Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menepis pertanyaan mengenai memar yang terlihat di tangan kirinya pada Kamis, 22 Januari 2026 dengan memberikan penjelasan sederhana dan menegaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Dalam keterangannya kepada wartawan di pesawat Air Force One saat kembali ke AS, Trump mengatakan memar itu terjadi akibat kecelakaan kecil.

"Saya tersenggol meja," ujarnya sembari mengakui telah mengoleskan krim, dikutip dari laman India Today.

Saat ditanya apakah ia merasa baik-baik saja setelah penerbangan, Presiden menjawab "Saya sangat baik."

Trump juga menyebut memar itu dipengaruhi oleh konsumsi aspirin yang rutin, yang membuatnya lebih mudah memar atau mengalami perubahan warna kulit.

"Saya minum aspirin dosis besar. Kalau minum aspirin besar, mereka bilang, mudah memar," jelasnya.

Menurut Trump, dokternya sebenarnya pernah menyarankan bahwa dosis tinggi tersebut mungkin tidak perlu.

"Dokter bilang, 'Anda tidak perlu minum itu, Pak, Anda sangat sehat,'. Saya bilang, 'Saya tidak mau mengambil risiko,'" kenang Trump.

Sebelumnya Gedung Putih membenarkan bahwa Trump mengalami cedera tangan saat upacara penandatanganan Board of Peace di Davos, Swiss.

"Presiden Trump terbentur tangan pada sudut meja penandatanganan, sehingga memar," kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt dalam pernyataan resmi.

Rekaman video dari acara penandatanganan tersebut menunjukkan bahwa memar hampir tidak terlihat di awal acara, meski tanda itu menjadi lebih jelas saat Trump duduk menandatangani dokumen.

Memar pada tangan Trump pernah menarik perhatian publik sebelumnya, terutama setelah terlihat menutupinya dengan makeup atau plester saat tampil di depan umum.

Trump sebelumnya mengaku kepada The Wall Street Journal bahwa ia rutin mengonsumsi dosis aspirin harian lebih tinggi dari yang direkomendasikan, karena menurutnya membantu mengencerkan darah dan mengurangi risiko jantung. Ia mengaku selalu mengambil dosis besar dan enggan menguranginya.

"Saya agak superstitious," katanya.

Sepanjang tahun 2025, kesehatan Donald Trump menjadi sorotan publik. Pada Juli, Gedung Putih berusaha menenangkan kekhawatiran dengan mengungkapkan bahwa Trump didiagnosis mengalami insufisiensi vena kronis, kondisi umum pada orang tua yang menyebabkan darah menumpuk di kaki setelah pemeriksaan medis menyingkirkan masalah serius seperti gagal jantung.

Spekulasi semakin berkembang di dunia maya setelah muncul klaim yang belum diverifikasi Trump mungkin mengalami stroke awal tahun ini. Kritikus merujuk pada video yang menunjukkan perubahan pada kata-kata yang sesekali terdengar tergagap dan tampak mengantuk di siang hari. Dokter Gedung Putih menolak klaim tersebut. Hal ini menegaskan Trump berada dalam kondisi sehat dan hasil pemindaian serta tes metabolik menunjukkan hasil normal.