Bagikan:

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan peran industri budaya sebagai pilar pertumbuhan ekonomi baru dalam Sidang APEC High-Level Dialogue on Cultural and Creative Industries (HLD-CCI) di Gyeongju, Korea Selatan, Kamis, 28 Agustus. Forum ini untuk pertama kalinya menempatkan kebudayaan dalam agenda resmi APEC, diikuti 20 negara anggota.

Menbud Fadli menyampaikan, sektor budaya dan kreatif telah membentuk ekosistem global senilai USD 4,3 triliun atau 6 persen perekonomian dunia, dengan 30 juta lapangan kerja yang mayoritas ditopang UMKM dan tenaga muda. “Di Indonesia, kekuatan budaya bertumpu pada 17.000 pulau, 1.340 etnis, dan 718 bahasa. Dari bioskop yang mencatat 122 juta penonton pada 2024 hingga ekspor batik yang naik 76 persen di kuartal pertama 2025, semua membuktikan budaya adalah sektor riil, pencipta kerja, dan penggerak investasi,” ujarnya.

Menbud Korea Selatan, Chae Hwi-young, menambahkan pentingnya memperkuat nilai ekonomi budaya. “Ini pertama kalinya APEC membicarakan industri budaya secara formal,” katanya.

Menbud Fadli juga menyoroti peran digitalisasi dan AI. Indonesia kini ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan proyeksi USD 130 miliar pada 2025. Namun, ia mengingatkan risiko kesenjangan digital dan bias algoritma. “Solusinya adalah AI generatif terlokalisasi, berbasis data dan nilai lokal. Teknologi harus melestarikan bahasa daerah dan tradisi, bukan meminggirkannya,” tegasnya.

Dalam sesi akhir, Menbud Fadli menekankan budaya sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Indonesia, ujarnya, aktif mendorong diplomasi budaya melalui nominasi warisan dunia UNESCO, dari Kebaya hingga Jaranan. Ia juga mengumumkan Indonesia menjadi tuan rumah CHANDI 2025 di Bali minggu depan dengan tema Culture for the Future.

Sidang ditutup dengan adopsi pernyataan bersama yang menandai lahirnya babak baru APEC: industri budaya kini diakui sebagai kekuatan strategis Asia-Pasifik, dengan HLD-CCI ditetapkan sebagai forum permanen.