Lee Kuan Yew Meninggal Dunia dalam Memori Hari Ini, 23 Maret 2015

JAKARTA – Memori hari ini, 10 tahun yang lalu, 23 Maret 2015, Bapak Singapura Modern, Lee Kuan Yew meninggal dunia. Kepergiannya membawa duka yang amat dalam bagi rakyat Singapura. Ucapan belasungkawa dari berbagai pemimpin dunia berdatangan.

Sebelumnya, jasa Lee membangun Singapura tiada dua. Tindak tanduknya bawa kemajuan bagi Singapura modern. Birokrasinya tertata rapi, meski kepemimpinan Lee juga bawa kritik. Ia pernah menerapkan ragam kebijakan kontroversial.

Eksistensi Singapura hidup di tengah ‘lautan’ Melayu tak mudah. Singapura butuh figur kuat supaya jadi negara besar. Beruntungnya Singapura punya Lee Kuan Yew. Pria kelahiran Singapura, 16 September 1923 itu punya banyak jurus membangun Singapura.

Perdana Menteri (PM) Singapura era 1959-1990 memang tak bisa membuat Negeri Singa Putih merger dengan Malaysia. Namun, ia tak gentar membangun Singapura modern dengan sumber daya yang ada. Ahli ekonomi itu mulai menganalisis kelemahan-kelemahan Singapura sedari awal menjabat.

Lee Kuan Yew adalah pelopor trik politik blusukan, salah satunya dengan memberi contoh langsung kepada masyarakat Singapura tentang menjaga kebersihan yang dia lakukan pada November 1959. (The Strait Times)

Ia mulai memkirkan bentuk Singapura Modern. Ia mulai membenahi segala macam bidang di Singapura. Singapura jadi maju. Lee membawa Singapura berinvestasi ke berbagai sektor, dari ekonomi hingga bisnis. Singapura jadi sejajar dengan negara maju.

Kondisi itu membuat Singapura mampu menghadirkan pendidikan, kesehatan, dan pelanan publik berkualitas tinggi. Pencapaian itu jelas tak mudah. Lee harus pula mengeluarkan kebijakan kontroversial untuk mencapai ambisinya membangun Singapura.

Lee sampai menghadirkan program Dua Anak Cukup – Stop at Two pada 1960-an. Ia melihat pertambahan penduduk yang cepat di Singapura harus dicegah. Apalagi Singapura mulai keterbatasan lahan.

Kebijakan itu membawakan hasil sehingga Singapura perlahan-lahan mulai membenahi sistem pemerintahan dan tak terjebak dengan kepadatan penduduk. Sekalipun Ia dikecam sana-sini karena membawa negara mengatur urusan pribadi.

PM Lee Kuan Yew bertemu Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta pada 29 Agustus 1974. (National Archives of Singapore)

Ia juga mengajak pemerintah Malaysia untuk jadi mak comblang generasi terpelajar supaya punya pasangan dengan pendidikan tinggi yang setara pada era 1980-an. Ia menginginkan supaya generasi yang lahir di Singapura adalah generasi cerdas karena gen orang tuanya. Lee lagi-lagi kena kritik.

"Jangan hiraukan kehebohan di media -- semua wartawan asing menulis bahwa pemerintah gila mencoba mencampuri kehidupan rakyat. Setiap tahun yang berlalu adalah tahun yang hilang. Dan Anda tidak mengambil keputusan dan langsung punya bayi."

“Kita dilahirkan tidak setara dan kita harus memanfaatkan semuanya sebaik-baiknya. Dan entah itu pohon buah, entah itu kuda pacu, apa pun itu, begitulah cara alam bekerja. Begitulah biokimia, bagaimana ia ditularkan: gen berkualitas” ujar Lee sebagaimana dikutip Nick B. William Jr dalam tulisannya di surat kabar Los Angeles Times berjudul Singapore Tries to Help Its Educated Women Trade Spinsterhood for Motherhood (1986).

Hasil ragam kebijakan revolusioner dan kontroversial ala Lee dapat rasakan hingga kini. Kemajuan muncul di mana-mana. Lee boleh saja tak lagi berkuasa. Namun, posisinya sebagai pahlawan bagi rakyat Malaysia bergema tak pernah hilang.

Belakangan, rakyat Singapura tak kuasa menahan kesedihan kala Lee terkujur lemah karena menderita penyakit pneumonia dalam beberapa tahun terakhir. Kesedihan itu kian menjadi-jadi karena Lee tak kuasa lagi menahan sakit dan meninggal dunia pada 23 Maret 2015.

Kepergian Lee membawa duka yang amat dalam bagi rakyat Singapura. Ucapan bela Sungkawa dari berbagai pemimpin dunia menghujani keluarga Lee dan pemerintah Singapura. Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pun mengucapkan rasa belasungkawanya mewakili rakyat Indonesia.

"Mendiang mantan PM adalah teman dekat Indonesia. Beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh politik berpengaruh di Asia. Di bawah kepemimpinannya, Singapura telah berhasil mentransformasikan diri menjadi hubungan ekonomi utama di kawasan Asia dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Pemerintah dan rakyat Indonesia berkeyakinan bahwa Singapura akan dapat melalui masa sulit ini dan tumbuh berkembang sesuai aspirasi bangsa dan rakyatnya," tegas Jokowi sebagaimana dikutip laman kompas.com, 23 Maret 2015.