JAKARTA - Fenomena nikah mayit yang terjadi di Indonesia diangkat menjadi sajian utama dalam film terbaru Loeloe Hendra berjudul Sah… Katanya! Bekerja sama dengan Sidharta Tata, film ini menghadirkan kisah komedi yang lama tidak dihadirkan dalam perfilman Indonesia.
Film ini diperankan Nadya Arina, Dimas Anggara, Calvin Jeremy, M. N. Qomarudin, Rahmet Ababil, Della Dartyan, Landung Simatupang dan masih banyak lainnya.
Sah… Katanya! mengisahkan Mar (Nadya Arina), si bungsu yang mengurus ayah dan ibunya di Jogjakarta sementara kayak-kakaknya yang sudah menikah pergi berkarier dan tinggal jauh dari rumah. Mar menjalani kehidupan yang normal dengan kekasihnya, Adi (Calvin Jeremy).
Suatu hari, keluarga Mar berduka ketika ayah mereka (Landung Simatupang) meninggal dunia. Sebelum meninggal, ternyata sang ayah memberi surat wasiat untuk Mar yang diberikan kepada pakde Kusno (Susilo Nugroho).
Surat wasiat itu berisi permintaan Mar harus menikah dengan Marmo (Dimas Anggara), anak dari teman baik sang ayah di depan jenazah. Mar mengalami kebingungan lantaran ia dan Adi masih menabung untuk membangun bisnis mereka.
Di sisi lain, Marmo sudah dalam perjalanan ke rumah Mar sementara Mar harus menentukan sikap. Apakah Mar akan menerima pinangan Marmo dan memenuhi wasiat sang ayah?
Loeloe Hendra yang biasanya menggarap film-film bergenre arthouse atau independen, mencoba peruntungan dengan film drama komedi yang hasilnya cukup memuaskan. Elemen komedi dalam film ini benar-benar menghidupkan penceritaan berkat naskah dan karakter para pemain.
BACA JUGA:
Nadya Arina sebagai pemeran utama, meski tidak memiliki porsi komedi yang banyak, mampu mengimbangi dengan sisi drama yang ia harus kendalikan. Beberapa bit komedi mulai bergulir dimainkan Susilo Nugroho, Calvin Jeremy, Rafa Juliano Alfarizqi dan masih banyak lainnya hanya saja komedi situasional itu paling ditonjolkan oleh Calvin Jeremy yang mana karakternya kerap mengalami ‘kesialan’.
Fenomena nikah mayit yang menjadi core ceritanya baru muncul di pertengahan. Kebingungan sang karakter utama untuk memilih juga menjadi premis yang menarik dengan eksekusi yang cukup.
Perkembangan ceritanya juga dijahit rapi sehingga penonton tidak memiliki jarak terhadap karakternya. Kita semua memahami tujuan kehadiran karakter dan apa yang ia lakukan dalam film ini.
Hanya saja, menuju bagian akhir, porsi komedinya mulai berkurang dan didominasi dengan elemen dramanya, terutama ketika twist dihadirkan ke dalam film terasa dipaksakan seakan ada karakter yang harus jadi hitam-putih. Momen pengungkapan itu yang seakan membuat karakter utama kita harus menjadi protagonisnya.
Terlepas dari momen tersebut, film Sah… Katanya! menghasilkan elemen komedi yang memuaskan, membangun gelak tawa dan membuat penonton terus menantikan kelanjutannya.
Film Sah… Katanya! bisa disaksikan di bioskop mulai Kamis, 24 April.