Bagikan:

JAKARTA - Transformasi di dunia kesehatan terus berkembang pesat, termasuk dalam bidang bedah urologi. Kemajuan teknologi menghadirkan metode operasi yang semakin presisi, minim sayatan, serta mendukung proses pemulihan pasien yang lebih cepat.

Salah satu inovasi yang kini mulai banyak digunakan adalah sistem bedah robotik yang membantu dokter melakukan tindakan dengan tingkat akurasi lebih tinggi.

Bedah urologi berbasis robot dinilai mampu menekan efek samping sekaligus meningkatkan ketepatan prosedur. Di Indonesia, teknologi tersebut hadir melalui penggunaan Da Vinci Surgical System, sebuah sistem bedah robotik yang memungkinkan tindakan minimal invasif dengan risiko komplikasi lebih rendah.

Teknologi ini diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran pusat layanan SURE (Summit Robotic & Endourology Institute) di Eka Hospital MT Haryono pada Rabu, 18 Februari 2026.

Layanan tersebut mengintegrasikan keahlian dokter spesialis urologi dengan dukungan teknologi robotik modern guna meningkatkan kualitas penanganan pasien.

Dokter Spesialis Urologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal, menjelaskan bahwa keunggulan utama teknologi robotik terletak pada tingkat presisi saat melakukan tindakan operasi.

"Dari segi presisi, bedah robotik memang paling, karena ada dokter juga manusia yang ada batasnya. Tapi kehadirannya bukan untuk menggantikan dokter, melainkan menyempurnakan bedah di bidang kedokteran,” ujarnya.

Meski demikian, penggunaan teknologi ini tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Ia menyebutkan prosedur robotik paling optimal diterapkan pada kasus tertentu, terutama tumor stadium awal.

"Paling bagus tadi kalau kita bicara tumor, tentu tumor yang stadium awal. Stadium satu, itu yang paling bisa kita kerjakan," tuturnya.

Untuk kasus stadium lanjut, pemanfaatan teknologi ini masih terbatas dan terus dalam tahap evaluasi. Selain meningkatkan presisi, sistem robotik juga dinilai mampu menekan risiko komplikasi pascaoperasi. Pada tindakan operasi radikal prostat, misalnya, risiko inkontinensia urine dapat diminimalkan.

"Komplikasi yang paling bisa ditekan kalau operasi radikal prostat adalah mengompol pasca operasi," kata Prof. Agus.

Pada operasi pengangkatan tumor ginjal, risiko perdarahan juga dapat ditekan berkat teknik penjahitan yang lebih akurat menggunakan lengan robotik. Dengan robotik, beberapa kasus terakhir juga mampu meminimalisasi perdarahan.

Sementara itu, Direktur Eka Hospital MT Haryono, dr. Sheirly Novan Indra, menyampaikan bahwa kehadiran pusat layanan SURE merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan berstandar global.

"Melalui teknologi robotik Da Vinci, kami ingin memberikan pengalaman pelayanan bedah robotik yang aman dan nyaman bagi pasien,” ucapnya.

Dalam praktiknya, prosedur bedah robotik dilakukan melalui sayatan kecil dengan bantuan lengan robot yang dikendalikan sepenuhnya oleh dokter operator. Visualisasi tiga dimensi serta fleksibilitas gerakan instrumen memungkinkan tindakan yang lebih presisi dibanding metode konvensional maupun laparoskopi.

Manfaat yang dirasakan pasien antara lain nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, risiko komplikasi lebih rendah, masa rawat inap lebih singkat, serta waktu pemulihan yang lebih cepat sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dalam waktu relatif singkat.

Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai prosedur urologi seperti operasi prostat, pengangkatan tumor ginjal, hingga penanganan batu ginjal kompleks.