Bagikan:

JAKARTA - Isidor dan Ida Straus dikenang sebagai dua korban paling terkenal dalam tragedi Titanic, sekaligus penumpang kelas satu yang turut tewas dalam insiden tersebut.

Pasangan yang juga digambarkan dalam film “Titanic” karya James Cameron (1997), sebenarnya telah ditawari tempat di salah satu sekoci penyelamat. Namun keduanya menolak karena tidak ingin dipisahkan.

Jenazah Isidor yang merupakan salah satu pemilik departement store Macy’s di New York, kemudian ditemukan. Sementara jasad istrinya tidak pernah berhasil ditemukan. Kini lebih dari satu abad setelah bencana maritim paling terkenal di dunia itu, jam saku emas yang dikenakan Isidor saat kejadian terjual dengan harga rekor.

Dilansir dari laman CNN, pada sebuah pelelangan di Inggris pada Sabtu, 22 November 2025, jam bersejarah tersebut laku terjual seharga 1,78 juta Pound Sterling atau hampir Rp4 miliar. Hal ini menjadikannya benda memorabilia Titanic paling bernilai yang pernah terjual.

Rekor sebelumnya dipegang oleh jam emas milik John Jacob Astor IV, orang terkaya di kapal Titanic yang terjual seharga 1,175 juta Pound Sterling atau Rp25 miliar pada April 2024.

Jam milik Isidor ditemukan bersama jenazahnya dan kemudian dikembalikan kepada putranya, Jesse. Sementara Ida diperingati melalui sebuah prasasti di makam suaminya di Woodlawn Cemetery, New York.

Jam tersebut diukir dengan inisial Isidor serta tanggal 6 Februari 1888, ulang tahunnya yang ke-43, sekaligus tahun ketika ia dan saudaranya, Nathan, menjadi mitra penuh di perusahaan Macy’s.

Rumah lelang Henry Aldridge & Son yang menangani penjualan tersebut, menggambarkan jam itu sebagai salah satu benda Titanic paling penting dan ikonik yang pernah dilelang. Jam tersebut diwariskan turun-temurun dalam keluarga sebelum akhirnya dilepas untuk dijual.

Dalam film “Titanic” tahun 1997, pasangan Straus yang diperankan Lew Palter dan Elsa Raven, digambarkan berpelukan di atas ranjang saat kapal tenggelam. Kenyataannya, pasangan yang sedang dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat dari Jerman itu terakhir kali terlihat oleh para penyintas sedang berdiri bersama di geladak, berpegangan tangan, sebelum tersapu ombak.

Keduanya sebenarnya diarahkan untuk naik ke sekoci nomor delapan, namun Isidor menolak selama masih ada pria yang lebih muda yang dilarang naik. Sang istri kemudian ikut menolak dengan berkata, “Ke mana pun kau pergi, aku ikut.”