YOGYAKARTA – Indikator berpikir kritis dapat dijadikan sebagai acuan untuk menilai sejauh mana seseorang dapat berpikir secara logis, rasional, dan objektif. Lantas, apa saja indikator berpikir kritis?
Perlu diketahui, berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi yang wajib dikuasasi. Keterampilan berpikir kritis bukan sekedar berpikir secara logis. Lebih dari itu, berpikir kritis merupakan proses berpikir yang teroganisir, sistematis, dan didasarkan pada evaluasi informasi secara objektif dan mendalam.
Pengertian Berpikir Kritis Menurut Pakar Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, ada dua tokoh yang banyak membahas konsep berpikir kritis. Dua tokoh tersebut yakni Robert Ennis dan Peter Facione.
Menurut Ennis, berpikir kritis merupakan pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus pada keputusan tentang apa yang harus dipercaya atau dilakukan.
Dalam pandangan Ennis, ada dua komponen yang dapat membuat individu berpikir kritis, yakni keterampilan (skills) dan disposisi (disposition). Artinya, seseorang tidak hanya harus mampu menerapkan cara berpikir kritis, tetapi juga memiliki kemauan untuk melakukannya. Disposisi ini berkaitan dengan kebiasaan untuk menelaah informasi secara mendalam, skeptis, serta reflektif terhadap apa pun yang diterima, dikutip dari laman Universitas Negeri Surabaya.
Sementara menurut Facione, berpikir kritis diartikan sebagai penilaian yang sadar dan terarah. Artinya, berpikir kritis tidak hanya soal logika, namun juga tentang kesadaran diri dalam menilai dan mengambil keputusan.
Facione berpendapat, seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis lebih mampu menilai informasi, mengidentifikasi bias, dan mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan.
BACA JUGA:
Indikator Berpikir Kritis Menurut Pakar Pendidikan
Menurut Robert, ada lima indikator yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk menilai sejauh mana seseorang dapat berpikir kritis. Kelima indikator tersebut, yakni:
- Elementary Clarification: Kemampuan memberikan penjelasan dasar.
- Basic Support: Membangun dukungan atau bukti dasar.
- Inferences: Menarik kesimpulan logis.
- Advance Clarification: Memperluas penjelasan.
- Strategy and Tactic: Kemampuan mengatur strategi pemecahan masalah.
Sedangkan menurut Peter Facione, hal-hal yang dapat mengindikasikan seseorang mampu berpikir kritis, yakni:
- Interpretasi: Kemampuan memahami dan mengklarifikasi informasi, termasuk membaca grafik, data, dan pernyataan kompleks.
- Analisis: Mengurai struktur argumen atau gagasan, membedakan fakta dan opini, serta menilai hubungan antaride.
- Evaluasi: Menilai kredibilitas sumber, kekuatan bukti, dan konsistensi logis suatu klaim.
- Inferensi: Menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang tersedia serta menyusun hipotesis atau perkiraan logis.
- Eksplanasi: Menyampaikan alasan dan proses berpikir secara jelas, logis, dan meyakinkan.
Indikator berpikir kritis tidak hanya penting dalam proses belajar mengajar, tetapi juga berperan besar dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan menilai kebenaran berita, mengambil keputusan finansial, hingga terlibat dalam diskusi sosial menuntut pola pikir yang terstruktur dan rasional. Tanpa keterampilan ini, seseorang dapat dengan mudah terseret informasi keliru, tergesa-gesa mengambil keputusan, dan kesulitan mempertahankan pendapatnya dengan logis.
Dengan memahami serta melatih indikator berpikir kritis, baik peserta didik maupun masyarakat umum dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih bijaksana, objektif, dan mampu membuat keputusan yang tepat dalam berbagai situasi.
Demikian informasi tentang indikator berpikir kritis. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.