Bagikan:

JAKARTA - Risiko stunting masih menjadi tantangan serius bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Kondisi gagal tumbuh pada anak ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif dan daya saing generasi mendatang.

Berbagai faktor seperti kurangnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang buruk, serta minimnya edukasi gizi di tingkat keluarga membuat upaya penurunan stunting memerlukan kerja sama banyak pihak.

Dalam upaya mempercepat pencegahan stunting, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggerakkan para penyuluh untuk berperan sebagai orang tua asuh bagi anak-anak berisiko stunting.

Langkah ini dilakukan untuk mendukung terwujudnya generasi emas Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.

Kepala BKKBN, Wihaji, menjelaskan bahwa seluruh daerah di 514 kabupaten/kota telah memiliki orang tua asuh yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari penyuluh, BUMD, hingga perusahaan swasta.

Menurutnya, meskipun kontribusi setiap orang tua asuh tidak selalu besar, komitmen dan kepedulian mereka menjadi kekuatan penting dalam mendampingi keluarga berisiko. Data keberadaan para orang tua asuh tersebut juga dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah memang telah menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendukung pemenuhan gizi anak usia 0–2 tahun. Namun, masih banyak faktor lain yang memengaruhi tingginya angka stunting, seperti minimnya akses air bersih dan sanitasi layak.

Karena itu, sejumlah perusahaan turut berkontribusi menyediakan bantuan, misalnya suplai air bersih di wilayah perkebunan tempat masih ditemukan keluarga berisiko stunting.

Selain itu, kondisi rumah yang tidak layak huni serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang berada satu ruangan dengan area tidur juga menjadi penyebab tingginya risiko kesehatan. Pola hidup dan sanitasi yang tidak memenuhi standar kesehatan tersebut dapat memperbesar peluang terjadinya stunting pada anak.

Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), para pendamping dari berbagai unsur pentahelix didorong untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga berisiko, baik berupa perbaikan akses gizi, air bersih, maupun sanitasi. Perguruan tinggi juga dilibatkan untuk memberikan edukasi gizi kepada keluarga, karena kurangnya pengetahuan sering kali menjadi hambatan, bahkan pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya cukup.

Wihaji menuturkan bahwa dampak intervensi gizi melalui MBG memang belum bisa diukur secara nasional karena Survei Kesehatan Indonesia (SKI) baru akan dilakukan pada 2026. Namun, laporan Tim Pendamping Keluarga (TPK) menunjukkan adanya peningkatan berat dan tinggi badan pada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang memperoleh bantuan tersebut. Ia menegaskan bahwa meskipun bukti awal positif, data resmi yang terukur akan dirilis setelah survei nasional dilakukan.