Melihat Robot Pemadam Api Bekerja
Robot pemadam api (Diah Ayu Wardani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - "Don't send a man to do a machine's job". Kutipan masyhur Agen Smith dalam film The Matrix itu terpampang di badan robot pemadam kebakaran milik Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta. Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan melihat mesin pengurai material kebakaran berjenis Dok-Ing MVF-U3 itu bekerja.

Dari tampilannya, postur robot berwarna merah itu tak sebesar alat lain yang biasa digunakan pemadam kebakaran. Tapi, hal berbeda tampak pada roda robot karena menggunakan roda rantai seperti tank.

Simulasi di depan halaman kantor Dinas Gulkarmat Jakarta Pusat dimulai saat salah satu dari empat petugas pemadam kebakaran mulai mengoperasikan robot dengan remot berwarna merah di genggamannya. Otoritas untuk mengendalikan robot itu tak sembarangan. Hanya petugas berlisensi yang diizinkan.

Sejak adegan itu juga kami sadar kutipan Agen Smith di badan robot masuk akal. Petugas tak perlu bertaruh nyawa mendatangi titik api untuk mengurai material kebakaran. Biar robot yang melakukannya.

Remot merah pengendali robot itu tampak seperti alat kendali miniatur mobil balap. Ada dua analog yang berfungsi sebagai kemudi terpasang di sisi kanan dan kiri remot. Di bagian tengah, terdapat layar berisikan informasi terkait kecepatan dan kondisi pengoperasian robot.

Petugas mengendalikan robot pemadam dengan remot kontrol (Diah Ayu Wardani/VOI)

 

Simulasi dimulai

 [Klik untuk Menambah Rasa]

Suara bising memekakan telinga ketika roda rantai robot bergesekan dengan besi truk pengangkut. Robot setinggi 2,5 meter dengan panjang tiga meter dan lebar dua meter itu mulai bergerak turun menyentuh tanah dengan kecepatan rendah.

Rupa robot pemadam api itu makin jelas. Di bagian atas terlihat alat penyembur air yang berguncang akibat gerakan. Guncangan hebat itu membuat kami bertanya tentang adakah kesalahan mesin atau konstruksi yang menyebabkan guncangan hebat di alat penyembur air.

Selanjutnya, sang operator memamerkan kemampuan manuver robot pemadam. Dari yang kami lihat, manuver berjalan baik. Pergerakan robot pemadam terlihat dinamis kala berbelok. Dibatasi dengan beberapa traffic cone yang dipasang setiap enam meter, robot itu mampu melewati celah antar traffic cone dengan kelokan-kelokan.

Manuver robot pemadam (Diah Ayu Wardani/VOI)

Tak cukup soal manuver. Robot pemadam tentu saja harus mampu menghadapi api. Seorang petugas pemadam kebakaran kemudian membawa beberapa ban ke tengah lapangan. Ban tersebut disiram dengan minyak tanah sebelum kemudian disulut api. Asap pekat menyembul tinggi ke udara.

Waktunya robot pemadam api beraksi. Langkah pertama dalam standar operasional prosedur (SOP) adalah memastikan ketersediaan air di dalam tangki. Ketersediaan air itu dapat dipantau lewat indikator di remot kendali. Setelah dipastikan, robot pun bergerak mendekat ke titik api.

Semburan air terlihat menghujani jilatan api. Percikan airnya mengenai kami yang berdiri di sekitar aksi. Tak masalah. Di tengah cuaca yang amat panas, percikan air itu cukup.

Robot pemadam beraksi padamkan api (Diah Ayu Wardani/VOI)

 

Pertanyaan

Usai segala atraksi yang dipertontonkan, sejumlah pertanyaan turut muncul. Soal alat penyembur air yang berguncang hebat akibat gerakan robot, misalnya. Kepala Dinas Gulkarmat DKI Satriadi Gunawan menjelaskan, tak ada kesalahan konstruksi perakitan atau pun.

 "Memang begitu. Kan enggak mungkin juga kaku, pasti harus fleksibel (alat penyembur). (Guncangan) itu sudah dipikirkan, tidak akan mengganggu operasional," kata Satriadi di lokasi, Kamis, 13 Februari.

Dalam simulasi, robot berhasil memadamkan api dalam hitungan menit. Cepat. Pertanyaannya, bagaimana jika kebakarannya terjadi di kehidupan nyata di luar simulasi. Menurut Satriadi, kapasitas 2.500 liter air dan 500 liter foam yang dimiliki robot ini adalah jawaban buat keraguan tersebut.

Selain kapasitas air, robot pemadam kebakaran juga memiliki pompa yang mampu menekan air di atas 15 bar. Artinya, alat penyembur air itu setidaknya mampu menyemprotkan air murni sejauh 55 meter atau 45 meter dengan campuran foam.

Mobil robot ini dilengkapi dengan alat pencapit dan alat penarik beban pada bagian depan. Jika di lokasi kebakaran ada halangan benda berat hingga delapan ton maka dapat ditarik untuk dikeluarkan darl lokasi kebakaran atau dipindahkan ketempat yang lebih aman.

Nantinya, unit robot pemadam kebakaran itu akan ditempatkan di kantor-kantor pemadam kebakaran yang berada di dekat fasilitas LRT dan MRT. Menurut Satriadi, pengadaan robot pemadam adalah jawaban dari berkembangnya fasiitas umum di Jakarta.

Stasiun MRT Bundaran HI (Irfan Meidianto/VOI)

 "Harus punya alat ini. Karena tantangan ke depan. MRT, LRT itu kan ini menjadi jawaban. Jawaban apabila terjadi suatu bencana, itu kita punya peralatan yang memang mumpuni. Dan ini salah satu persyaratan juga. Persyaratan negara yang memiliki MRT dan LRT harus punya fasilitas penanganan kebakaran seperti yang kita miliki," kata Satriadi.

Sebaiknya Satriadi benar. Sebab, robot pemadam Dok-Ing MVF-U3 dibeli dari produsen asal Kroasia dengan harga Rp32 miliar. Selain robot Dok-Ing MVF-U3, otoritas juga mendatangkan sebuah robot lain yang disebut LUF 60 yang berfungsi sebagai pengisap asap. Harganya pun tak sembarangan. Didatangkan dari Rusia, LUF 60 berharga Rp8 miliar.

 "Jadi, kita satu kontrak itu, kita punya garansi termasuk garansi spare part. Spare part cadangan itu sudah ada dalam kontainer yang disiapkan di Ciracas. Cadangan ini digunakan apabila ada trouble. Yang 12 orang itu termasuk dididik mekaniknya, elektriknya, termasuk yang mengoperasionalkannya. Itu semua sudah di-cover oleh Kroasia," tutup Satriadi.