YOGYAKARTA - Penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium merupakan kondisi yang terjadi ketika lapisan rahim menebal secara tidak normal dan memicu gangguan perdarahan. Jika tidak ditangani dengan tepat, penebalan dinding rahim dapat meningkatkan risiko kanker rahim.
Banyak wanita menganggap perdarahan tidak teratur sebagai hal wajar, khususnya pada masa transisi menopause. Padahal, perdarahan hebat atau tidak normal bisa menjadi tanda adanya masalah pada endometrium. Karena itu, pemahaman tentang penebalan dinding rahim sangat penting untuk deteksi dini.
Apa Itu Penebalan Dinding Rahim?
Dilansir dari Cleveland Clinic, Penebalan dinding rahim dikenal secara medis sebagai hiperplasia endometrium. Kondisi ini terjadi ketika lapisan rahim atau endometrium menjadi terlalu tebal akibat pertumbuhan sel yang berlebihan. Endometrium sendiri adalah jaringan yang luruh saat menstruasi dan menjadi tempat berkembangnya janin selama kehamilan.
Hiperplasia endometrium dapat berkembang menjadi kanker endometrium atau kanker rahim. Risiko ini terutama meningkat pada jenis hiperplasia endometrium yang disertai perubahan sel abnormal atau atipia. Sebab itu, diagnosis dan klasifikasi kondisi ini sangat penting dilakukan oleh tenaga medis.
Penyedia layanan kesehatan mengelompokkan hiperplasia endometrium berdasarkan perubahan sel yang terjadi. Jenis tanpa atipia memiliki sel yang tampak normal dan risiko kanker yang lebih rendah. Sementara itu, hiperplasia endometrium atipikal memiliki peluang lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker jika tidak diobati.
Hiperplasia endometrium tanpa atipia dapat berupa tipe sederhana atau kompleks. Pada kondisi ini, pengobatan hormon seperti progestin tidak jarang efektif untuk mengurangi penebalan. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membaik tanpa terapi khusus.
Sebaliknya, hiperplasia endometrium dengan atipia memerlukan penanganan yang lebih serius. Tanpa pengobatan, risiko kanker endometrium atau kanker rahim akan meningkat secara signifikan. Pada wanita dengan risiko kanker tinggi, pengangkatan rahim dapat menjadi salah satu pilihan medis.
BACA JUGA:
Gejala Penebalan Dinding Rahim
Gejala penebalan dinding rahim paling umum adalah perdarahan menstruasi yang tidak normal. Wanita dapat mengalami perdarahan di luar siklus menstruasi atau perdarahan tidak normal. Kondisi ini bisa menjadi tanda awal hiperplasia endometrium.
Selain itu, siklus menstruasi dapat menjadi lebih pendek dari biasanya, yaitu kurang dari 21 hari. Beberapa wanita juga mengalami amenore atau tidak mengalami menstruasi sama sekali. Perubahan ini sering terjadi pada wanita yang sedang memasuki masa transisi menopause.
Perdarahan setelah menopause merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Kondisi ini tidak dianggap normal dan memerlukan pemeriksaan medis segera. Deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Dalam beberapa kasus, hiperplasia endometrium juga dapat menyebabkan nyeri. Nyeri dapat dirasakan di area perut bawah atau panggul. Sebagian wanita bahkan mengalami nyeri saat berhubungan seksual atau dispareunia.
Meski demikian, tidak semua wanita mengalami nyeri. Banyak kasus hiperplasia endometrium hanya ditandai dengan perdarahan abnormal. Karena itu, perubahan pola menstruasi tidak boleh diabaikan. Disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan.
Penyebab Penebalan Dinding Rahim
Penyebab utama penebalan dinding rahim adalah ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Wanita dengan kondisi ini biasanya menghasilkan terlalu banyak estrogen dan kekurangan progesteron. Ketidakseimbangan ini memicu pertumbuhan endometrium secara berlebihan.
Dalam siklus normal, estrogen berfungsi menebalkan endometrium selama ovulasi. Progesteron kemudian mempersiapkan rahim untuk kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi, kadar progesteron menurun dan endometrium luruh sebagai menstruasi.
Pada hiperplasia endometrium, progesteron tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, endometrium tidak luruh dan terus menebal. Sel-sel pada lapisan rahim pun tumbuh berdekatan dan menjadi tidak teratur.
Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita yang mendekati atau telah memasuki menopause. Pada fase ini, ovulasi sering tidak terjadi sehingga produksi progesteron menurun. Hal inilah yang membuat hiperplasia endometrium lebih umum pada kelompok usia tersebut.
Demikian pembahasan apa itu penebalan dinding rahim serta gejala dan penyebabnya, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!