Bagikan:

JAKARTA - Aktor senior Agus Kuncoro mengungkapkan berbagai tantangan yang ia hadapi saat memerankan karakter Otto dalam film Gundik yang baginya dipenuhi adegan-adegan ekstrem dan penuh imajinasi. Menurutnya, pengalaman tersebut sangat jauh dari kehidupan pribadinya dan memerlukan daya khayal tinggi.

“Wah disini kan banyak adegan-adegan yang tidak pernah saya alami sendiri walaupun saya harus meriset juga bingung harus meriset ke mana gitu kan,” kata Agus Kuncoro di kantor VOI beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah adegan dalam film tersebut, seperti menyaksikan kepala dipenggal atau bertemu makhluk non-manusia, sama sekali tidak pernah ia alami dalam kehidupan nyata.

“Saya nggak pernah melihat kepala dipenggal saya nggak pernah ngeliat mahluk yang lain daripada yang saya lihat seperti manusia biasa gitu, bahkan kadang-kadang Anggi menggambarkan ruangan-ruangan lorong-lorongnya juga juga berbeda gitu ya ada satu ruangan yang saya kadang melihat ini sakit banget sih orang yang bikin dengan pajangannya dengan interior yang seperti ini sakit banget sih orang gitu,” lanjutnya.

Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)

“Jadi emang agak-agak jadi emang semuanya harus benar-benar berimajinasi sekali sih sayangnya tapi kalau untuk emosi yang lain-lain yang saya ini dan segala macam sih itu cuma kalau untuk hal-hal yang spektakuler itu saya emang agak mau gitu ya,” tuturnya.

Namun, ada sisi dalam karakter Otto yang cukup dekat dengan dirinya, yaitu hubungan antara seorang ayah dan anak perempuan. Meski begitu, kondisi emosional dan situasi ekstrem yang digambarkan dalam film tetap sulit untuk dibayangkan.

“Bapak ya, Bapak dengan anak perempuan, Bapak dan anak perempuan itu sih sebenernya saya banget kalau Bapak dan anak perempuannya tapi tidak dengan kondisi seperti itu kayak gitu, kondisi seperti itu saya juga nggak tau harus bagaimana kan sebenarnya nggak kebayang sih maksudnya saya kan bapak-bapak biasa gitu kan terus tiba-tiba kalau harus dalam seperti yang terjadi dalam film ini Otto itu, saya nggak bisa membayangkan sih perasaan seorang bapak itu kayak gimana ya. Tapi ya emang ya kan ada skrip ada jadinya ya gitu,” beber Agus Kuncoro.

Ia pun mengakui bahwa karakter Otto sangat berbeda dengan dirinya di dunia nyata, terutama dalam hal bagaimana menerima pasangan baru anaknya. Menurutnya, itu bukanlah hal yang mudah secara emosional.

Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)

“Oh nggak itu makanya yang saya suka dari karakter Otto nya kan ya itu karena ini kan berbeda sekali dengan saya gitu terus yang kerennya juga kan tidak mudah bagaimana menerima suami anaknya itu kan juga bukan hal yang mudah kan terus tiba-tiba ada laki-laki lain itu kan saya juga bisa membayangkan sih saya aja mungkin anak saya umurnya 17 tahun saya belum bisa membayangkan ada laki-laki yang datang ngapel ke rumah saya saya belum bisa bayangin saya harus kayak gimana,” pungkasnya.

Warisan untuk Dunia Film

Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)

Aktor kawakan Agus Kuncoro kembali memberikan pandangannya tentang profesi yang telah membesarkan namanya selama puluhan tahun. Dalam sebuah pernyataan, Agus yang hingga kini masih terus eksis di dunia perfilman mengungkapkan bagaimana dunia akting telah menjadi ladang pembelajaran tanpa henti, yang membuatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.

“Sebagai aktor ya, menjadi orang lain itu kan menyenangkan ya dan dibayar untuk itu, terus saya terus belajar karena ketika saya dapet peran yang baru saya juga harus mempelajari kan, ya strata sosialnya dia, pendidikannya dia pekerjaannya dia apa walaupun dia jadi dokter, kan mau nggak mau saya harus tahu bagaimana dokter itu pakai stetoskopnya, nggak usah jauh-jauh megang termometernya atau bagaimana lagi dia memeriksa pasiennya, itu kan mau nggak mau harus saya pelajari begitu juga ketika saya harus menjadi seorang pembalap motor,” ujar Agus Kuncoro.

“Jadi (menjadi aktor) banyak selalu belajar sih setiap harinya ilmu-ilmunya apa segala macem baik dari skenarionya saya bisa belajar ataupun dari lingkup si aktor itu dimana emang harus saya pelajari karena harus butuh riset semuanya itu kan kadang-kadang butuh riset,” katanya.

Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)

Meski telah memerankan berbagai karakter sepanjang kariernya, Agus mengaku bahwa semua karakter selalu membawa daya tariknya masing-masing. Namun, sejak awal karirnya, ia berprinsip bahwa kekuatan cerita adalah yang utama dalam dirinya memilih projek film.

“Hampir semua karakter sebenarnya menarik sih ya semuanya sih menarik sih, hampir semuanya memang pada akhirnya kan tergantung story-nya, jadi emang kalau saya tuh yang terpenting memang story sih, cerita dan bagaimana karakter itu bisa hidup dalam cerita itu,” jelas Agus.

Ketika ditanya mengenai warisan yang ingin ia tinggalkan di dunia akting, Agus menjawab dengan penuh semangat sambil kilas balik perjalanan karirnya di mana ia menjadi salah satu orang yang berkesempatan menjajal cerita menarik untuk pertama kalinya.

“Saya itu kan selalu suka sesuatu yang baru ya tapi hampir itu dilakukan itu banyak di dunia sinetron gitu ya jadi itu saya suka dengan yang pertama gitu, jadi saya suka dengan sesuatu yang fresh. Jadi ketika orang belum pernah ada yang buat sinetron kayak Mahkota Mayangkara, kerajaan-kerajaan kayak gitu tapi dengan riset yang kuat pada zamannya pada saat itu saya main di situ,” cerita Agus Kuncoro.

Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Agus Kuncoro (Foto: Karisa Aurelia Tukan, DI: Raga/VOI)

“Terus ketika ada sinetron dulu namanya Rahasia Ilahi gitu yang orang ya pokoknya lo melakukan kejahatan dunia itu langsung nanti dikuburnya itu pun saya yang pertama juga waktu itu yang melakukannya, terus ketika itu saya juga main lagi Para Pencari Tuhan gitu itu kan fresh juga kan semua bagaimana Islam ditampilkan dengan begitu indah dan secara komunal gitu, begitu juga dengan Dunia Terbalik gitu saya lakukan juga di situ,” sambungnya.

“Jadi warisan apa saya apa yang ingin saya tinggal? Bahwa banyak sekali ternyata ruang-ruang, banyak sekali dunia-dunia yang itu bisa dirambah, yang bisa dieksplor gitu sih sebenarnya karena ini tanpa batas maksudnya kalau untuk apalagi story itu kan nggak mungkin habis gitu ya,” tutup Agus Kuncoro.