Bagikan:

JAKARTA - Ada sesuatu yang begitu hangat dalam cara masyarakat Meksiko memandang kematian. Bagi mereka, Día de Muertos bukan sekadar hari peringatan, melainkan perayaan penuh warna yang mengundang kembali kenangan dan kasih terhadap mereka yang telah tiada.

Melalui altar ofrenda yang dipenuhi foto, makanan favorit, lilin, hingga cermin kecil agar arwah 'mengenali diri'. Tradisi ini menjadi jembatan antara masa kini dan masa lalu.

Tahun ini, semangat itu kembali dihidupkan oleh Clase Azul México, rumah tequila artisan asal Meksiko lewat peluncuran koleksi terbatas bertajuk Recuerdos 2025, sebuah karya yang menandai bab penutup dari seri tahunan yang telah berjalan sejak 2021.

Setelah melewati beberapa series seperti Saboris (2021), Colores (2022), Aromas (2023), dan Música (2024), edisi Recuerdos menjadi penghormatan terhadap memori, waktu, dan akar budaya yang menjadi jiwa dari perayaan Día de Muertos.

"Setiap tahunnya kami mencoba menangkap satu aspek emosi manusia dalam bentuk karya," ujar Mark Nguyen, Director of Southeast Asia untuk Clase Azul Mexico saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Kamis, 23 Oktober 2025.

"Recuerdos menjadi refleksi paling personal, tentang bagaimana kenangan membentuk siapa kita hari ini," lanjutnya.

Koleksi ini tampil dalam desain yang begitu sarat makna. Warna kuning hangat melambangkan cahaya lilin altar, sementara ilustrasi karya seniman Meksiko Erika Rivera menggambarkan roh-roh lembut yang menari di antara bunga cempasúchil dan simbol-simbol spiritual.

Di bagian depan botolnya tersemat liontin emas 24 karat dengan cameo obsidian yang bisa dibuka. Hal ini mewakili cermin spiritual dalam altar ofrenda, tempat arwah mengenali diri mereka sebelum pulang ke alam baka.

Namun yang membuat peluncuran ini istimewa bukan hanya keindahan visualnya, melainkan pengalaman multisensori yang menyertainya. Di Museum Macan, Jakarta, ruangan dibagi menjadi empat elemen alam.

1. Earth – The Room of Whispers, tempat aroma tanah dan agave berpadu dengan clay decanter mentah, simbol asal mula dan akar kehidupan.

2. Water – The Room of Craftsmanship, yang memperlihatkan proses melukis botol langsung oleh tangan artisan, disertai dokumentasi perjalanan pembuatannya.

3. Air – The Room of Connections, dengan selfie mirror sebagai ruang refleksi dan ekspresi diri, mengajak pengunjung berbagi kenangan personal.

4. Fire – The Memory of a Celebration, altar Día de Muertos yang menjadi pusat perayaan dan memperkenalkan karya Recuerdos dengan suasana penuh emosi.

Di balik setiap detail, terselip pesan tentang bagaimana seni dan rasa bisa menjadi medium untuk mengenang dan merayakan kehidupan.

Hanya 35 botol dari koleksi ini hadir di Indonesia. Bukan untuk menonjolkan eksklusivitas, melainkan untuk menegaskan nilai dari hal-hal yang tak ternilai yaitu waktu, kenangan, dan warisan budaya.

"Kami percaya luxury bukan hanya tentang harga atau status, tapi tentang perjalanan rasa, warisan, dan penghormatan," ujar Della Gocciardi, Business Development Manager DSP Group.

"Melalui pengalaman ini, kami ingin mengajak publik Indonesia mengenal tequila dari sisi yang lebih dalam sebagai

karya yang hidup," lanjutnya.

Pada akhirnya Recuerdos bukan sekadar nama, melainkan pengingat kenangan tak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya berganti bentuk, hidup dalam aroma, warna, dan setiap cerita yang kita bawa dalam diam.