yang melekat dalam perjalanan pengunjung.
Pendekatan inilah yang kini banyak diterapkan dalam pengelolaan destinasi budaya di Indonesia. Salah satunya terlihat dalam pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang memasuki usia lebih dari 50 tahun dan terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Berbeda dari NATARU tahun 2024-2025, tahun ini TMII akan menghadirkan aktivasi budaya maupun non budaya multisensori dari mulai pertunjukan dan tradisi yang hidup, kuliner Nusantara yang siap memanjakan lidah, dan alunan musik modern berpadu dengan nuansa tradisional dari tanggal 18 Desember 2025 sampai 4 Januari 2026.
Semua rangkaian acara akan lebih mengedepankan customer experience dengan budaya sebagai DNA. Mengambil tema “Hadiah dari Jelajah Budaya adalah Kisah Penuh Makna”.
Direktur Utama InJourney Destination Management (IDM), Febrina Intan menjelaskan bahwa transformasi destinasi harus dimulai dari cara pandang terhadap pengalaman pengunjung.
“Momentum NATARU selama ini identik dengan momen untuk berbagi hadiah yang bermanfaat kepada keluarga dan orang terdekat. Namun hadiah itu tidak selalu berbentuk benda, melainkan pengalaman yang penuh makna dan sukacita,” ujar Febrina, saat ditemui di TMII, Jakarta pada Jumat, 19 Desember 2025.
Menurutnya destinasi wisata perlu dirancang sebagai ruang kebersamaan lintas generasi.
“Setiap destinasi kami rancang dengan core event dan program yang relevan bagi berbagai generasi, sehingga setiap kunjungan menghadirkan cerita yang bermakna,” jelasnya.
Sebagai salah satu destinasi budaya nasional, TMII kini mengusung pendekatan pengalaman yang lebih terintegrasi. Febrina menuturkan TMII tidak lagi diposisikan sebagai destinasi singkat, melainkan ruang eksplorasi yang dapat dinikmati sepanjang hari.
“Ketika masuk ke Taman Mini, kami menggarap dengan serius bagaimana destinasi ini memberi seamless experience. Dari pintu masuk sudah disambut budaya, ada tari-tarian, ada aktivitas keluarga,” kata Febrina.
Ia menambahkan konsep ini memungkinkan setiap anggota keluarga menemukan ruangnya masing-masing.
“Kalau bapaknya mau nonton konser, ibunya tidak mati gaya. Ada workshop untuk ibu dan anak-anak. Memorinya tidak ada habisnya dan memang tidak cukup dalam satu hari,” ujarnya.
Menurut Febrina, pengalaman tersebut diperkuat dengan keberagaman aktivitas.
“Pagi sampai malam tidak akan ada habisnya. Kita lihat konser, ada budaya, kita cicip-cicip makanan Nusantara. Dari Aceh sampai Jogja, semuanya ada di sini,” tuturnya.
Plt. Direktur Utama TMII, Ratri Paramita, menegaskan bahwa transformasi TMII tidak hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga pada nilai edukasi, keberlanjutan, dan dampak sosial.
“TMII hari ini telah berevolusi menjadi destinasi budaya modern yang edukatif, inklusif, ramah lingkungan, serta memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Ratri.
Ia menyebut momen NATARU sebagai kesempatan untuk memperkuat makna kebersamaan.
“Momentum NATARU ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan momentum budaya dan kebersamaan. Kami ingin memberi Hadiah melalui Jelajah Budaya di TMII sebagai kisah penuh makna,” jelasnya.
Selain itu, TMII juga melibatkan pelaku lokal dalam berbagai aktivitas.
“Kami memberdayakan lebih dari 50 UMKM, artisan lokal, hingga komunitas budaya. Harapannya, pengunjung mendapat pengalaman positif yang tak terlupakan,” tambah Ratri.
BACA JUGA:
Kolaborasi budaya juga tercermin dalam kehadiran musisi nasional, salah satunya band Sland. Kaka (Akhadi Wira Satriaji), vokalis utama Slank melihat TMII sebagai destinasi ideal untuk festival budaya dan musik.
“Ini seru banget, ada festival di Indonesia kecil. Nuansanya Indonesia, tradisi, dan musik bisa di-blend,” kata Kaka.
Ia menilai pendekatan ini membuka peluang besar ke depan. Menurut Kaka, kekuatan festival bukan hanya pada panggung musik, tetapi pada identitas budaya.
“Ada ciri khas Indonesia yang menandai. Itu yang bikin orang ingat,” tuturnya.
Dari sisi penyelenggara, Danny K. Armananta, Direktur Utama Gebyar Komunikasi menegaskan festival akhir tahun dirancang sebagai ruang inklusif bagi semua kalangan.
“Sorak Sorai Festival 2.0 dirancang sebagai perayaan budaya yang inklusif, ramah keluarga, ramah anak, relevan bagi generasi muda, dan tetap mengangkat kekayaan warisan Nusantara,” kata Danny.
Ia menekankan bahwa seluruh rangkaian acara dikemas sebagai pengalaman.
“Semua program kami kemas sebagai ‘hadiah pengalaman’ bagi pengunjung yang ingin merayakan akhir tahun dengan cara yang berbeda." ujarnya.
Selain Slank, festival ini akan menghadirkan pertunjukan konser musik dari musisi papan atas seperti Barasuara, NDX, Vieratalle, dan Soulfu. Akan ada juga pertunjukan kembang api, ragam kuliner Nusantara, instalasi seni, atraksi air mancur menari, serta aktivitas keluarga yang dirancang untuk menciptakan pengalaman berlibur yang hangat dan inklusif.