Bagikan:

JAKARTA – Suasana berbeda hadir di sela perhelatan budaya internasional CHANDI 2025 di The Meru Sanur, Denpasar, Baki, Kamis, 4 September. Bukan sekadar diskusi atau pameran, para delegasi dan tamu undangan diajak merasakan langsung pengalaman membatik, lengkap dengan canting, lilin panas, hingga proses pewarnaan.

Lokakarya ini dipandu Muhammad Taufan Wicaksono dan Muhammad Rizqi Darmawan, perajin batik dari Laweyan, Surakarta. Sejak awal sesi, peserta diperkenalkan pada batik sebagai wastra asli Indonesia yang telah diakui UNESCO. “Tanggal 2 Oktober selalu kita rayakan sebagai Hari Batik. Itu bukti bahwa batik bukan sekadar kain, tapi identitas bangsa,” ujar Taufan, pemilik Batik Mahkota Laweyan.

Sebelum praktik, Taufan menunjukkan alat utama membatik: canting. “Kalau menulis pakai pensil, membatik pakai canting. Lilin panas inilah yang kita torehkan di kain. Setelah itu baru masuk tahap pewarnaan dengan remasol,” jelasnya. Ia mengingatkan, kesalahan sekecil apa pun saat mencanting akan memengaruhi hasil akhir.

Sebanyak 38 peserta pun mencoba menorehkan lilin di kain putih dengan pola sederhana, lalu memberi warna dengan teknik colet. Antusiasme terlihat jelas. Fine, peserta asal Maluku, mengaku kagum sekaligus tertantang. “Awalnya saya kira mudah, ternyata sulit. Tapi pengalaman ini luar biasa. Saya jadi lebih menghargai kerja para pembatik,” katanya.

Batik sendiri adalah warisan turun-temurun yang menjadi tanggung jawab generasi kini untuk dijaga. Tema “Culture for the Future” yang diusung CHANDI 2025 menegaskan pesan itu: menjaga batik berarti menjaga jati diri bangsa.