JAKARTA - Sarapan dikenal sebagai waktu makan terpenting dalam sehari-hari. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa waktu sarapan yang ditunda dapat memberikan manfaat signifikan dalam mengelola lonjakan gula darah, khususnya bagi penderita diabetes tipe 2.
Dilansir dari laman News Medical pada Jumat, 7 Juni, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews menemukan bahwa waktu sarapan yang lebih siang dapat membantu menurunkan lonjakan gula darah setelah makan (postprandial glycemia) pada pasien diabetes tipe 2.
Studi ini berlangsung selama enam minggu dan menggunakan metode randomized crossover controlled trial yang melibatkan 14 orang dewasa, di mana 11 peserta memenuhi kriteria dan hasilnya dianalisis.
Hasilnya menunjukkan bahwa sarapan pada pukul 09.30 (pagi menjelang siang) dan pukul 12.00 (siang) mampu menurunkan lonjakan gula darah pasca makan dibandingkan dengan sarapan pukul 07.00 (pagi hari).
Selain itu, aktivitas berjalan cepat selama 20 menit setelah sarapan sedikit membantu menurunkan lonjakan gula darah pada kelompok yang sarapan pukul 07.00 dan 12.00.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa mengubah waktu sarapan bisa menjadi strategi praktis dan non-invasif untuk membantu mengelola gula darah pasca makan pada penderita diabetes tipe 2.
Pengaturan waktu sarapan berpotensi besar dalam mengatasi hiperglikemia pagi hari, karena sarapan merupakan waktu makan yang paling berpengaruh terhadap fluktuasi gula darah harian. Sayangnya, bukti ilmiah yang mendukung manfaat pengaturan waktu makan terhadap gula darah masih terbatas.
"Kadar kortisol biasanya memuncak sekitar pukul 08.00 pagi dan fenomena 'Dawn Phenomenon' (kenaikan kadar gula darah saat bangun tidur) menyebabkan kadar gula tinggi di pagi hari pada penderita diabetes tipe 2," bunyi hasil dalam studi tersebut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan bukti terkait pengaruh waktu sarapan dan aktivitas fisik ringan pasca sarapan terhadap lonjakan gula darah. Studi dilakukan dalam kondisi kehidupan nyata (free-living) dengan melibatkan 14 peserta berusia 30–70 tahun di Australia yang telah terdiagnosis diabetes tipe 2.
Peserta menggunakan insulin, sulfonilurea, kombinasi obat hipoglikemik, atau menjalani diet ketogenik, puasa berselang, serta berolahraga melebihi 150 menit selama seminggu.
BACA JUGA:
Pemeriksaan awal dilakukan untuk menilai risiko gangguan makan menggunakan Eating Attitudes Test (EAT-26), serta pemeriksaan fungsi sel beta pankreas dan komposisi tubuh menggunakan tes darah dan DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry). Peserta secara acak dibagi menjadi tiga kelompok waktu sarapan:
- Pagi awal (07.00)
- Menjelang siang (09.30)
- Siang (12.00)
Seluruh peserta diminta untuk berjalan cepat selama 20 menit dan 30-60 menit setelah sarapan. Konsumsi makanan harian dan pola tidur dicatat menggunakan aplikasi atau catatan tangan. Glukosa darah dan aktivitas fisik dipantau menggunakan perangkat monitor glukosa dan aktivitas. Data dianalisis menggunakan metode incremental area under the curve (iAUC) dan model linear mixed-effects.
Hasil Penelitian
Analisis iAUC menunjukkan bahwa:
- Sarapan pukul 09.30 dan 12.00 mengurangi lonjakan gula darah
- Keduanya jauh lebih baik dibandingkan sarapan pukul 07.00
- Efek antara pukul 09.30 dan 12.00 tidak jauh berbeda