JAKARTA - Sutradara Joko Anwar mengomentari penunjukan Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama Perum Produksi Film Negara (PFN). Ia menekankan bahwa jabatan tersebut seharusnya diisi oleh seseorang yang memiliki rekam jejak dan pengalaman dalam industri perfilman.
"Yang menjabat sebagai Dirut BUMN yang bergerak di perfilman nasional, harusnya kan paling tidak orang yang memiliki pengalaman," ujar Joko Anwar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 13 Maret.
Joko Anwar menegaskan bahwa seorang pemimpin di industri perfilman tidak harus berasal dari dunia film, tetapi harus memiliki pemahaman mendalam serta akuntabilitas tinggi.
"Bukan hanya produksi, tidak harus orang film juga sebenarnya, tapi pertama orang yang rekam jejaknya menunjukkan pengetahuan yang cukup untuk perfilman, kedua punya akuntabilitas tinggi. Dari dua itu, Ifan Seventeen punya apa enggak?" lanjutnya.
Menurutnya, dunia perfilman adalah industri yang kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam terkait dinamika bisnis, seni, serta perubahan sosial.
"Kita tahu perfilman adalah sebuah bisnis yang sangat kompleks, karena hubungan dengan bisnis sisi lainnya, seninya, sangat kompleks. Tidak bisa 50:50, selalu berubah-ubah, dengan ceritanya, dinamika masyarakat, dinamika waktu kapan dibikin, dan lain sebagainya," ujar Joko Anwar.
"Karena susah sekali untuk bisa memahami film baik produksinya hingga manajemennya in general, jadi harus dipegang Dirutnya," jelas Joko Anwar.
Ia juga mempertanyakan sejauh mana pengalaman Ifan Seventeen dalam industri film, mengingat latar belakangnya lebih dikenal sebagai musisi.
"Kalau dianggap PFN itu penting, harus dipegang sama orang yang memahami perfilman. Kalau Ifan Seventeen, ia adalah musisi, iya, tetapi kalau di film kan persinggungannya masih sangat kecil. Dia pernah jadi EP di film dokumenter, subyeknya juga dia. Dia mungkin juga terlibat di 1-2 film sebagai produser, tapi saya rasa juga masih belum cukup untuk memahami film," sambungnya.
BACA JUGA:
Joko Anwar juga menyoroti minimnya rekam jejak Ifan Seventeen dalam industri film Indonesia, sehingga menurutnya wajar jika publik mempertanyakan keputusan penunjukan tersebut.
"Karena selama ini kan dia juga tidak ada bicara soal film, tidak tunjukkan rekam jejaknya sinkron dengan kebutuhan film Indonesia. Ketika banyak orang protes kenapa Ifan (jadi Dirut PFN), ya itu valid," tuturnya.
"Karena tanpa memandang profesinya apa, dia tidak punya rekam jejak yang bisa bawa PFN jadi BUMN yang nantinya punya kontribusi untuk perfilman Indonesia," tandasnya.