JAKARTA - Perayaan adat Seba kembali menjadi momen istimewa bagi masyarakat Badui, baik dari kelompok Badui Dalam maupun Badui Luar.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk nyata dari rasa syukur dan penghormatan kepada pemimpin daerah atas izin dan dukungan dalam mengelola hasil bumi selama setahun.
Dalam balutan adat yang kuat, ribuan warga Badui siap "turun gunung" dan menyambangi Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak dan Kantor Gubernur Banten sambil membawa hasil pertanian terbaik mereka.
Santa (55), salah satu warga Badui Luar, mengungkapkan bahwa tradisi Seba menjadi ajang penting untuk mempererat silaturahmi antara masyarakat adat dengan para pejabat daerah.
"Kami berharap bisa bertemu langsung dengan Bupati dan Gubernur, seperti yang dilakukan leluhur kami. Ini adalah bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kami,” ujarnya di Lebak, Kamis, seperti dikutip ANTARA.
Dalam rangka menyambut Seba, masyarakat Badui telah menyiapkan berbagai komoditas pertanian yang ditanam secara tradisional, seperti pisang, beras huma, madu, gula aren, serta jajanan khas seperti laksa dan ja'at. Santa dan kelompoknya bahkan telah memanen puluhan tandan pisang yang akan mereka persembahkan saat acara puncak.
Pertemuan antara warga Badui dengan Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Gubernur Banten Andra Soni menjadi bagian dari upacara adat yang dijunjung tinggi dan dianggap sakral. Penyerahan hasil pertanian bukan hanya simbol penghargaan, namun juga dipercaya sebagai kewajiban yang jika diabaikan, dapat mengundang bencana sesuai kepercayaan turun-temurun.
BACA JUGA:
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, menjelaskan bahwa perayaan Seba tahun ini akan diikuti oleh sekitar 1.500 warga, termasuk perwakilan dari kampung-kampung Badui Dalam seperti Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik. Meski dunia luar terus berkembang, masyarakat Badui Dalam tetap teguh memegang adat istiadatnya—termasuk larangan menggunakan kendaraan bermotor dan berpakaian serba putih dengan ikat kepala khas mereka.
Sementara itu, warga Badui Luar, yang kini lebih terbuka terhadap modernisasi, menggunakan pakaian berwarna hitam dan diperbolehkan naik kendaraan untuk bepergian. Meski demikian, semangat menjaga tradisi tetap menyala di kalangan mereka.
"Seba tahun ini kami sebut sebagai Seba Gede karena jumlah peserta yang sangat besar. Kami berharap semuanya berlangsung aman dan penuh makna,” kata Medi.
Imam Rismahayadin, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, menyampaikan bahwa acara Seba dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Mei 2025. Menariknya, tahun ini Seba masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) 2025, yang membuka peluang lebih luas untuk menarik kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
"Tradisi ini bukan hanya memperkuat nilai budaya, tapi juga bisa berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi para pelaku UMKM dan pariwisata,” pungkas Imam.