Bagikan:

JAKARTA - Kebijakan tarif yang kembali digaungkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berpotensi membawa dampak besar terhadap berbagai sektor, termasuk industri kecantikan.

Jika kenaikan tarif impor ini benar-benar diberlakukan, konsumen bisa melihat lonjakan harga yang cukup signifikan pada produk skincare, makeup, hingga perawatan pribadi lainnya.

Kenaikan tarif bisa membuat harga barang impor naik dan membebani konsumen. Seperti yang dikatakan oleh Philip Rothman, PhD, ekonom dari East Carolina University, "prediksi paling jelas adalah harga akan naik."

Produk kecantikan sangat rentan terhadap kebijakan tarif karena banyak yang bergantung pada bahan atau kemasan dari luar negeri. Contohnya, jika Anda terbiasa membeli pelembap asal Eropa seharga 60 dolar AS atau Rp1 juta, maka dengan tarif 20%, harganya bisa naik menjadi 72 dolar AS atau Rp1,2 juta.

Tak hanya produk impor yang kena imbas. Produk yang dirakit atau diproduksi di AS pun bisa terkena dampaknya karena banyak bahan bakunya tetap berasal dari luar negeri.

"Meskipun dibuat di dalam negeri, produsen tetap harus membayar lebih karena komponen impor dikenakan tarif," ujar Betsey Stevenson, PhD, ekonom dari University of Michigan, dikutip dari laman Allure.

Kemasan adalah salah satu bagian paling terdampak. Banyak merek kecantikan mendapatkan botol, tube, atau jar dari Tiongkok karena biayanya lebih murah. Jika tarif untuk Tiongkok naik hingga 60%, maka harga akhir produk bisa ikut melambung.

"Ini akan memengaruhi makeup, produk rambut, perawatan kulit, apa pun yang dikemas dalam botol," ujar Perry Romanowski, pakar kimia kosmetik.

Perusahaan besar bisa saja negosiasi untuk mendapatkan tarif kecil. Tapi tidak demikian dengan bisnis kecil. Mereka cenderung tidak punya sumber daya sebesar itu dan kemungkinan besar harus menaikkan harga atau mengganti formula produk.

Selain itu, beberapa bahan aktif yang dipatenkan dan hanya tersedia dari negara tertentu tidak mudah diganti. Artinya, jika bahan tersebut dikenakan tarif, produsen punya dua pilihan, bayar lebih mahal atau ubah formula.

"Kalau kamu merasa formula lipstik favoritmu berubah, jangan heran,” ujar Stevenson.

Kenaikan harga bisa terjadi secara bertahap. Sebagian perusahaan mungkin masih punya stok lama. Namun begitu biaya impor baru mulai terasa, harga akan naik juga. Beberapa bahkan bisa menaikkan harga lebih awal, karena khawatir stok produk akan sulit ditemukan di masa depan.

Beberapa perusahaan seperti e.l.f. Beauty mengaku sudah pernah mengalami hal ini saat tarif sebelumnya diberlakukan. Mereka menyiasatinya dengan menekan biaya, mencari pemasok alternatif, atau memindahkan produksi ke negara lain.

"Kami akan melakukan pendekatan yang sama seperti 2019, dengan kombinasi penghematan biaya, negosiasi dengan pemasok, dan diversifikasi produksi," beber CEO e.l.f., Tarang Amin.

Negara seperti Vietnam dan Korea Selatan mulai dilirik sebagai alternatif Tiongkok, meskipun memindahkan rantai pasok bisa memakan waktu 6–12 bulan. Selain itu, beberapa produsen Korea juga sudah mulai bekerja sama dengan pabrik di AS untuk menekan biaya impor.

Namun, tak semua produk bisa diakali. Misalnya, Botox yang diproduksi di Irlandia, negara yang kini dikenakan tarif 20%. Jika tarif berlaku, harga prosedur kecantikan bisa naik.

Apakah konsumen akan tetap membeli produk yang lebih mahal? Tergantung pada sensitivitas harga masing-masing. Sebagian mungkin tidak keberatan, apalagi jika kualitas produk dianggap sepadan. Untuk produk-produk K-beauty, misalnya Charlotte Cho dari Soko Glam percaya bahwa daya tarik utamanya adalah harga terjangkau dan kualitas tinggi. Ini masih bisa menjaga penjualan tetap stabil.

"Bahkan dengan kenaikan harga 10–20%, nilainya tetap lebih baik dibanding produk Eropa atau AS." katanya.

Namun di sisi lain, industri bisa terdampak lebih jauh dari yang terlihat. Jika AS mengenakan tarif pada produk dari Prancis, bisa jadi Prancis membalas dengan menggunakan tarif pada produk kecantikan dari AS. Ini bisa menurunkan ekspor dan memperkecil pasar global merek-merek asal Amerika.