Bagikan:

JAKARTA - Turunnya air hujan biasanya jadi kabar gembira bagi banyak orang. Hujan membantu menyuburkan tanah, mengisi sumber air dan memberikan kesejukan setelah hari yang panas. Tapi siapa sangka, tetes hujan yang selama ini dianggap murni ternyata juga membawa ancaman baru.

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini menemukan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik, potongan plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari aktivitas manusia. Temuan ini menunjukkan polusi plastik sudah mencapai udara yang telah dihirup, air diminum, hingga mungkin ada tubuh kita sendiri.

Namun kabar buruknya, para ilmuwan dunia kini menemukan mikroplastik juga telah masuk ke otak manusia. Selama ini, kita tahu laut dan tanah tercemar plastik.

Kini penelitian-penelitian terbaru menunjukkan partikel mikroplastik juga telah ditemukan di organ-organ penting manusia seperti paru-paru, hati, ginjal, darah, sumsum tulang, hingga organ reproduksi.

Mikroplastik ini berukuran kurang dari 5 milimeter, sebagian mikroskopis yang bisa masuk melalui tubuh lewat udara, makanan, atau air minum. Plastik yang dibuang sembarangan di jalanan, pakaian sintetis, hingga kemasan sekali pakai yang digunakan setiap hari, semuanya berkontribusi pada masalah ini.

“Sudah saatnya dunia mengumumkan keadaan darurat global untuk menghadapi krisis plastik,” ujar Sedat Gündoğdu, peneliti dari Universitas Cukurova, Turki, dikutip dari laman The Guardian.

Salah satu penelitian terbaru yang dilakukan di Amerika Serikat menemukan hal yang mengejutkan. Otak manusia merupakan salah satu jaringan tubuh yang paling banyak mengandung mikroplastik.

Peneliti memeriksa organ tubuh dari jenazah, termasuk otak, hati, dan ginjal.

Hasilnya setiap otak yang diuji mengandung plastik dengan jumlah 10 hingga 20 kali lebih banyak dibanding organ lain. Bahkan dalam beberapa sampel otak ditemukan sekitar 0,5% dari total beratnya adalah plastik.

Matthew Campen, profesor dari Universitas New Mexico yang memimpin penelitian itu, mengaku terkejut.

"Jumlah plastik di otak manusia jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan. Itu benar-benar mengkhawatirkan," jelasnya.

Hal yang lebih mencengangkan, pada otak penderita Alzheimer dan demensia, kadar mikroplastik ditemukan hingga 10 kali lebih tinggidibanding otak orang sehat. Walau hubungan langsungnya belum dipastikan, para ilmuwan menduga akumulasi plastik bisa berperan dalam gangguan fungsi otak.

Selain itu, jumlah mikroplastik dalam sampel otak manusia terus meningkat. Data menunjukkan kadar plastik di otak tahun 2024 sekitar 50% lebih tinggi dibanding sampel tahun 2016. Hal ini sejalan dengan meningkatnya pencemaran di lingkungan.

Masalahnya tidak berhenti di otak. Studi lain di China, Italia, dan Amerika juga menemukan mikroplastik di organ reproduksi pria dan wanita. Partikel kecil ini ditemukan di testis, sperma, hingga jaringan penis.

Penelitian di Beijing juga menemukan mikroplastik pada semua pasien yang menjalani operasi sendi lutut dan panggul. Sementara itu, studi di Italia menunjukkan  hampir 60% pasien dengan penyumbatan pembuluh darah leher memiliki mikroplastik dalam plak lemaknya. Mereka dua kali lebih berisiko mengalami serangan jantung atau stroke.

Hal paling baru, jurnal Journal of Hazardous Materials melaporkan temuan mikroplastik di sumsum tulang manusia untuk pertama kalinya. Hampir semua sampel mengandung polistirena (bahan styrofoam) dan polietilena (bahan pembungkus makanan dan botol plastik).

“Dampaknya terhadap kesehatan masih belum bisa dipastikan, tapi akumulasi plastik di jaringan sensitif seperti otak atau organ reproduksi jelas bukan kabar baik,” kata Dr. Ranjith Ramasamy dari Universitas Miami.

Meski Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyebut belum ada bukti kuat bahwa mikroplastik di makanan langsung berbahaya bagi manusia, para ahli menegaskan bahwa risiko jangka panjangnya harus diwaspadai.

Leonardo Trasande, peneliti dari Universitas New York mengatakan mikroplastik bisa membawa bahan kimia beracun seperti ftalat ke dalam tubuh. Senyawa ini diketahui dapat mengganggu hormon, meningkatkan risiko penyakit jantung, dan bahkan memperpendek umur.

Untuk mengurangi paparan mikroplastik, para ahli menyarankan agar masyarakat yakni:

- Menghindari penggunaan wadah plastik untuk memanaskan makanan.

- Lebih sering minum air dari keran atau galon isi ulang dibanding air kemasan.

- Mengurangi konsumsi makanan olahan.

- Menjaga kebersihan rumah dari debu yang bisa mengandung partikel plastik.

PBB sebenarnya sudah mulai menyusun perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik sejak dua tahun lalu. Namun, langkah ini berjalan lambat. Sementara itu, produksi plastik terus meningkat setiap tahun, dan partikel-partikel kecilnya kini bahkan bisa ditemukan di udara, laut dalam, gunung salju, hingga otak manusia.

“Dari laut terdalam sampai atmosfer, bahkan ke dalam otak kita sendiri, tidak ada lagi tempat di Bumi yang benar-benar bersih." ujar Bethanie Carney Almroth, pakar ekotoksikologi dari Universitas Gothenburg, Swedia.