JAKARTA - Dalam riuhnya peringatan Hari Anak Sedunia 2025, perhatian publik kembali menengok keluarga besar dengan jumlah anak yang tak biasa. Bukan hanya Gen Halilintar dengan 11 anak, atau pasangan Kamaruddin–Najerah di Sulawesi Tenggara yang mencetak rekor MURI dengan 16 anak. Di Jakarta, ada satu keluarga lain yang tak kalah unik: Keluarga Cheria, dengan 14 anak yang tumbuh dalam suasana tawa, disiplin, dan mimpi besar.
Mereka adalah pasangan Cheriatna (51) dan Farida Ningsih (50)—dua sosok yang memadukan kerja keras, keyakinan, dan prinsip mendidik anak layaknya calon pemimpin masa depan. “Kami hanya berusaha mengikuti amanah,” tutur Cheriatna. “Anak itu investasi masa panjang, bukan beban."
Awal Pernikahan yang Penuh Perjuangan
Tidak banyak yang tahu, dekade pertama pernikahan mereka pada awal 2000-an adalah masa paling berat. Setiap hari hanya ada nasi dan garam di meja makan. Cheriatna bekerja apapun yang halal: menjual bunga, mengantar koran, hingga mengayuh odong-odong keliling kompleks.
Bisnis demi bisnis dicoba. Jual sembako, jasa promosi usaha via blog, hingga pemasaran properti dan paket wisata luar negeri dari rumah. “Saya kerja sarungan saja. Yang penting bisa jalan,” kenang Cheriatna sambil tertawa.
Namun titik balik datang pada 2010 ketika kerja sama dengan agen travel tempatnya bekerja mendadak berhenti. Bagi banyak orang itu pukulan telak. Namun bagi Cheriatna dan Farida, itu justru dorongan. Mereka memutuskan membuka usaha sendiri. “Malah setelah itu banyak yang ingin pakai jasa kami,” ujarnya.
Dari tekad dan keteguhan itulah Cheria Holiday lahir pada 2012—yang kelak dikenal sebagai pelopor wisata halal Indonesia.
Filosofi Cheria: Wisata Halal sebagai Dakwah
Nama Cheria bukan sekadar brand. Itu doa, harapan, dan identitas keluarga. Bagi Cheriatna, setiap perjalanan adalah ruang dakwah. “Kami ingin Muslim bisa jalan ke mana pun, tanpa khawatir soal halal, waktu salat, atau fasilitas ibadah,” jelasnya.
Perjalanan Cheria Holiday berkembang pesat, dari Asia hingga Eropa, dari perencanaan tur halal hingga edukasi wisata sesuai syariat. “Semua harus membawa kebahagiaan,” tegasnya.
Rumah Tanpa Televisi, Anak Tanpa Sekolah Formal
Keputusan pasangan ini mungkin kontroversial bagi sebagian keluarga Indonesia. Semua anak tidak sekolah formal. Tak ada yang masuk sekolah reguler, dari SD hingga SMA. Rumah mereka juga tanpa televisi.
Farida, seorang perempuan dengan tiga gelar S1 dan beasiswa S2, justru merasakan pengalaman akademisnya tak relevan dengan dunia nyata. “Saya menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu yang tidak terpakai dalam bisnis," katanya.
Ia bertekad mendidik anak-anaknya secara nonformal: kelompok belajar, PAUD untuk balita, dan pembentukan minat sejak dini. “Kalau bisa, di usia 12 tahun orangtua sudah tahu mau mengarahkan anak ke mana,” ujarnya.
Visinya sederhana: anak-anak harus siap berwirausaha, bukan sekadar menjadi pencari kerja.
Empat Belas Kehamilan, Tawa dan Luka yang Tak Terucapkan
Di balik jumlah anak yang banyak, ada kisah getir yang jarang mereka bagi.
Tahun pertama pernikahan, Farida mengandung tanpa disadari. Ia terlalu sibuk kuliah tiga jurusan sekaligus dan mengerjakan jasa penulisan skripsi. Tubuhnya kelelahan hingga tifus. Ketika diperiksa, usia kehamilannya sudah enam bulan.
“Dokter bilang janinnya lemah. Saya disuruh bed rest," kenangnya lirih.
Anak pertama mereka lahir, namun tidak menangis. Abdul Rohman, begitu nama yang mereka sematkan, meninggal kurang dari satu jam setelah lahir. “Tiap ingat, hati saya remuk,” ujar Farida sambil menahan tangis.
Cobaan belum berhenti. Farida mengalami dua kali keguguran pada usia kehamilan 2 dan 3 bulan.
Namun setelah badai itu, hadir Chefa—bayi cantik yang mengembalikan warna di rumah kecil mereka. Setelahnya, anak demi anak hadir: Rabitha, Refah, Zaka, Radja, Ridho, Muthiah, Ibrahim, Fatimah, Maryam, hingga si bungsu Asma yang lahir pada 2023.
“Hadirnya Asma seperti kado pernikahan perak,” tutur Farida sambil terkekeh. “Padahal saya pikir sudah berhenti produksi.”
Total, Farida mengandung 14 kali, dengan 11 anak yang kini tumbuh bersama.
BACA JUGA:
Tujuh Anak, Tujuh Pilar Bisnis Cheria Holiday
Kesuksesan Cheria Holiday hari ini bukan hanya hasil kerja dua orang, tetapi seluruh keluarga. Tujuh anak kini memegang peran strategis dalam bisnis:
- Chefa fokus di B2B
- Rabitha menggarap desain produk tur
- Refah mengelola divisi keuangan
- Zaka menjadi konsultan tur
- Radja, Ridho, dan Muthiah menjadi kreator konten dan penggerak branding Cheria
Mereka bekerja bukan karena disuruh, tetapi karena dibesarkan dalam kultur kerja keras dan nilai dakwah.
“Intinya, kami ingin menginspirasi. Sukses itu harus ditopang integritas, kerja keras, dan nilai-nilai kehidupan,” ujar Cheriatna, penulis buku Keluarga Traveler: Keliling Dunia Hasil Kerja Sarungan.
Akhir yang Menghangatkan
Kisah Keluarga Cheria bukan sekadar cerita tentang banyak anak. Ini adalah kisah tentang tekad yang ditempa kesulitan, kesabaran yang diuji kehilangan, dan mimpi yang tumbuh dari rumah sederhana tanpa televisi.
Di tengah dunia yang serba cepat, keluarga ini tetap percaya bahwa kebahagiaan dibangun dari interaksi, kerja keras, dan saling menguatkan. Dari tawa, dari air mata, dan dari perjalanan yang mereka jalani bersama—setiap hari.