YOGYAKARTA - CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) merupakan salah satu metode terapi pengganti ginjal yang digunakan pada pasien dengan penyakit ginjal kronis dengan metode cuci darah yang dilakukan lewat perut. Metode ini memanfaatkan selaput dalam rongga perut (peritoneum) yang memiliki permukaan luas dan banyak jaringan pembuluh darah sebagai filter alami ketika dilewati oleh zat sisa. Metode ini menjadi alternatif selain hemodialisis (cuci darah dengan mesin) dan transplantasi ginjal.
Cuci darah bermanfaat untuk membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme, elektrolit, mineral, dan cairan berlebihan akibat penurunan fungsi ginjal. Prosedur cuci darah, baik dengan metode CAPD atau hemodialisis, juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah.
Persiapan Sebelum Melakukan Prosedur CAPD
Dilansir dari Healthy, pasien diharuskan untuk menjalani operasi pemasangan kateter ke dalam rongga perut sebelum prosedur CAPD dilakukan. Kateter ini berfungsi sebagai tempat keluar-masuk cairan dialisis, yaitu cairan steril untuk menarik zat-zat sisa metabolisme, mineral, elektrolit, dan air dari dalam tubuh.
Dokter bedah akan membuat sayatan kecil (biasanya di samping bawah pusar) setelah pasien diberi obat bius total atau lokal. Kateter dari sayatan tersebut dimasukkan hingga mencapai rongga perut (rongga peritoneum). Jika operasi telah selesai, pasien mungkin diharuskan menjalani rawat inap semalaman. Namun, kebanyakan bisa langsung pulang. Kateter akan bekerja lebih baik jika luka operasi telah sembuh, yaitu sekitar 10–14 hari atau 1 bulan, meskipun cuci darah bisa dilakukan segera setelah kateter terpasang,
Perawat akan mengajari cara melakukan pertukaran cairan dengan benar, serta cara untuk menghindari infeksi. Pasien biasanya sudah dapat melakukannya sendiri di rumah setelah 1–2 minggu menjalani CAPD dengan bantuan perawat.
BACA JUGA:
Cara Kerja dan Prosedur CAPD
CAPD bekerja dengan memanfaatkan membran peritoneum sebagai filter alami di dalam tubuh. Proses CAPD terdiri dari beberapa tahapan utama berikut:
Proses Pertukaran Cairan (Exchange)
- Fill (pengisian): Cairan dialisat dimasukkan ke dalam rongga perut melalui kateter.
- Dwell (pendiaman): Cairan dibiarkan beberapa jam agar menyerap zat sisa dan racun dari darah.
- Drain (pengeluaran): Cairan yang telah mengandung limbah dikeluarkan dari tubuh.
Proses ini biasanya dilakukan 3–5 kali sehari dan dapat dilakukan di rumah, tempat kerja, atau lokasi lain yang bersih.
Cara Melakukan Prosedur CAPD
Pertama-tama, pasien perlu menempatkan kantong berisi cairan dialisis, seperti icodextrin, setinggi bahu. Lalu, cairan dialisis dari kantong tersebut dialirkan ke dalam rongga perut dengan bantuan gaya gravitasi.
Setelah cairan dialisis masuk seluruhnya ke dalam rongga perut, kateter harus ditutup rapat agar pasien bisa bergerak serta menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Setelah 4–6 jam, cairan dialisis yang mengandung zat sisa bisa dialirkan keluar dari rongga perut untuk kemudian dibuang ke toilet. CAPD bisa dilakukan sebanyak 3–6 kali dalam sehari, dengan satu kali pengisian cairan sebelum tidur.
Beragam Kelebihan CAPD
CAPD memiliki efektivitas yang hampir sama dengan hemodialisis (HD). Ada beberapa keunggulan CAPD jika dibandingkan dengan HD, yaitu:
- Tidak ada perubahan aliran darah drastis yang biasanya terjadi pada hemodialisis, sehingga beban pada jantung dan pembuluh darah lebih ringan.
- Penggunaan obat-obatan lebih sedikit.
- Lebih leluasa dan mandiri karena CAPD bisa dilakukan di mana pun asalkan tempat tersebut bersih.
- Waktu yang dibutuhkan untuk pertukaran cairan tidak lama sehingga pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa.
- Batasan makanan dan minuman tidak seketat pasien yang menjalani hemodialisis karena proses cuci darah lewat perut bisa dilakukan lebih sering intensitasnya.
- Fungsi ginjal bisa dipertahankan lebih lama.
- Risiko terjadinya demensia dan anemia lebih rendah.
Manfaat CAPD
CAPD sebagai terapi medis memiliki berbagai manfaat, yaitu:
- Fleksibel dan mandiri: Pasien dapat melakukan terapi sendiri tanpa harus sering ke rumah sakit.
- Kualitas hidup meningkat: Pasien tetap bisa beraktivitas normal seperti bekerja atau bersekolah.
- Lebih stabil bagi tubuh: Proses berlangsung terus-menerus sehingga tidak menyebabkan perubahan drastis pada tekanan darah.
- Tanpa mesin dan jarum: Tidak memerlukan alat besar seperti hemodialisis, sehingga lebih praktis.
Kondisi yang Tidak Memungkinkan untuk Dilakukan CAPD
CAPD belum tentu menjadi solusi yang tepat bagi semua penderita gagal ginjal. Ada beberapa kondisi yang membuat cuci darah lewat perut ini sulit atau bahkan tidak bisa dilakukan, yaitu:
- Obesitas atau kegemukan.
- Pernah menjalani operasi perut beberapa kali atau ada bekas luka operasi yang besar di perut.
- Mengalami penyakit Hernia, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, kanker usus, serta penyakit hati stadium akhir dengan asites.
- Adanya lubang atau stoma pada perut (ileostomi atau kolostomi).
- Kurang maMengalam.impu merawat diri sendiri atau terbatasnya bantuan orang lain
Risiko CAPD
Adapun beberapa risiko dan komplikasi dari CAPD, yaitu:
- Infeksi (peritonitis): Risiko utama akibat kurangnya kebersihan saat prosedur.
- Masalah pada kateter: Seperti penyumbatan atau iritasi di area pemasangan.
- Penumpukan cairan atau gangguan metabolik: Jika prosedur tidak dilakukan dengan benar.
CAPD merupakan inovasi penting dalam dunia medis sebagai solusi bagi penderita gagal ginjal kronis. Metode ini memungkinkan pasien menjalani terapi secara mandiri dan tetap mempertahankan kualitas hidup yang baik denngan memanfaatkan selaput peritoneum sebagai filter alami. CAPD menawarkan fleksibilitas tinggi serta proses yang lebih stabil bagi tubuh.
Namun demikian, keberhasilan terapi CAPD sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam menjaga kebersihan, mengikuti prosedur dengan benar, serta melakukan kontrol rutin ke tenaga medis. Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjalani CAPD, maka pasien perlu mendapatkan edukasi yang memadai dari tenaga kesehatan agar terapi ini dapat memberikan manfaat optimal dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.
Demikianlah ulasan untuk mengenal CAPD. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.