Bagikan:

JAKARTA - Otoritas kesehatan Amerika Serikat memperluas izin penggunaan obat peningkat gairah seksual wanita yang selama ini menuai perdebatan. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan pil yang diminum dalam sekali sehari tersebut kini boleh digunakan oleh perempuan pascamenopause hingga usia 65 tahun.

Pengumuman ini disampaikan FDA pada hari Senin, 15 Desember 2025. Dengan keputusan tersebut, penggunaan obat bernama Addyi kini tidak lagi terbatas pada perempuan pramenopause. Addyi pertama kali disetujui sekitar 10 tahun lalu untuk perempuan yang belum menopause dan mengalami tekanan emosional akibat rendahnya hasrat seksual.

Addyi dipasarkan oleh Sprout Pharmaceuticals dan awalnya diperkirakan akan menjadi obat laris karena dianggap mengisi kekosongan penting dalam kesehatan perempuan. Namun dalam perjalanannya, obat ini menimbulkan sejumlah efek samping yang tidak menyenangkan, seperti pusing dan mual. Selain itu, Addyi juga memiliki peringatan keras terkait konsumsi alkohol.

Dalam label peringatan, disebutkan mengonsumsi alkohol saat menggunakan Addyi dapat menyebabkan tekanan darah turun drastis hingga pingsan. Jika pasien minum alkohol dalam jumlah cukup banyak, disarankan untuk menunggu beberapa jam sebelum mengonsumsi obat tersebut, atau melewatkan satu dosis.

Penjualan Addyi sendiri tidak memenuhi ekspektasi awal pasar. Obat ini bekerja dengan memengaruhi zat kimia di otak yang berkaitan dengan suasana hati dan nafsu makan. Pada tahun 2019, FDA menyetujui obat kedua untuk masalah libido rendah pada perempuan, berupa suntikan yang digunakan sesuai kebutuhan dan bekerja melalui mekanisme saraf yang berbeda.

"Persetujuan terbaru ini mencerminkan kerja keras perusahaan selama satu dekade bersama FDA untuk mengubah cara pandang terhadap kesehatan seksual perempuan agar lebih dipahami dan diprioritaska," ujar Cindy Eckertc CEO Sprout Pharmaceuticals, dikutip dari laman Fortune.

Kondisi medis yang ditandai dengan rendahnya hasrat seksual secara signifikan dikenal sebagai hypoactive sexual desire disorder (HSDD). Kondisi ini telah dikenal sejak tahun 1990-an dan berdasarkan survei diperkirakan memengaruhi cukup banyak perempuan di Amerika Serikat.

Setelah keberhasilan besar Viagra untuk pria pada era 1990-an, perusahaan farmasi mulai menggelontorkan dana besar untuk meneliti gangguan seksual pada perempuan.

Meski demikian, diagnosis kondisi ini tidaklah sederhana. Banyak faktor yang dapat memengaruhi libido, terutama setelah menopause, ketika penurunan hormon memicu berbagai perubahan biologis dan gejala medis.

Dokter diwajibkan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti masalah hubungan, penyakit tertentu, depresi, atau gangguan mental lainnya, sebelum meresepkan obat. Diagnosis HSDD juga masih menuai perdebatan. Sejumlah psikolog berpendapat bahwa rendahnya gairah seksual tidak selalu layak dianggap sebagai masalah medis.

Sebelum disetujui pada 2015, FDA sempat dua kali menolak Addyi dengan alasan efektivitasnya terbatas dan efek samping yang dinilai mengkhawatirkan.

Persetujuan akhirnya diberikan setelah adanya kampanye lobi dari perusahaan dan kelompok pendukung bernama Even the Score yang mengangkat isu minimnya pilihan pengobatan libido perempuan sebagai persoalan hak perempuan.

FDA menegaskan persetujuan terbaru ini berlaku untuk perempuan pascamenopause hingga usia 65 tahun, bukan di atas usia tersebut.