Bagikan:

JAKARTA - Fenomena antrean panjang untuk makanan viral kini bukan lagi hal langka di kota-kota besar dunia. Dari kentang goreng FabelFriet di Amsterdam hingga donat Jepang yang viral di New York, wisatawan rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan pengalaman kuliner yang sedang tren.

Menurut Rachel S. Herz, profesor psikiatri dan perilaku manusia di Brown University, antrean panjang memicu rasa takut ketinggalan atau FOMO.

"Saat orang melihat orang lain antre, hal itu membuat sesuatu yang mereka tunggu terlihat lebih menarik dan memicu FOMO,” jelasnya.

"Jika kita terus melihat orang antre berulang-ulang, perilaku ini terasa normal bahkan diharapkan dan secara halus memengaruhi cara kita merespons," ujar Cathrine Jansson-Boyd, profesor psikologi konsumen di Anglia Ruskin University, dikutip dari laman BBC.

Lebih dari sekadar menunggu makanan, banyak wisatawan kini merekam diri mereka di antrean untuk media sosial.

"Media sosial memberi wisatawan panggung untuk menampilkan liburan mereka," jelas Sara Dolnicar, profesor di University of Queensland.

Dari stroopwafel hingga kentang goreng, postingan di TikTok atau Instagram membuat pengalaman antrean menjadi bagian dari pertunjukan liburan itu sendiri.

Fenomena ini diperkuat oleh influencer dan selebriti yang terus mencari tempat viral baru, sementara pengikut mereka meniru perilaku tersebut.

"Kecenderungan meniru ini menjadi akar pola perjalanan berulang, di mana orang pergi ke toko roti yang sama, toko donat yang sama, atau kedai burger yang sama,” kata Stefan Gössling, profesor di Linnaeus University.

Namun popularitas yang cepat juga membawa dampak bagi komunitas lokal.

“Membuat hotspot wisata semakin panas jarang membawa manfaat. Ada risiko reaksi negatif komunitas karena kualitas hidup penduduk menurun," kata Dolnicar.

Bahkan beberapa warga Amsterdam kini menuntut peninjauan izin toko yang menjadi pusat antrean viral karena masalah overtourism.

Meski begitu, kerumunan jarang menyurutkan minat wisatawan. Melihat orang lain antre memberi rasa percaya diri.

“Bahkan ketika wisatawan tahu antrean itu dipicu hype, mereka tetap ikut. Ini menunjukkan, bagi banyak orang, menunggu telah menjadi sama pentingnya dengan makanannya." ucap Gössling.

Fenomena antrean makanan viral bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang pengalaman sosial, status, dan budaya performa yang telah membentuk cara kita bepergian di era media sosial.