Bagikan:

JAKARTA - Tenaga kesehatan (nakes) memegang peran krusial dalam penanganan situasi darurat, terutama saat bencana melanda dan layanan medis menjadi kebutuhan mendesak.

Di tengah keterbatasan akses dan meningkatnya jumlah korban terdampak, kehadiran nakes di lapangan menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan ribuan relawan kesehatan ke wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh.

Sejak awal masa tanggap darurat, sebanyak 3.719 relawan telah diturunkan dan disalurkan melalui berbagai fasilitas layanan kesehatan, termasuk ratusan pos kesehatan yang menjangkau lokasi pengungsian.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyampaikan bahwa seluruh sumber daya tenaga kesehatan dimobilisasi secara optimal agar pelayanan medis dapat menjangkau setiap wilayah sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

"Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan (nakes) yang ada dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhuhannya," kata Agus di Jakarta, seperti dikutip ANTARA.

Ia menjelaskan mobilisasi dan koordinasi para relawan dilakukan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC), yang bekerja sesuai prosedur penanggulangan bencana Kemenkes.

Menurutnya, HEOC telah dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga pascabencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini bertugas menganalisis kebutuhan tenaga kesehatan sekaligus mengatur distribusi, penempatan, dan pergerakan relawan agar pelayanan kesehatan dapat berjalan efektif dan merata.

Berdasarkan laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan, relawan kesehatan saat ini tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi. Kabupaten Pidie Jaya menjadi wilayah dengan jumlah relawan terbanyak, yakni 1.065 orang, disusul Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.

"Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan. Saat ini layanan kesehatan diberikan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 RS pemerintah (RSUD dan RS TNI/Polri), dan 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian," ujarnya.

Agus menyoroti tantangan utama dalam pengelolaan relawan adalah menjaga kelancaran sistem rotasi tanpa mengganggu kesinambungan pelayanan di fasilitas kesehatan.

"Dengan rata-rata masa tugas relawan 10–12 hari, penugasan diatur agar setiap fasilitas tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat," katanya.

Dari segi komposisi, relawan didominasi tenaga medis lapangan. Perawat menjadi profesi terbanyak dengan jumlah 923 orang, disusul tenaga kesehatan lainnya sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, serta dokter spesialis sebanyak 264 orang.

Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, dan 350 tenaga nonkesehatan yang mendukung operasional pelayanan. Sejumlah profesi pendukung juga dilibatkan, seperti tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan.

Jika dilihat dari asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah dengan total 2.399 orang. Dukungan tambahan datang dari kalangan akademisi sebanyak 780 orang, lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebanyak 307 orang, serta organisasi profesi dengan jumlah 233 orang.