YOGYAKARTA - Setiap tahun, Bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari, sebuah fenomena astronomi yang dikenal sebagai aphelion. Namun, sering muncul pertanyaan: apakah fenomena Aphelion 2025 ini benar-benar membuat Bumi jadi lebih dingin?
Mari kita bongkar tuntas fakta-fakta ilmiah di balik fenomena aphelion 2025 dan luruskan kesalahpahaman yang mungkin beredar. Anda akan terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi!
Mengenal Fenomena Aphelion 2025
Dilansir dari laman Farmers Almanac, dalam perjalanan mengelilingi Matahari, Bumi memiliki dua titik ekstrem yaitu perihelion dan aphelion. Istilah-istilah ini masing-masing menggambarkan jarak terdekat dan terjauh Bumi dari Matahari.
Namun, seringkali muncul salah kaprah mengenai bagaimana jarak ini memengaruhi musim atau cuaca di Bumi.
Secara sederhana, perihelion adalah momen ketika Bumi berada paling dekat dengan Matahari, biasanya terjadi sekitar dua minggu setelah titik balik musim dingin (winter solstice). Sebaliknya, aphelion adalah saat Bumi berada paling jauh dari Matahari, yang terjadi kira-kira dua minggu setelah titik balik musim panas (summer solstice).
Meskipun jarak ini bervariasi jutaan kilometer, para ahli menegaskan bahwa perbedaan jarak ini tidak mempengaruhi pergantian musim atau cuaca yang kita alami. Musim di Bumi justru disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi relatif terhadap bidang orbitnya mengelilingi Matahari.
Baca juga artikel yang membahas Siklon Tropis Taliah Apakah akan Menerjang Indonesia?
Untuk tahun 2025, fenomena Aphelion akan terjadi pada 3 Juli 2025 pukul 15:55 WIB. Pada momen tersebut, jarak Matahari dari Bumi akan mencapai lebih dari 94 juta mil, atau sekitar 3 juta mil lebih jauh dibandingkan saat Bumi berada di titik terdekatnya (perihelion).
Untuk mengingat perbedaan antara Aphelion dan Perihelion dengan mudah, ingat saja: "A" pada Aphelion berarti "Away" (jauh) dari Matahari
Apa dampak fenomena Aphelion? Membuat Dinginkah?
Dilansir dari Antaranews, BMKG menjelaskan, suhu dingin yang biasa kita rasakan pada bulan Juli hingga Agustus, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, justru dipicu oleh angin muson timur. Angin ini bertiup dari Australia yang saat ini sedang memasuki musim dingin.
BMKG menjelaskan jika angin muson timur membawa massa udara dingin dan kering langsung ke wilayah Indonesia. Kondisi inilah yang menyebabkan suhu udara terasa lebih sejuk, terutama di malam hingga pagi hari.
Jadi, suhu dingin bukan karena Bumi sedang "menjauh" dari Matahari saat Aphelion, melainkan karena pola angin musiman yang memang rutin terjadi setiap tahunnya.
Senada dengan BMKG, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menilai fenomena "bediding" (suhu dingin) memang berkaitan dengan Aphelion, namun dalam konteks bahwa keduanya terjadi di waktu yang bersamaan, bukan karena Aphelion menjadi penyebab langsung.
BMKG pun mengingatkan agar masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Aphelion adalah fenomena astronomi tahunan yang berlangsung secara rutin. Peristiwa ini tidak menyebabkan gangguan cuaca signifikan, cuaca ekstrem, perubahan iklim mendadak, apalagi memicu bencana.
Sebaliknya, fenomena ini seharusnya menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana Bumi bergerak dalam orbitnya dan bagaimana posisinya terhadap Matahari memengaruhi kehidupan di planet kita.
Selain fenomena aphelion 2025, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya!