JAKARTA - Perusahaan jasa keuangan global Western Union mengumumkan bahwa sistem penyelesaian stablecoin miliknya akan menggunakan blockchain Solana, sebagai bagian dari langkah strategis memasuki era aset digital.
Diumumkan selama panggilan pendapatan kuartal ketiga pada minggu lalu, sistem stablecoin ini akan terdiri dari Token Pembayaran Dolar AS (USDPT) dan Jaringan Aset Digital, yang akan dibangun dalam kemitraannya dengan Anchorage Digital Bank, Western Union.
Perusahaan mengharapkan USDPT dapat diluncurkan pada paruh pertama tahun 2026, dengan system yang mirip dengan dengan stablecoin PayPal USD (PYUSD) yang telah terdaftar di Binance dan sejumlah platform perdagangan kripto lainnya.
Selain itu, Jaringan Aset Digital akan berfungsi sebagai cash off-ramp bagi layanan pengiriman uang Western Union, yang saat ini digunakan oleh lebih dari 150 juta pelanggan di lebih dari 200 negara dan wilayah.
"Selama 175 tahun, kami telah menghubungkan orang-orang, memindahkan 150 miliar dolar AS per tahun. Aset digital adalah evolusi berikutnya. Kami melihat alternatif, dan sampai pada kesimpulan bahwa Solana adalah pilihan yang tepat," kata Devin McGranahan, CEO, Western Union melansir Cointelegraph.
また読む:
Langkah Western Union ini menambah daftar perusahaan pembayaran besar yang mulai mengadopsi teknologi blockchain untuk pengiriman uang lintas negara. Beberapa pengguna juga mengklaim bahwa teknologi ini lebih cepat, murah, dan transparan dibandingkan sistem pembayaran konvensional.
Departemen Keuangan AS pada April 2025 memperkirakan nilai pasar stablecoin mencapai 311,5 miliar dolar AS (Rp5.170 triliun), dan diprediksi tumbuh hingga 2 triliun dolar AS (Rp33.200 triliun) pada 2028.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)