Bagikan:

YOGYAKARTA - Setelah hujan reda, salah satu fenemena alam yang sering ditunggu adalah pelangi. Lengkungan warna-warni indah di langit ini seolah menjadi hadiah dari alam setelah diguyur hujan. Namun pelangi tidak selalu muncul setelah hujan turun. Kenapa demikian?

Pelangi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses fisika yang melibatkan pembiasan, pemantulan, dan pemisahan cahaya. Warna-warni yang kita lihat adalah hasil pertemuan antara cahaya dan tetesan air. Namun bagaimana itu terjadi? Berikut penjelasannya.

Proses Terjadinya Pelangi

Pelangi terbentuk ketika sinar matahari bertemu dengan tetesan air di udara, baik itu dari hujan, kabut, semburan ombak laut, ataupun percikan air terjun. Tetesan air ini berfungsi seperti prisma alami yang memecah cahaya putih menjadi berbagai warna.

Agar pelangi dapat terlihat, posisi matahari, tetesan air, dan pengamat harus saling mendukung. Matahari harus berada di belakang pengamat, sementara hujan atau sumber tetesan air lainnya berada di depan.

Selain itu, matahari harus berada rendah di langit, dengan sudut kurang dari 42 derajat di atas cakrawala. Semakin rendah posisi matahari, semakin tinggi lengkungan pelangi yang terlihat. Karena itu, pelangi sering kali tampak lebih jelas di pagi hari atau menjelang sore.

Proses pembentukan pelangi dimulai ketika sinar matahari memasuki tetesan air. Saat berpindah dari udara ke air, cahaya dibelokkan atau dibiaskan. Di dalam tetesan air, sebagian cahaya dipantulkan kembali dari sisi dalam tetesan, lalu keluar lagi dengan pembiasan kedua.

Proses ini memisahkan cahaya putih menjadi spektrum warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, urutan yang sering diingat dengan singkatan “mejikuhibiniu”. Warna merah muncul di bagian luar lengkungan pelangi, sementara ungu berada di bagian dalam.

Perbedaan warna ini terjadi karena setiap warna cahaya memiliki panjang gelombang berbeda. Merah memiliki panjang gelombang paling panjang, sekitar 650 nanometer, sehingga dibelokkan pada sudut yang sedikit lebih kecil.

Sementara ungu, dengan panjang gelombang terpendek sekitar 400 nanometer, dibelokkan lebih tajam. Hasilnya, cahaya terurai menjadi gradasi warna yang kita lihat sebagai pelangi.

Pelangi yang paling umum kita lihat adalah pelangi primer, yang terbentuk dari satu kali pemantulan cahaya di dalam tetesan air. Warna-warnanya cerah, dengan urutan dari luar ke dalam, mulai dari merah, jingga, hingga ungu.

Selain itu, ada juga pelangi sekunder yang terbentuk dari dua kali pemantulan cahaya di dalam tetesan air. Pelangi sekunder tampak lebih redup dan urutan warnanya terbalik, mulai ungu berada di luar dan merah di dalam. Karena pantulan ganda, pelangi sekunder biasanya muncul di bagian luar pelangi primer dan memiliki jarak lengkungan yang lebih lebar.

Menariknya, pelangi sebenarnya berbentuk lingkaran penuh. Pusat lingkaran ini disebut titik antisolar, yakni titik imajiner yang berada tepat di belakang pengamat jika ditarik garis lurus dari matahari.

Namun, dari permukaan tanah, kita hanya dapat melihat setengah lingkarannya karena bagian bawahnya terhalang oleh cakrawala. Hanya dari ketinggian, seperti saat berada di pesawat, pelangi bisa terlihat utuh membentuk lingkaran sempurna.

Ukuran pelangi juga dapat dipengaruhi oleh indeks bias tetesan air, yaitu ukuran seberapa besar cahaya dibelokkan ketika memasuki air. Air asin memiliki indeks bias lebih tinggi dibanding air tawar, sehingga pelangi yang terbentuk dari semburan air laut sedikit lebih kecil daripada yang terbentuk dari hujan biasa.

Selain itu perlu diketahui bahwa pelangi merupakan ilusi optik. Artinya, pelangi tidak benar-benar berada di titik tertentu di langit. Lokasi pelangi bergantung pada posisi pengamat dan arah datangnya cahaya.

Dengan memahami proses terjadinya pelangi, kita tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga menghargai psoses sains yang membuatnya mungkin terjadi. Jadi, lain kali ketika Anda melihat pelangi membentang di langit, ingatlah bahwa setiap warna yang terlihat adalah hasil perjalanan panjang sinar matahari melewati jutaan tetesan air, memantul, membias, dan akhirnya sampai ke mata.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+