YOGYAKARTA - Ada banyak penyebab bayi susah BAB. Salah satu penyebabnya yaitu masalah pada pencernaan. Selain itu, setiap ibu juga harus memahami gejalanya agar kondisi tersebut dapat diatasi dengan segera, sehingga tidak menimbulkan gangguan pada tumbuh kembang bayi.
Gejala Bayi Susah BAB
Agar segera dapat menentukan tindakan, penting bagi kita mengenali gejala konstipasi pada bayi. Beberapa gejala umum bayi susah BAB antara lain:
- Feses yang keras dan sulit keluar.
- Frekuensi BAB lebih jarang dari biasanya.
- Perut bayi terasa keras dan kembung.
- Bayi terlihat mengejan atau menangis saat BAB.
- Bayi menjadi rewel dan mudah marah.
- Nafsu makan menjadi berkurang.
Bayi Susah BAB, Apa Penyebabnya?
Ada banyak penyebab bayi susah BAB yang harus diketahui. Setelah memahami penyebabnya, dokter akan menentukan perawatan yang tepat untuk anak. Beberapa penyebab bayi susah BAB antara lain sebagai berikut:
Kelahiran prematur
Bayi yang lahir secara prematur akan berisiko tinggi mengalami konstipasi. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan bayi yang belum optimal saat dilahirkan.
Pengonsumsian ASI akan bergerak lebih lambat melalui pencernaan sehingga tidak terproses dengan baik. Kondisi ini akan menjadikan feses keras dan kering sehingga bayi mengalami konstipasi.
Mengalami gangguan kesehatan
Selain kekurangan cairan, bayi juga dapat mengalami konstipasi saat mengalami gangguan kesehatan, khususnya untuk sistem pencernaan.
Jika kondisi tersebut tidak membaik dalam waktu beberapa hari, segera tanyakan langsung pada dokter spesialis anak.
Melakukan pendeteksian penyakit dan penanganan yang lebih dini membuat pengobatan menjadi lebih mudah untuk diterapkan.
Dehidrasi
Kekurangan cairan akan menyebabkan bayi mengalami konstipasi. Ketika bayi dehidrasi, feses pun menjadi keras dan kering sehingga sulit untuk dikeluarkan. Oleh karena itu, pastikan bayi menerima cukup ASI untuk mencegah konstipasi.
Perubahan pola makan
Ketika bayi sudah mengonsumsi makanan pendamping ASI, kondisi ini akan meningkatkan risiko konstipasi. Perubahan pola makan dapat berpengaruh pada konsistensi dan frekuensi buang air besar.
Makanan yang kurang serat dan perubahan tekstur juga dapat menjadi pemicu perubahan dalam pencernaan bayi. Jadi, pastikan ibu memberikan tahapan tekstur makanan yang tepat pada bayi.
Asupan susu formula
Jenis makanan yang diberikan kepada bayi akan berpengaruh pada pola buang air besarnya.
ASI memiliki kandungan nutrisi alami dan serat yang lebih mudah dicerna, sehingga cenderung mengurangi risiko sembelit.
Formula susu juga cenderung mempunyai komposisi yang berbeda dan mungkin kurang serat, yang dapat menyebabkan bayi lebih sulit buang air besar.
Bagaimana Mengatasi Bayi Susah BAB?
Lantas, bagaimana mengatasi bayi susah BAB? Ibu dapat mencoba untuk menerapkan beberapa cara sederhana di rumah sebagai langkah perawatan yang pertama, antara lain:
Mandikan dengan air hangat
Anda juga dapat memandikan anak dengan air hangat. Perawatan ini menjadikan anak lebih rileks dan nyaman, sehingga mengurangi rewel yang terjadi saat anak kesulitan BAB.
Dilansir dari International Scholarship Conference dengan judul The Effectiveness of Warm Water Therapy for Constipation, air hangat dapat melembapkan feses dalam usus sehingga feses akan lebih mudah dikeluarkan.
Perbanyak asupan air putih
Selain asupan ASI, jika anak sudah masuk usia 6 bulan ke atas, Anda dapat memberikan anak asupan air putih. Dilansir dari Current Research in Nutrition and Food Science dengan judul Water Intake, Dietary Fibre, Defecatory Habits and its Association with Chronic Functional Constipation, kurang air putih dapat menyebabkan feses menjadi keras sehingga terjadilah konstipasi.
Dengan memberikan banyak asupan air putih, feses akan lebih lembut dan mudah bergerak pada saluran pencernaan sehingga konstipasi pada anak dapat dihindari.
Lebih rutin memberikan ASI
Jika konstipasi terjadi karena kekurangan cairan, cobalah rutin berikan ASI secara langsung agar kebutuhan cairan tubuh pada bayi dapat terpenuhi.
Jika bayi sudah berusia di atas enam bulan atau telah menjalani MPASI, Anda dapat memberikan cairan lain, misalnya air putih atau jus apel tanpa gula.
Berikan pijatan lembut
Selain itu, Anda bisa memberikan pijatan lembut pada bagian perut bayi untuk membantu melancarkan BAB. Dilansirkan dari Jurnal Kedokteran Universitas Lampung dengan judul Pengaruh Terapi Pijat Terhadap Konstipasi, pijat dapat menstimulasi gerakan peristaltik dan meningkatkan frekuensi buang air besar pada pengidap konstipasi.
Teknik pijat dapat menangani konstipasi sebab berhubungan dengan kombinasi stimulasi dan relaksasi. Namun, sebelum memberikan pijatan pada bayi, pastikan suhu ruangan nyaman untuk bayi saat tidak mengenakan pakaian, hangatkan tangan ibu terlebih dahulu, dan jadikan suasana lebih nyaman.
Gunakan minyak yang sesuai dengan kondisi kulit bayi. Untuk mengawali pijatan, letakkan tangan pada bawah pusar. Usap perlahan ke arah bawah seperti mengayuh. Selanjutnya, usap lembut dengan membentuk lingkaran searah jarum jam.
Setelah itu, Anda dapat mencoba untuk menggerakkan kaki bayi seperti mengayuh sepeda. Berikan pijatan secara perlahan dengan lembut dan nyaman.
Atur jenis makanan dan minuman anak
Ketika anak masuk usia MPASI, Anda dapat menangani konstipasi dengan mengatur jenis makanan dan minuman anak. Pilihlah beberapa buah dan sayur yang baik untuk melancarkan pencernaan, misalnya pir dan brokoli.
Selain itu, perhatikan pula pemberian tekstur makanan dan porsinya. Pastikan teksturnya sesuai dengan usia anak. Berikan porsi dalam jumlah yang kecil atau sedikit terlebih dahulu.
Mengajak bayi melakukan aktivitas fisik
Jika bayi sudah belajar merangkak atau mampu duduk sendiri, cobalah untuk mengajaknya menjalani aktivitas fisik.
Pergerakan tersebut membuat feses lebih mudah untuk bergerak dan keluar.
Ubah posisi menyusui
Beberapa posisi menyusui dapat membantu bayi lebih mudah mengeluarkan gas dan feses. Posisikan bayi tegak atau semi-tegak saat menyusui. Hindari membaringkan bayi sepenuhnya saat menyusui, sebab posisi ini dapat menjadikan bayi lebih sulit mengeluarkan gas.
Lakukan pemeriksaan secara medis
Jika berbagai cara alami tidak menjadikan konstipasi membaik, segera lakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Konstipasi yang tidak membaik tentunya membutuhkan pengobatan secara medis.
Demikianlah ulasan mengenai penyebab bayi susah BAB dan cara mengatasinya. Semoga informasi ini bermanfaat! Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.