Bagikan:

JAKARTA – Aktris muda Satine Zaneta mengungkapkan proses mendalam dalam mempersiapkan peran sebagai Ningrum di film horor aksi Penjagal Iblis Dosa Turunan. Dalam wawancara di kantor VOI pada Jumat, 21 Maret, Satine mengaku peran ini menantangnya secara fisik maupun emosional, terutama karena karakter Ningrum memiliki kedalaman psikologis dan tuntutan aksi fisik yang tinggi.

“Banyak ngobrol sama Pak Tommy, pastinya. Banyak ngobrol sama sutradara. Banyak baca juga skripnya. Terus aku mungkin pada saat itu juga di fase di mana, aku kebetulan orangnya emang overthink. Dan aku akan bilang, aku dan Ningrum punya kesamaan akan hal itu, kita lebih ke dalam, mikirnya ke dalam,” kata Satine mengisahkan proses pendalaman peran.

Ia menjelaskan bahwa meski memiliki kemiripan dengan karakter Ningrum dalam cara berpikir, cara mereka mengekspresikan emosi justru berlawanan.

“Outputnya, tapi kalau aku outputnya yang ngomong, kalau dia outputnya diam. Jadi lebih banyak kayak, mungkin bisa dibilang refleksi ke dalam. Jadi banyak-banyak ngobrol sama diri sendiri. Dan menemukan kesamaannya, itu sih sama Ningrum,” lanjutnya.

Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Dari sisi fisik, Satine mengaku tak memiliki latar belakang bela diri sebelum proyek ini dimulai. Oleh karena itu, ia harus memulai dari nol untuk mempelajari teknik-teknik pertarungan demi bermain di film horor debutnya ini.

“Karena aku nggak ada background bela diri. Aku benar-benar bela diri dari nol disini. Cuman paling beladiri diajarkan ayah aja di rumah, kayak kuda-kuda gimana. Prosesnya sih dari nol sampai akhirnya bisa benar-benar menghafal dan gerakannya harus fasih dan believable. Jadi secara nggak langsung jadi bela diri secara langsung juga. Itu sih yang paling challenging,” tutur Satine.

Ia menambahkan bahwa masa latihan memakan waktu tiga bulan, dengan fase awal sebagai masa paling berat.

“Sebenarnya 3 bulan. Tapi di awal 3 bulan tersebut itu yang paling terasa lamanya. Karena kayak gerakannya (sulit). Nah setelah itu ya aku 3 mingguan lah agak lama. Setelah itu alhamdulillah lancar, karena very supportive juga stunt team nya bukan yang kayak maksain gitu. Mereka kayak yaudah take your own pace nanti kita belajar dari situ,” bebernya.

Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Tak hanya latihan fisik, Satine juga harus menaikkan berat badan untuk terlihat lebih meyakinkan sebagai karakter petarung.

“Iya aku naikan berat badan. Karena pada saat itu kurang keliatan kayak, bukan gagah ya. Cuman kayak kurang keliatan kayak fighter. Karena termasuk underweight waktu itu. Jadi aku makan dan nge-gym biar jadi masa otot,” ungkapnya.

Meski sulit, Satine mengambil pelajaran penting yang ia ambil dari karakter Ningrum, yaitu sikap pantang menyerah.

“(Sikap yang dicontoh dari peran) Gigih kali ya. Dia pantang menyerah sampai titik darah penghabisan dia akan, kalau dia tahu dia harus melakukan sesuatu dan dia tahu dia ingin melakukan sesuatu, dia akan kejar itu sampai akhir. Enggak akan berhenti,” pungkasnya.

Evaluasi Diri dari Akting

Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Satine Zaneta, putri dari aktor kawakan Abimana Arya, mengungkapkan bahwa sejak kecil dirinya telah tumbuh dalam lingkungan yang erat dengan industri perfilman. Meski sempat mengalami fase pencarian jati diri, Satine akhirnya menyadari bahwa seni adalah bagian tak terpisahkan dalam hidupnya.

“Kayaknya sebagai anak yang tumbuh besar di lingkungan yang dikelilingi sama orang-orang di industri film, pastinya secara nggak langsung (terpengaruh) sih. Cuman ada usia-usia yang namanya anak SMA denial-denial kayak, oh gue pengen jadi fashion designer, gue pengen jadi ini. Tapi somehow selalu dipertemukan dengan seni in general karena kebetulan aku juga nyanyi,” ujar Satine.

Tak hanya lewat akting, Satine juga menyalurkan ekspresinya melalui musik. Baginya, baik bernyanyi maupun bermain film memberikan ruang untuk mengekspresikan diri dan memahami emosi secara lebih dalam.

“Aku rasa ada persamaan di keduanya yaitu nyanyi dan main film itu aku bisa mengekspresikan diriku dan aku belajar banyak hal apalagi tentang regulasi emosi, kalau di acting ya. Penting untuk merasakan layer-layer perasaan yang harus dirasakan. Karena dulu aku tend to deny my feelings, disini aku belajar itu. Jadi aku ambil positifnya adalah, I think this is the right path untuk membenahi diri juga,” jelasnya.

Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Sebagai anak dari sosok penting di perfilman Indonesia, Satine tak menampik bahwa ayahnya, Abimana Arya, menjadi salah satu panutannya.

“Oh iya pastinya (ayah sebagai role model), apalagi in the action movie industry, I look up to him very much, karena menurutku dia salah satu orang yang melakukan semuanya dengan hati, at the same time dia juga memikirkan banyak orang, safety, kenyamanan banyak orang, jadi I really look up to him,” ungkap Satine.

Meski begitu, Satine menegaskan bahwa dirinya tak pernah memiliki ambisi untuk melebihi sang ayah.

“Nggak sih, I would never be better than him, karena dia seorang yang udah sosok experience juga, dan nggak pernah kepikiran juga di kepalaku untuk menjadi lebih baik dari siapapun, terutama ayahku ya, karena kita punya part-nya masing-masing, and I think that's fine juga sih, kayak I'm just gonna do it my way,” katanya.

Menariknya, Satine juga mengaku pernah membayangkan untuk bermain film bersama ayahnya. Namun, ia merasa masih canggung berada dalam satu frame dengan sosok yang begitu dihormatinya.

Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)
Eksklusif Satine Zaneta (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

“Sebenarnya pernah berpikir seperti itu (main film bareng ayah), tapi aku tuh malu ya sebenarnya kalau berada dalam satu frame sama ayahku, kayaknya belum, tapi kalau misalkan emang harus banget, ya udah lah, ya gitu,” tutur Satine.

Kini sebagai sosok yang baru terjun ke dunia film, Satine hanya bisa berharap bahwa ia bisa terus belajar karena kesempatan ini menjadi sebuah peluang untuknya menjadi manusia yang lebih baik lagi.

“Harapannya aku bisa belajar lebih banyak lagi dan tidak berhenti belajar sih, karena ini adalah peluang yang dimana bukan sekedar cuma bisa memerankan seorang di sebuah film, tapi juga peluang bagiku untuk belajar jadi manusia lebih baik lagi, terus belajar dari banyak orang baik juga di industri-nya, jadi harapannya adalah tidak pernah berhenti,” tutup Satine.