Bagikan:

JAKARTA - Makanan ultra proses (ultra-processed food/UPG) jika konsumsinya tidak dibatasi bisa berakibat buruk pada berbagai organ tubuh, termasuk otak. Studi terbaru menemukan kaitan antara konsumsi UPF dengan perubahan struktur otak, yang memicu perilaku makan secara berlebihan.

Penelitian tersebut menganalisis pemindaian otak lebih dari 30 ribu partisipan dan menemukan adanya perbedaan nyata pada otak orang yang sering mengonsumsi UPF. Perbedaan tersebut diduga membentuk semacam siklus berulang, di mana otak mendorong keinginan makan banyak, pola yang menyerupai kecanduan makanan.

Salah satu penulis utama studi dari Universitas Helsinki, Arsene Kanyamibwa, mengatakan bahwa hubungan antara konsumsi UPF dengan perubahan struktur otak tidak sepenuhnya dijelaskan akibat faktor obesitas dan peradangan. Bahan yang ada dalam UPF disebut bisa berperan dalam terjadinya perubahan tersebut.

“Bahan tambahan khas dalam UPF, seperti emulsifier, juga mungkin berperan,”kata Arsene, dikutip dari Science Daily, pada Rabu, 26 November 2025.

Pada UPF umumnya mengandung bahan kimia yang dimodifikasi secara industri. Berbagai zat aditif buatan juga terdapat di dalam UPF, seperti pewarna, perasa, pengawet, dan emulsifier.

Beberapa jenis UPF yang sering ditemui di pasaran adalah sosis, nugget, minuman bersoda, camilan kemasan, hingga berbagai makanan cepat saji.

Konsumsi makanan-makanan tersebut memang telah lama dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan pada tubuh. Mulai dari meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan berdasarkan studi terbaru ini dapat menyebabkan perubahn struktur otak dan mengganggu fungsinya.

Arsene menyampaikan bahwa hasil studi ini menambah bukti penting tentang bagaimana pola makan modern sepertu konsumsi UPF rutin bisa mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Dengan itu, diminta masyarakat untuk mengurangi konsumsi UPF dan pemerintah tiap negara memperketat regulasi industri pangan.

“Dengan makin banyaknya bukti ilmiah, mengurangi konsumsi UPF dan memperketat regulasi industri pangan bisa menjadi langkah penting untuk kesehatan publik,” pungkasnya.