JAKARTA - Serangan jantung merupakan kondisi gawat darurat medis yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Tidak hanya menyerang orang lanjut usia, penyakit ini juga bisa dialami oleh usia produktif, bahkan tanpa riwayat penyakit jantung sebelumnya.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai tanda-tanda serangan jantung serta langkah pertolongan awal sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat luas.
Banyak orang masih menganggap bahwa penanganan serangan jantung sepenuhnya merupakan tanggung jawab tenaga medis. Padahal, tindakan awal yang dilakukan oleh orang di sekitar pasien dapat berperan besar dalam menyelamatkan nyawa serta mencegah kerusakan jantung yang lebih parah.
Salah satu gejala paling umum dari serangan jantung adalah nyeri dada, yang biasanya terasa seperti ditekan, tertimpa beban berat, atau nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, hingga punggung. Selain itu, pasien juga bisa mengalami sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, dan rasa lelah yang tidak biasa.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Isman Firdaus, Sp.JP SubSp IKKV (K), KI (K), MPH menegaskan ketika seseorang menunjukkan gejala nyeri dada yang dicurigai sebagai serangan jantung, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan aktivitas pasien.
“Hal terpenting adalah memastikan pasien segera beristirahat. Jangan sampai mereka berjalan atau melakukan aktivitas fisik karena itu akan membuat kerja jantung semakin berat,” jelas dr. Isman, dikutip dari kanal YouTube PJN Harapan Kita pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut dr. Isman, pasien sebaiknya ditempatkan dalam posisi duduk atau berbaring dengan tubuh bagian atas sedikit ditinggikan, sekitar 30 hingga 40 derajat. Posisi ini membantu mengurangi beban kerja jantung dan membuat pasien bernapas lebih nyaman.
“Orang di sekitarnya bisa membantu dengan memposisikan pasien duduk atau setengah berbaring. Setelah itu, segera minta bantuan atau antarkan pasien ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.
Ia menekankan keterlambatan mendapatkan penanganan medis dapat berdampak fatal. Oleh sebab itu, pasien tidak dianjurkan menunda pemeriksaan dengan alasan rasa nyeri akan hilang dengan sendirinya.
dr. Isman menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan jantung seperti elektrokardiografi (EKG) dapat menunjukkan jenis serangan jantung yang dialami pasien. Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI).
“Jika dari pemeriksaan EKG ditemukan adanya ST elevasi, maka kondisi tersebut disebut STEMI. Ini adalah serangan jantung berat yang membutuhkan penanganan cepat berupa reperfusi,” ungkapnya.
STEMI terjadi akibat sumbatan total pada pembuluh darah koroner sehingga aliran darah ke otot jantung terhenti. Tanpa penanganan segera, jaringan jantung dapat mengalami kerusakan permanen.
Pada pasien STEMI, salah satu tindakan medis yang umum dilakukan adalah pemasangan ring jantung atau stent. Prosedur ini bertujuan untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat agar aliran darah kembali normal.
“Ring jantung berfungsi untuk membuka arteri yang tersumbat dan menjaga agar pembuluh darah tetap terbuka,” kata dr. Isman.
BACA JUGA:
Selain melancarkan aliran darah, pemasangan ring juga berperan dalam mencegah terbentuknya sumbatan baru serta menurunkan risiko serangan jantung berulang di kemudian hari.
Dr. Isman menekankan pentingnya waktu dalam penanganan pasien STEMI. Terdapat periode emas atau golden period yang sangat menentukan keberhasilan terapi.
“Kami memiliki waktu sekitar 12 jam untuk melakukan tindakan reperfusi. Misalnya serangan terjadi pukul 6 pagi, maka hingga pukul 6 sore masih ada kesempatan untuk membuka sumbatan tersebut,” jelasnya.
Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin besar peluang jantung untuk pulih dan berfungsi dengan baik.
Selain pertolongan dari orang sekitar, pasien juga diimbau untuk tetap tenang saat mengalami nyeri dada. Panik dan aktivitas berlebihan justru dapat memperparah kondisi.
“Jika mengalami nyeri dada, usahakan tetap tenang, jangan mengejan, hindari aktivitas berat, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan perekaman jantung,” tutur dr. Isman.
Pemeriksaan dini sangat penting untuk memastikan apakah keluhan tersebut merupakan serangan jantung atau kondisi lain yang menyerupai gejalanya.
Serangan jantung dapat ditangani dengan baik jika dikenali sejak dini dan ditangani secara cepat. Kesadaran masyarakat mengenai gejala serta langkah pertolongan awal menjadi kunci utama dalam menekan angka kematian akibat penyakit jantung.
Dengan tetap tenang, memberikan pertolongan yang tepat, dan segera mencari bantuan medis, peluang keselamatan pasien serangan jantung dapat meningkat secara signifikan.