シェア:

JAKARTA – Memori hari ini, lima tahun yang lalu, 30 November 2020, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani tegaskan pandemi COVID-19 mengancam perekonomian Indonesia. Ia meminta seluruh rakyat Indonesia bekerja sama untuk memutus mata rantai penyebaran virus dari Wuhan.

Sebelumnya, kehadiran virus korona sempat diremehkan. Belakangan virus itu malah membawa kepanikan di seluruh dunia. Penularannya begitu cepat. Alhasil, banyak sektor yang terganggu. Perusahaan gulung tikar dan PHK di mana-mana.

Kehadiran COVID-19 sempat dianggap lelucon oleh dunia. Banyak pemimpin negara dunia bak meremehkan kehadiran COVID-19. Virus itu dianggap hanya flu biasa. Kondisi yang sama terjadi pula di Indonesia sedari awal 2020.

Tak sedikit pejabat yang meremehkan virus korona. Mereka menganggap virus korona takut dengan iklim tropis Indonesia. Ada juga yang menganggap virus korona dapat ditangani dengan rajin minum jamu.

Alhasil, kala virus korona masuk Indonesia, pemerintah tak banyak persiapan. Angka penularan virus korona meninggi. Angka kematiannya pun begitu. Dampak korona lainnya adalah virus itu menghajar mematikan banyak sektor. Tiada perusahaan yang tak merugi. Beberapa di antaranya gulung tikar. PHK terjadi di mana-mana.

Pemerintah kemudian kebagian pusing. Empunya kuasa bak ragu-ragu dalam mengambil gebrakan. Sedang badan kesehatan dunia, WHO tak konsisten memberikan panduan. Kondisi itu membuat seisi Indonesia jadi korban.

Hajat hidup rakyat Indonesia menurun. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Presiden Joko Widodo (Jokowi) coba ambil sikap menenangkan rakyat Indonesia. Ia meminta supaya rakyat Indonesia berdamai dengan COVID-19.

Ajian berdamai itu dilakukan selama vaksin terkait COVID-19 masih dikembangkan. Opsi iberdamai itu diambil karena Jokowi melihat pandemi belum bakal mereda dalam waktu dekat.

"Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus berdamai dengan COVID-19 untuk beberapa waktu ke depan," ungkap Jokowi sebagaimana dikutip laman CNBC Indonesia, 8 Mei 2020.

Kekhawatiran terkait pandemi COVID-19 dituturkan pula oleh Sri Mulyani. Menkeu itu menegaskan bahwa pandemi COVID-19 mengancam perekonomian Indonesia pada 30 November 2020. Sri menganggap perekonomian nasional bisa jadi lebih buruk lagi karena naiknya angka penularan COVID-19.

Petugas kesehatan mengambil sampel usap COVID-19 dari seorang penumpang kereta api di Stasiun Bogor, 11 Mei 2020. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Sri mengimbau kepada segenap rakyat Indonesia supaya bersama-sama melawan COVID-19. Rakyat diminta patuh pada protokol kesehatan. Kepatuhan itu yang nantinya dianggap bisa menyelamatkan perekonomian nasional.  

“Indonesia terus berhati-hati agar kita tetap bisa menangani COVID-19 karena memberikan dampak sosial, ekonomi, dan keuangan yang luar biasa. Kepatuhan semua pelaku usaha dan masyarakat penting untuk kita semua jaga. Kita lakukan banyak langkah tapi masyarakat juga yang menentukan kita berhasil atau tidak. Pada kuartal III kita sudah lihat pemulihan ekonomi namun ini masih sangat awal. Perekonomian masih tumbuh negatif meski jauh lebih rendah dibandingkan kuartal II.”

“Itu tidak cukup kalau tidak ikut serta menghalangi COVID-19 agar tidak tersebar. Disiplin protokol kesehatan adalah suatu keharusan untuk semuanya, tidak pandang bulu. Kita semua harus ikut dalam mencoba mengatasi penyebaran COVID-19,” ujar Sri Mulyani sebagaimana dikutip laman ANTARA, 30 November 2020.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)