JAKARTA - “Keragaman bukan memecah belah, tapi pemersatu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan identitas Indonesia.” Pernyataan tegas Menteri Kebudayaan Fadli Zon itu disampaikan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu, 10 Agustus, di hadapan jamaah dan tokoh lintas agama dalam Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara menyambut HUT ke-80 RI.
Fadli menegaskan, toleransi antarumat beragama adalah kunci menjaga Indonesia tetap utuh di usia 80 tahun. Ia mengapresiasi zikir yang dipimpin Maulana Habib Luthfi bin Yahya sebagai momentum mensyukuri kemerdekaan dan mendoakan perdamaian dunia.
Bertema Mengokohkan Cinta Tanah Air dan Perdamaian Dunia, acara ini menjadi ruang doa bersama, mempererat persaudaraan umat Islam dan elemen bangsa. Puncaknya, ikrar bela negara dibacakan tokoh lintas agama: Habib Luthfi (Islam), Jacklevyn Frits Manuputty (Kristen), Aloysius Budi Purnomo (Katolik), Wisnu Bawa Tenaya (Hindu), Philips Kuncoro Wijaya (Buddha), dan Budi Santoso Tanuwibowo (Konghucu).
“Semoga kita terjaga dari ucapan yang memecah belah dan tetap kokoh menjaga NKRI,” pesan Habib Luthfi.
Hadir pula Menag Nasaruddin Umar, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri PPMI Abdul Kadir Karding, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono, serta tamu internasional seperti Menteri Wakaf Mesir Usamah Sayyid Al-Azhari, Menteri Besar Selangor Datuk Seri Amirudin bin Shari, dan Mufti Brazil Syaikh Muhammad Al-Maghribi.
BACA JUGA:
Fadli menutup dengan harapan agar momentum HUT ke-80 menjadi langkah menuju Indonesia Maju dan Generasi Emas 2045. “Kita ingin Indonesia unggul di ekonomi dan kebudayaan. Itu cita-cita bersama,” ujarnya.