Perang di Timur Tengah yang pecah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran berdampak luas. Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, pelaku industri plastik turut terdampak. Pasalnya, nafta yang menjadi bahan baku bijih plastik di Indonesia 100% impor dan 70% di antaranya berasal dari Timur Tengah. Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah harus segera mencari alternatif untuk menghadapi situasi ini.
***
Ketergantungan yang amat tinggi pada satu produk dan satu kawasan seperti Timur Tengah sejatinya amat mengkhawatirkan. Apalagi, ketika perang melanda seperti saat ini, keadaan menjadi kacau-balau. Dan, tidak ada yang tahu pasti kapan konflik ini akan berakhir.
Karena itu, menurut Fajar Budiono, mencari alternatif menjadi langkah yang krusial—baik itu mencari negara pemasok bahan mentah baru, maupun mencari sumber bahan baku lain di luar minyak bumi yang selama ini digunakan.
“Pemerintah sudah mengerahkan atase bisnis di berbagai kedutaan untuk menjajaki kemungkinan negara mana saja yang bisa menjadi sumber selain negara Timur Tengah. Selain itu, mencari bahan alternatif di luar minyak bumi juga penting agar industri tidak terpaku pada satu sumber saja,” katanya.
Masih menurut Fajar, bukan hanya pemerintah yang bisa berperan; pelaku usaha dan masyarakat juga memiliki andil. “Cara-cara mengemas produk bisa dikurangi ukuran dan kualitasnya. Lalu, publik juga harus bijak dalam menggunakan plastik. Saat berbelanja, upayakan membawa kantong dan wadah sendiri yang bisa digunakan berulang kali,” terangnya.
Selain itu, penggunaan plastik daur ulang, lanjutnya, bisa menjadi pilihan utama di saat bahan baku sulit atau mahal. Dukungan penuh perlu diberikan kepada para pengusaha daur ulang plastik. “Kebutuhan saat ini mencapai 2 juta ton plastik yang siap didaur ulang, sedangkan kapasitas mereka baru 1,5 juta ton. Jadi, masih ada 500.000 ton yang bisa dipacu,” terang Fajar Budiono kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Dandi Juniar saat bertandang ke kantor VOI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, 14 April 2026.

Industri petrokimia sering disebut sebagai ibu dari segala industri. Ketika ada perang di Timur Tengah, seberapa cepat getarannya sampai ke lantai pabrik plastik di Indonesia?
Perang kali ini diawali serangan mendadak AS dan Israel atas Iran pada 28 Februari 2026. Mendengar kabar itu, alarm kami sudah berbunyi; kejadian ini pasti akan berdampak. Dan ternyata benar, perang berkepanjangan ini dampaknya sudah mulai terasa sekarang. Setelah pekan pertama perang terlewati, kami sudah mulai membuat skenario untuk mengamankan bahan baku.
Setelah dua pekan terlewati, harga bahan baku bergerak naik sampai empat kali lipat. Pada pekan kedua itu juga, banyak perusahaan plastik di ASEAN menyatakan force majeure karena terdampak perang. Masalahnya, mereka tidak bisa memenuhi komitmen dalam kontrak lama yang sudah ditandatangani.
Pada pekan ketiga, tiba-tiba Selat Hormuz ditutup. Ditambah lagi, beberapa kilang petrokimia di Timur Tengah terkena serangan. Ini menambah kompleksitas keadaan menjadi makin rumit. Pada saat yang sama, kami di tanah air sedang fokus menyiapkan produk untuk menghadapi puasa dan Lebaran. Dari sisi logistik, ekspedisi kami juga tidak bisa bergerak karena adanya larangan truk non-sembako untuk beroperasi selama H-10 sampai H+10. Selama periode itu, dinamika dunia terus bergerak dan harga terus berubah. Setelah pasar buka kembali pasca H+10, semua panik karena harga sudah melonjak.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengamankan bahan baku dengan ditutupnya Selat Hormuz?
Bahan baku bijih plastik berupa nafta kita masih 100% impor, dan 70%-nya berasal dari Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz membuat bahan baku langka dan jadi rebutan. Akhirnya, kami mencari bahan baku dari Asia Tengah, Afrika, dan Amerika Serikat (AS). Dan saat ini, kami berhasil mendapatkan pasokan dari AS.
Kalau pasokannya dari AS, jarak tempuhnya jauh lebih lama, bukan?
Pengiriman bahan baku dari AS itu paling cepat memakan waktu 50 hari dengan ongkos angkut dan asuransi yang jauh lebih mahal. Sebagai perbandingan, kalau dari Timur Tengah cuma butuh 10-15 hari saja. Karena keadaan tidak normal, kami harus membayar surcharge sebesar 100-150% per metrik ton dari kondisi normal.
Saat ini harga nafta sudah di atas 1.000 USD per metrik ton, padahal harga normalnya di kisaran 600 USD per metrik ton. Semoga pengiriman lancar, jadi 50 hari ke depan pasokan sudah sampai di tanah air. Prediksinya, kelangkaan bijih plastik sudah bisa dikendalikan, namun tantangannya sekarang tinggal masalah harga.
Jadi bagaimana untuk harga, apakah akan menerapkan harga baru?
Untuk publikasi harga, kami menunggu dari beberapa sumber resmi seperti ICIS (Independent Commodity Intelligence Services), Platts (S&P Global Commodity Insights), The Plastics Exchange, dan lainnya. Informasi yang kami dapat, di India harga sudah mulai turun, begitu juga di China karena mereka melepas cadangannya. Di dalam negeri juga ada sedikit penurunan harga.
Ke depan, kemungkinan memang ada peluang kenaikan, tapi dengan kondisi ini prediksi saya kenaikan tidak akan terlalu besar. Jadi, pekerjaan rumah (PR) pertama soal ketersediaan stok sudah bisa kita atasi.
Lalu PR kedua adalah bagaimana mengurangi ketergantungan bahan baku nafta dari minyak mentah. Selama ini minyak mentah diolah menjadi BBM dan sebagian menjadi nafta untuk bahan baku bijih plastik. Problemnya, selain Selat Hormuz ditutup, kilang di Timur Tengah juga terkena serangan, sehingga perlu 6-12 bulan pasca-perang untuk bisa berproduksi kembali.
Karena itu, substitusi bahan menjadi sangat penting, seperti bagaimana mengolah kondensat dan LPG menjadi bahan baku. Kami sedang menunggu arahan dari Kementerian ESDM dan Perindustrian mengenai ketersediaan bahannya. Untuk LPG, selama ini dikenakan bea masuk 5%, semoga pemerintah bisa memberikan relaksasi soal ini. Sekarang tantangannya adalah mencari kapal untuk memesan bahan baku dari AS, soalnya kapal-kapal kita masih banyak yang tertahan di Selat Hormuz.

Jadi, perang di Timur Tengah ini bikin sengsara banyak orang di dunia. Terkutuklah orang yang menyebabkan perang. Lalu, apa lagi yang akan dilakukan Inaplas?
Ya, semua terdampak. Sejak pekan ketiga perang terjadi, banyak yang menyerah dan menyatakan force majeure. Pada pekan keempat perang, mereka yang punya bahan baku memilih menahan stok dan tidak mau menjual. Baru pada pekan kelima keadaan berubah setelah China mulai menjual cadangannya.
Mengapa China justru melepas cadangannya?
Ternyata pada saat pandemi COVID-19 kemarin, China mengembangkan industri petrokimianya tidak hanya menggunakan bahan baku minyak mentah, tetapi juga dari batu bara. Lalu mereka menggunakan batu kapur untuk karbit, yang kemudian diolah menjadi asetilen dan etilen. Ini juga murah. Satu lagi, mereka juga mengembangkan dari bio, gas, dan metanol. Jadi diversifikasinya komplit. Sementara kita baru punya satu sumber, yaitu dari minyak mentah.
Untuk Indonesia kendalanya apa? Apakah kita tidak punya kemampuan?
Sejak 2008, kami sudah memberikan masukan kepada pemerintah untuk menambah sumber bahan baku, jangan hanya satu, agar bisa memenuhi kebutuhan industri petrokimia di dalam negeri. Sebenarnya ada Chandra Asri yang akan masuk, namun di tengah jalan mereka mengurungkan niatnya. Mereka memilih membeli kilang (refinery) dari Singapura (Shell).
Kebutuhan bahan baku plastik kita mencapai 8,5 juta ton per tahun. Dalam negeri hanya mampu memasok 50% dari kebutuhan tersebut, sisanya impor. Sebenarnya ini peluang yang bisa dimanfaatkan. Ini juga menjadi peringatan agar kita tidak tergantung pada minyak bumi semata; saat terjadi perang seperti sekarang, kita seharusnya punya pilihan.
Kemenperin sudah mengumpulkan pelaku industri. Apakah pertemuan itu berakhir dengan solusi konkret atau baru sebatas 'angin segar'? Kapan akan direalisasikan?
Sepekan sebelum pertemuan, kami sudah diundang oleh pihak Kementerian Perindustrian, intinya "belanja masalah" untuk disampaikan ke Pak Menteri. Lalu pada Rabu, 22 April 2026, pelaku industri plastik dari hulu hingga hilir dikumpulkan.
Soal nafta yang jadi bahan baku, pemerintah akan mencari alternatif negara pemasok saat Timur Tengah sedang perang. Lalu, karena LPG akan dijadikan bahan alternatif pengganti nafta, kami meminta bea masuk yang selama ini 5% untuk dievaluasi, dan dalam sepekan harus sudah ada hasilnya. Tampaknya pemerintah akan menerapkan sistem Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDP). Nanti yang akan berkoordinasi adalah Kementerian Perindustrian, Perdagangan, dan Keuangan. Prediksinya, pada Juni, Juli, dan Agustus harga LPG akan lebih rendah dari nafta; ini kesempatan yang harus dioptimalkan.
Kementerian Perindustrian juga menanyakan kendala yang dialami pelaku di hilir. Kabar gembiranya, pasokan bahan jadi plastik masih aman. Tinggal pola beli masyarakat diharapkan jangan jor-joran, belanjalah secukupnya saja. Produsen juga diminta berinovasi dalam mengemas barang, bisa dengan mengurangi ukuran, berat, atau ketebalan untuk melakukan penghematan.
Bisa juga menggunakan bahan tambahan dan plastik daur ulang (plastic recycle), ini lumayan menghemat. Industri daur ulang plastik kita saat ini produksinya masih di bawah kapasitas maksimal. Momentum ini bisa jadi titik awal bangkitnya industri daur ulang plastik dan bisa menjadi substitusi untuk bahan baku plastik utama.
BACA JUGA:
Perilaku konsumen ternyata bisa membantu juga, ya?
Ya, mulai sekarang biasakan memilah sampah dengan benar. Dengan begitu, pemulung bisa memanfaatkan sampah plastik, kardus, kertas, dan lain-lain menjadi bahan yang didaur ulang. Teman-teman pemulung pun bisa mendapatkan penghasilan. Sementara itu, sisa bahan dari pemilahan bisa menjadi bahan bakar energi. Tapi semua pihak harus bersinergi agar tujuan ini tercapai.
Bagaimana dengan pelaku IKM dan UMKM?
Pak Menteri sudah mengatakan bahwa ketersediaan bahan plastik aman. Seperti krisis 1998, teman-teman UMKM akan mendesain ulang kemasan mereka. Itu terbukti efektif dan menghemat. Pasar bawah itu relatif tahan banting, berbeda dengan industri modern yang rentan, seperti pabrik kemasan mi instan, permen, kopi sachet, dan kemasan lainnya. Masalahnya, mesin mereka sudah dibuat sedemikian rupa sehingga tak bisa lagi dikurangi takarannya secara fleksibel.
Selain jaminan pasokan bahan baku, apa lagi harapan pengusaha plastik kepada pemerintah?
Selain soal bea masuk, kami berharap pemerintah menaikkan utilisasi industri daur ulang. Kalau ada insentif, apakah PPN ditanggung pemerintah atau kemudahan lainnya, kapasitas produksi mereka bisa meningkat. Ini bisa membantu memenuhi kebutuhan bahan baku plastik. Kebutuhan saat ini mencapai 2 juta ton, sedangkan kapasitas mereka baru 1,5 juta ton. Jadi, masih ada 500.000 ton yang bisa dipacu.
Iran disanksi puluhan tahun tapi industrinya justru mandiri karena rakyatnya dipaksa 'mencintai' produk sendiri. Apakah industri kita perlu 'dipaksa' masuk ke kondisi krisis seperti itu dulu agar benar-benar lepas dari ketergantungan impor?
Krisis dan perang yang terjadi saat ini menjadi catatan penting bahwa kita harus mandiri dalam urusan pangan, logam, industri petrokimia, dan energi. Empat pilar ini harus diamankan. Saat ini, kita tidak boleh lagi bergantung hanya pada minyak bumi. Masih ada batu bara dan CPO yang bisa jadi pilihan. Sekarang harga batu bara sedang bagus, dan produksi CPO kita adalah yang terbesar di dunia. Ini harus dikembangkan. Ada lagi biomassa, karena tahun 2030 seluruh penerbangan harus menggunakan bioavtur. Momentum yang ada ini harus dimanfaatkan. Dari industri biomassa, kita bisa menghasilkan bionafta dan bahan pengganti LPG.
Di saat seperti ini, masyarakat juga harus didorong bangga menggunakan produksi dalam negeri. Kita juga harus mengubah gaya hidup. Di luar negeri banyak roti yang dijual tanpa bungkus plastik, sementara di sini semua dibungkus. Apakah ini bisa dikurangi? Begitu juga dengan bungkus kacang, tempe, dan makanan lainnya. Kalau kita bisa gunakan kemasan berulang kali, mengapa tidak? Menggunakan barang yang ramah lingkungan itu justru lebih baik. Kita harus mengubah kebiasaan.
Kembali ke persoalan global, apa yang bisa dilakukan kalau perang berkepanjangan?
Kita harus memanajemen rantai pasok global. Pihak swasta harus mencari bahan alternatif pengganti minyak yang selama ini menciptakan ketergantungan. Pemerintah harus membina hubungan G2G (Government to Government) sehingga bisa mendapatkan barang dari negara yang selama ini tidak menjadi mitra utama, seperti negara-negara Asia Tengah, Afrika, dan Rusia.
Masyarakat juga bisa berbuat dengan mengubah kebiasaan: memilah sampah dan menggunakan kemasan ramah lingkungan yang bisa dipakai berkali-kali. Langkah ini, kalau dilakukan secara masif, bisa membantu mengurangi ketergantungan pada virgin plastic (plastik murni) yang ada.
Fajar Budiono, Makin Cinta dengan Dunia Plastik

Makin lama makin cinta, mungkin itu yang bisa digambarkan pada sosok Fajar Budiono, meski sudah pensiun ia tetap mencurahkan tenaga dan pikirannya pada industri plastik. (Foto: Dandi Juniar VOI, DI: Raga Granada VOI)
Pertama kali bersentuhan dengan dunia plastik adalah setelah tamat kuliah dan bergabung dengan perusahaan plastik asal Inggris yang membuka pabrik di Merak, Banten. Namun, setelah beberapa tahun, Fajar Budiono sempat berpaling ke perusahaan minyak dan gas. Sampai akhirnya, ia kembali lagi ke perusahaan plastik hingga usia pensiunnya tercapai. Bahkan meski sudah pensiun, dia masih diminta terlibat di asosiasi plastik dan perusahaan milik koleganya di Bekasi.
Pengalaman pertama bekerja di pabrik petrokimia untuk plastik yang ada di Indonesia dialami Fajar Budiono saat bekerja di PT PENI. “Awalnya saya tak kepikiran ingin bekerja di Jakarta. Setelah menyelesaikan S1 di Jurusan Analis Kimia, saya mengambil peluang dari British Petroleum Chemical yang buka pabrik polyethylene di Merak, namanya PT Petrokimia Nusantara Interindo (PENI). Karena pabriknya belum jadi, saya training ke mana-mana dan tahun 1991 akhirnya pabriknya diresmikan,” kenang Fajar.
Dari awalnya mencoba dan menekuni, dunia plastik makin membuat Fajar tertarik. “Karena yang bekerja sebagian besar anak muda, persaingannya amat ketat. Akhirnya saya memutuskan untuk menambah ilmu. Lepas kerja, saya kuliah S2 di Jakarta. Dengan perjuangan yang keras, akhirnya pendidikan selesai,” katanya.
Berkenalan dengan banyak teman di Jakarta membuat peluang makin terbuka. “Saya kemudian bergabung dengan perusahaan minyak dan gas, Elnusa. Ternyata dunia baru ini ada hubungannya dengan petrokimia tempat pertama kali saya meniti karier,” ungkapnya.
Bekerja di Elnusa membuatnya bisa berkeliling Indonesia. “Saya harus menyambangi kilang dan pengeboran di berbagai wilayah, dari Laut Jawa, Natuna, hingga Biak,” katanya.
Kembali Lagi ke Industri Plastik

Meski sudah terjun di dunia plastik, namun Fajar Budiono sempat pindah haluan, namun ia akhirnya kembali lagi ke dunia plastik, bahkan keterlibatannya makin jauh. (Foto: Dandi Juniar VOI, DI: Raga Granada VOI)
Mengembara di dunia minyak dan gas membuat Fajar Budiono berpikir. Ia punya keluarga yang juga harus diberi perhatian. “Saya merenung, kalau di perusahaan minyak dan harus selalu keliling daerah, perhatian pada keluarga kurang sekali. Akhirnya saya memutuskan kembali lagi ke industri plastik. Saya bergabung dengan PT Polytama Propindo yang diresmikan tahun 1995 oleh Presiden Soeharto,” katanya.
Kecintaan pada dunia plastik membuat Fajar betah dan tak lagi berpaling ke industri lain. “Saya bertahan di PT Polytama Propindo sampai usia pensiun tercapai pada 2023,” katanya. Namun, setelah pensiun pun, dia masih aktif di asosiasi dan perusahaan plastik di Bekasi.
Di perusahaan ini, Fajar terlibat di bagian marketing. Posisi ini membuatnya banyak bertemu dengan pengguna yang berasal dari pelaku usaha dan UMKM. “Sebagai seorang tenaga marketing, saya banyak berhubungan dengan berbagai pihak. Saat bertemu dengan mereka itulah saya bisa menyerap apa saja aspirasi dan masukan yang bisa digunakan untuk perbaikan produksi berikutnya,” ungkapnya.
Tak hanya persoalan plastik, dari interaksi di lapangan itu, dia juga mengetahui isu politik dan pergantian kepemimpinan di negeri ini, mulai dari Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, hingga Prabowo Subianto. “Setiap ganti presiden selalu ada gejolak dan itu terasa di industri plastik,” terang Fajar yang aktif di Inaplas sejak 2001.
Ternyata, berkecimpung di dunia plastik dan bergabung di Inaplas membuat Fajar berinteraksi dengan pihak Bank Indonesia. Secara berkala, dia diundang untuk berdiskusi dan menceritakan perkembangan yang terjadi di industri plastik. “Termasuk saat BI ingin mengembangkan QRIS sebagai model pembayaran, kami diajak diskusi,” katanya.
Apa korelasinya antara QRIS dengan produsen plastik? “Ternyata kepraktisan orang berbelanja dengan QRIS itu memengaruhi penggunaan kemasan plastik. Lalu belanja online melalui QRIS juga membuat penggunaan plastik meningkat drastis,” tambahnya.
Keliling Dunia karena Plastik

Karena mengurusi persoalan plastik Fajar Budiono bisa berkeliling dunia, ia mewakili Indonesia mengikuti sidang tahunan dari negara satu ke negara lain. Ini adalah pengalaman yang tak ternilaibagi dia. (Foto: Dandi Juniar VOI, DI: Raga Granada VOI)
Satu lagi pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Fajar Budiono: dengan berkecimpung di asosiasi plastik nasional dan juga dunia, dia berkesempatan untuk mengunjungi banyak negara dalam rangka bersidang dan tugas lainnya.
“Benar-benar tak terbayangkan sebelumnya bisa keliling dunia. Ke Eropa, Amerika Latin, Afrika, Asia, Australia. Saya kagum dengan Rwanda; negara yang sempat porak-poranda karena perang sekarang bersih dan berkembang pesat. Ada yang menjulukinya Singapura-nya Afrika,” kata pria yang menjabat sebagai Head of Country dari World Plastic Association (WPA).
Setiap tahun, ia mengikuti persidangan WPA dari satu negara ke negara lainnya. “Jadi teman saya banyak sekali, di Indonesia tentu ada, juga dari negara-negara lain yang utusannya ikut dalam persidangan WPA,” terangnya.
Dari pengalaman berkeliling dunia itu, kata Fajar, dia bisa mengambil banyak sekali pelajaran. “Empat pilar yang harus diamankan itu: pangan, logam, petrokimia, dan energi. Saat terjadi krisis seperti sekarang, negara yang bisa mengamankan empat hal itu akan relatif tenang,” kata Fajar yang kini juga menekuni pertanian bunga krisan dan kacang.
Ke kebun bunga dan kacang itu ternyata membuat Fajar banyak bergerak. “Kalau ke kebun saya banyak gerak, minimal berjalan kaki. Itu kan olahraga secara tidak langsung,” katanya.
Selain itu, dengan terjun ke desa, ia bisa melihat langsung realitas kehidupan masyarakat perdesaan. “Petani itu kalau lagi panen memang cukup keuntungannya, tapi apakah itu bisa memenuhi kebutuhannya selama setahun sampai panen berikutnya? Banyak petani yang tak cukup, makanya kami membantu petani yang seperti ini. Bagaimana mereka bisa mengelola hasil panen agar cukup untuk kebutuhan hidup sampai musim panen berikutnya,” pungkas Fajar Budiono.
"Bahan baku bijih plastik berupa nafta kita masih 100% impor dan 70%-nya dari Timur Tengah. Kalau Selat Hormuz ditutup, bahan baku akan langka dan jadi rebutan,"