JAKARTA - Pornografi menjadi topik yang semakin sering dibicarakan dalam kehidupan pernikahan. Akses internet yang mudah, sifatnya privat, dan nyaris tanpa batasan membuat pornografi jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dibandingkan beberapa dekade lalu. Namun pertanyaannya tetap sama dan krusial, apakah pornografi benar-benar merusak pernikahan?
Berbagai penelitian menunjukkan jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Dampak pornografi sangat bergantung pada frekuensi penggunaan, keterbukaan antar pasangan, serta kualitas hubungan itu sendiri. Meski begitu, banyak riset menemukan bahwa pornografi kerap membawa lebih banyak dampak negatif dibandingkan manfaat dalam pernikahan.
Sejumlah penelitian internasional menemukan bahwa penggunaan pornografi berkaitan erat dengan menurunnya kualitas hubungan dan stabilitas pernikahan. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Sex Research tahun 2020 mencatat bahwa lebih dari 90% pria dan sekitar 60% perempuan mengonsumsi pornografi dalam satu bulan terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa pornografi bukan lagi fenomena pinggiran, melainkan bagian dari realitas sosial saat ini. Namun penelitian lain menunjukkan sisi gelapnya.
Penggunaan pornografi, terutama jika dilakukan secara rutin dan diam-diam, terbukti berkorelasi dengan penurunan kepuasan pernikahan, berkurangnya keintiman emosional, dan meningkatnya konflik dalam hubungan. Bahkan, sejumlah studi menyebutkan bahwa konsumsi pornografi menjadi salah satu prediktor kuat terjadinya perceraian.
Salah satu dampak paling signifikan dari pornografi dalam pernikahan adalah rusaknya kepercayaan. Banyak pasangan tidak secara terbuka membicarakan kebiasaan ini. Pornografi sering dikonsumsi secara sembunyi-sembunyi, disertai rasa malu, kebohongan kecil, dan jarak emosional.
Riset psikologi hubungan menunjukkan rahasia dalam pernikahan, sekecil apa pun, dapat mengikis kepercayaan. Ketika kepercayaan melemah, rasa aman dalam hubungan ikut goyah. Akibatnya, pasangan menjadi lebih mudah curiga, defensif, dan sulit membangun kedekatan emosional.
Beberapa orang beranggapan bahwa pornografi dapat membantu meningkatkan variasi dan gairah seksual dalam pernikahan. Namun riset justru lebih banyak menunjukkan sebaliknya. Dalam banyak kasus, pasangan yang salah satunya rutin menonton pornografi cenderung mengalami penurunan frekuensi hubungan intim dan kepuasan seksual.
Psikolog hubungan, John dan Julie Gottman, menyimpulkan pornografi dapat mengganggu keharmonisan pasangan karena mengalihkan fokus dari hubungan nyata ke stimulasi visual semu. Hubungan seksual menjadi kurang intim, kurang emosional, dan lebih mekanis.
"Pornografi sering memisahkan seks dari ikatan emosional. Dalam hubungan pernikahan, seks bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga sarana membangun kedekatan, rasa aman, dan keterhubungan," ujarnya, dikutip dari laman Verywell Mind.
Ketika pornografi menjadi sumber utama kepuasan seksual, hubungan emosional dengan pasangan bisa perlahan memudar.
Terapis pernikahan menyatakan penggunaan pornografi yang berlebihan dapat membuat seseorang menarik diri secara emosional, mengurangi empati, dan kehilangan minat untuk membangun koneksi dengan pasangan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menjadi ancaman serius bagi kelangsungan pernikahan.
Riset juga menunjukkan pornografi membentuk gambaran yang tidak realistis tentang seks dan tubuh manusia. Adegan yang diskenariokan, tubuh yang sempurna serta perilaku seksual ekstrem sering disalahartikan sebagai standar nyata.
BACA JUGA:
Akibatnya pasangan terutama perempuan merasa tertekan untuk memenuhi standar yang tidak mungkin dicapai. Hal ini memicu rasa kecewa, frustrasi, bahkan konflik, karena realitas pernikahan tentu berbeda dengan fantasi yang ditampilkan dalam pornografi.
Beberapa studi menemukan pasangan dari pengguna pornografi, khususnya istri, berisiko mengalami penurunan harga diri. Perbandingan diri dengan figur dalam pornografi dapat menimbulkan perasaan tidak cukup baik, tidak menarik, atau tidak diinginkan.
Dampak psikologis ini tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga dinamika hubungan. Harga diri yang rendah sering berujung pada kecemburuan, ketidakpercayaan, dan ketegangan yang terus-menerus dalam pernikahan.
Riset menunjukkan beberapa alasan umum seseorang menggunakan pornografi dalam pernikahan, antara lain sebagai pelarian dari stres, rasa kesepian, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Selain itu, pornografi memicu pelepasan hormon “rasa senang” di otak, sehingga memberikan efek cepat dan instan yang sulit dilepaskan.
Namun para peneliti juga mencatat bahwa bukan pornografinya semata yang menimbulkan masalah, melainkan cara penggunaannya, konteks hubungan, dan kurangnya komunikasi antar pasangan.